Dr. Enes Bayrakli : Parlemen Eropa Harus Nyatakan Islamofobia Sebagai Rasisme

Dr. Enes Bayrakli dari Yayasan Kajian Politik, Ekonomi, dan Sosial (SETA) yang berbasis di Ankara (Foto: Anadolu)

Istanbul, MINA – Dr. Enes Bayrakli dari Yayasan Kajian Politik, Ekonomi, dan Sosial (SETA) yang berbasis di Ankara mengatakan, Uni Eropa harus mengakui Islamofobia sebagai salah satu bentuk rasisme.

Menurutnya, kekhawatiran dan pertimbangan politik, menyebabkan para politisi Eropa tidak siap untuk menangani masalah Islamofobia dengan serius.

“Saya tidak melihat dalam waktu dekat ini akan terjadi islamofobia ditangani dengan serius, namun itu harus terjadi,” kata Bayrakli kepada Anadolu Agency di sela-sela konferensi tentang Islamofobia di Universitas Sabahattin Zaim, Istanbul, yang dikutip MINA, Ahad (8/4).

Bayrakli mengatakan, peningkatan kebijakan dan serangan Islamofobia telah terlihat di Eropa, terutama setelah awal perang saudara Suriah.

Menurut European Islamoppobia Report 2017, gelombang Islamofobia yang meningkat telah terjadi di Eropa.

Laporan itu mengungkapkan, 908 kejahatan, mulai dari serangan verbal dan fisik hingga upaya pembunuhan, menargetkan Muslim di Jerman, serta 664 di Polandia, 364 di Belanda, 256 di Austria, 121 di Prancis, 56 di Denmark, dan 36 di Belgia.

“Apa yang kita lihat adalah bahwa wacana sayap kanan yang islamophobi sekarang mendominasi  politik Eropa, meskipun yang paling kanan tidak sedang memegang  kekuasaan di sebagian besar negara-negara Eropa, tapi wacana mereka sudah mengatur banyak negara Eropa,” kata Bayrakli.

Menurutnya, mayoritas politisi, media dan elit politik menolak gagasan Islamofobia. “Pengakuan politik dan peradilan terhadap Islamofobia adalah sangat penting,” katanya.

Dia juga mengatakan, Jerman baru-baru ini mulai merekam serangan Islamofobia sebagai kategori terpisah.

“Mereka telah mencatat lebih dari 900 serangan dalam satu tahun. Sekitar 100 masjid telah diserang di Jerman dalam satu tahun. Setiap tiga hari satu masjid telah diserang di Jerman. Itu cukup banyak,” katanya.

“Mempertimbangkan data-data kita tidak melihat kemarahan media dan politisi. Mereka tetap diam tentang masalah ini karena yang mendominasi adalah wacana sayap kanan,” kata Bayrakli. (T/R03/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)