Dosen IPB University Ingatkan Tetap Waspadai Flu Babi Jenis Baru

(Foto: cgtn.com)

Bogor, MINA – Dosen IPB University dari Departemen Ilmu Penyakit Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan, Dr drh Surachmi Setiyaningsih mengingatkan agar kita waspada terkait ditemukannya virus flu babi baru di Cina yang banyak diberitakan berbagai media global pada akhir Juni 2020.

Dia menyebutkan, virus tersebut adalah virus influenza variasi baru.

“Jika pdm/09 H1N1 merupakan persilangan antara triple reassortant (TR) H1N1 dan Eurasian avian-like (EA) H1N1, maka virus yang muncul di Cina adalah percampuran antara EA H1N1, pdm/09 H1N1 dan TR H1N1,” jelas Surachmi sebagaimana keterangan tertulis kepada MINA, Rabu (8/7).

Virus yang dinamai Genotipe 4 (G4) EA H1N1 ini, ditengarai beredar pertama kali pada populasi babi di Cina sejak 2016 dengan dominasi yang meningkat dari tahun ke tahun. Temuan tersebut dimungkinkan karena Cina mempunyai program surveilans virus influenza yang komprehensif dan sistematis.

Dia mengajak kita juga mengingat kembali ke masa satu dekade yang lalu. Tepatnya tahun 2009, saat dunia digemparkan dengan munculnya virus flu baru yang menyebabkan penyakit pernafasan manusia. Pertama kali dilaporkan di Meksiko dan Amerika Serikat, penyakit tersebut berjangkit pada orang yang berkontak dengan babi yang terinfeksi.

Namun penyebaran selanjutnya dipercepat melalui penularan antar manusia, akibatnya kejadian penyakitnya meluas ke semua benua. Hal tersebut mendorong badan kesehatan dunia, WHO mendeklarasikan pandemi flu babi pada Juni 2009 dan virus penyebabnya dikenal sebagai pdm/09 H1N1.

Virus tersebut kemudian menetap dan bersirkulasi diantara virus flu musiman, sehingga WHO memutuskan mengakhiri status pandemi pada Agustus 2010.

Ketika ditanyakan keterkaitan antara virus flu babi baru ini dengan banyaknya kematian babi di Sumatra, Dr Surachmi menyampaikan, kematian pada babi yang merebak di Sumatra dan berbagai wilayah Indonesia lainnya sejak akhir 2019 disebabkan oleh infeksi virus African swine feveri (ASF) dan atau virus Classical swine fever (CSF).

“Kemungkinan karena adanya kata “fever”, menyebabkan berbagai media banyak menyebutnya sebagai “flu babi” dalam pemberitaannya,” ujarnya.

Penyakit ASF dan CSF hanya menyerang babi dan mematikan, namun tidak menular ke manusia. Sementara infeksi virus influenza pada babi umumnya menunjukkan gejala pernafasan ringan sampai sedang dan jarang mematikan, namun bisa menular ke manusia.

Mengenai bahaya infeksi G4 EA H1N1 pada manusia apabila dibandingkan dengan infeksi COVID-19, Dr Surachmi menyebutkan bukti tentang bahaya infeksi G4 EA H1N1 pada manusia masih sangat sedikit untuk bisa mengkaji keganasan virus.

Artikel yang melaporkan adanya infeksi virus pada para pekerja peternakan babi di Cina membuktikan sekitar 10 persen (35 orang) terpapar, tetapi tidak ada informasi yang jelas terkait gejala klinis pada para pekerja tersebut. Demikian juga, keganasan virus pada manusia masih belum terbukti dengan tegas.

Kajian retrospektif di Cina baru menemukan dua pasien positif G4 EA H1N1. Yakni satu orang dewasa (umur 46 tahun) menunjukkan gejala flu berat disertai pneumonia yang berujung kematian karena kegagalan sistem dan kasus pada seorang anak berumur 9 tahun hanya menunjukkan gejala flu ringan.

“Virus penyebab COVID-19 (SARS-CoV-2) mudah menular antar manusia. Tapi sejauh ini belum ada bukti adanya penularan G4 EA H1N1 antar manusia. Seperti kita ketahui, SARS-CoV-2 yang juga pertama kali muncul di Cina saat ini telah menyebar ke seluruh dunia dan menyandang status pandemi, sementara sirkulasi virus influenza G4 EA H1N1 sampai saat ini masih terbatas di Cina. Namun demikian, ada kekhawatiran G4 EA H1N1 berpotensi menjadi pandemi mengingat virus tersebut merupakan keturunan dari virus flu babi penyebab pandemi 2009,” tambahnya.

Lebih lanjut ia menjelaskanprediksi tersebut didasarkan pada temuan kelompok ilmuwan Cina melalui eksperimen laboratorium menggunakan hewan model yang menunjukkan virus ini mampu menginfeksi dan menular lewat udara secara efisien, sangat mendekati karakter pdm/09 H1N1.

Selain itu, adanya percampuran genetik pada G4 EA H1N1 mengakibatkan variasi antigenik dan reaktivitas silang yang rendah dengan virus vaksin influenza musiman, sehingga dikhawatirkan kekebalan populasi yang ada tidak mampu memberikan perlindungan.

Ditambahkan lagi bahwa dengan kemampuan G4 EA H1N1 menginfeksi manusia akan meningkatkan peluang bagi virus untuk beradaptasi lebih lanjut. Karenanya, WHO akan terus mengawasi dengan cermat perkembangan kasus ini, sekaligus menekankan pentingnya kewaspadaan kita terhadap influenza, lanjutnya.

Penerapan Biosekuriti

Di tanah air Dr Surachmi mengamati letak kandang babi yang berdekatan dengan pemukiman masih jamak ditemukan, terutama pada peternakan rakyat. Hal tersebut meningkatkan risiko penularan ke manusia sekaligus menjadi peluang terjadinya percampuran (reasorsi) gen-gen berbagai strain virus influenza yang dapat menghasilkan varian baru.

Dia menegaskan pentingnya untuk penerapan biosekuriti yang baik pada peternakan babi. Diantaranya menjaga kebersihan kandang dan lingkungan dengan melakukan sanitasi dan disinfeksi, melindungi diri saat berkontak langsung dengan babi, serta melakukan pengawasan lalu-lintas babi. Tidak hanya itu, penting juga melakukan sosialisasi tentang “flu babi” kepada masyarakat umum dan para pelaku usaha terkait.

Mempertimbangkan hal-hal tersebut, menurut Surachmi langkah-langkah kesehatan masyarakat yang terkait COVID-19, seperti kebersihan tangan, etika pernapasan yang baik, memakai masker, ditambah dengan melindungi diri saat berkontak dengan babi merupakan tindakan penting yang dapat dilakukan untuk mencegah infeksi virus pernafasan yang dapat menular lewat udara maupun kontak langsung.

Menurutnya, secara umum, riset dasar tentang biologi mikroba patogen penyebab penyakit hewan maupun manusia relatif masih sedikit di Indonesia. Sementara deteksi dini penting dilakukan untuk mitigasi. Penelitian terkait karakter virus influenza babi di IPB University belum ada, umumnya masih terbatas pada flu burung atau avian influenza di berbagai spesies unggas.

“Kajian virologi eksploratif terhadap adanya jenis virus influenza yang bersirkulasi di daerah dengan kepadatan babi yang tinggi sangat penting dilakukan. Mengingat peran babi sebagai wahana percampuran (mixing vessel) yang memunculkan strain atau varian baru virus influenza,” pungkasnya. (L/R1/RS2)

 

Mi’raj News Agency (MINA)