Jepang Tawarkan Sistem Peringatan Dini Bencana

Jakarta, MINA –    Wakil Ketua DPR RI Koordinator Bidang Industri dan Pembangunan (Korinbang) Agus Hermanto menyambut baik rencana kerjasama yang ditawarkan Jepang terkait early warning system (EWS) atau sistem peringatan dini bencana.

Indonesia berada dalam cincin gunung berapi (ring of fire) serta berada di pertemuan tiga lempeng aktif bumi. Kondisi tersebut membuat Indonesia sangat beresiko terkena bencana gempa dan tsunami.

“Dibutuhkan sebuah sistem peringatan dini bencana yang mumpuni dan bisa meminimalisir korban. Hari ini Jepang mempresentasikan dan menawarkan kerjasama untuk bisa membangun system tersebut,” kata Agus saat menerima kunjungan Presiden Direktur PT. Japan Radio Company (JRC) di ruang rapat pimpinan DPR RI, Senayan Jakarta, Jumat (1/2).

“Karena itu hadir juga Kepala BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika), serta beberapa peneliti atau ahli Gempa dan tsunami untuk mendiskusikan hal ini,” sambungnya.

Dikutip dari rilis DPR, Agus mengatakan, wilayah Negara Jepang sejatinya dalam kondisi yang tidak jauh berbeda dari Indonesia. Gempa dan tsunami terus menerus terjadi di negara tersebut. Namun Jepang terus belajar membangun sebuah sistem mitigasi bencana, sehingga pada akhirnya mampu menghasilkan sebuah sistem peringatan dini bencana yang baik. Peringatan dini yang mampu mendeteksi terjadinya gempa dan tsunami sehingga dapat meminimalisir jumlah korban jiwa dan harta benda

Dalam kesempatan itu, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, sejak dirinya dilantik menjadi Kepala BMKG pada November 2017, langkah pertama yang diambil adalah melakukan audit teknologi yang ada di BMKG. Dari hasil audit itu, bisa memetakan titik yang lemah di wilayah Indonesia, dan kebutuhan teknologi yang harus ditambah.

“BMKG berserta sejumlah pakar merancang lompatan yang targetnya hingga 20 tahun ke depan. Hal itu untuk mengantisipasi terjadinya tsunami seperti di Aceh beberapa tahun silam,” ujarnya.

Dwikorita menjelaskan, BMKG telah melakukan kerja sama dengan Jepang sejak beberapa tahun silam. Terakhir, pada 2018 BMKG dengan PT. JRC mengembangkan sistem radar tsunami yang bisa mendeteksi gelombang laut, atau dengan kata lain mampu mendeteksi secara dini tsunami dengan kecepatan yang sangat tinggi.

“Sistem tersebut baru saja diuji coba di Bantul dan Purworejo. Dengan uji coba tersebut akan dievaluasi keberhasilan dari sistem baru dengan menggunakan radar,” pungkasnya. (R/R05/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)