Dua Kegembiraan Bagi Orang Yang Berpuasa

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Redaktur Senior Kantor Berita MINA

Rasa lapar yang melemahkan, haus yang sangat, dan keterbatasan pergerekan karena lemas, dalam menjalankan ibadah puasa Ramadhan, akan segera berakhir manakala adzan maghrib berkumandang.

Semua itu terobati dengan kegembiraan menghadapi hidangan berbuka puasa. Es buah yang menyegarkan, gorengan yang gurih, nasi dengan segala lauknya, plus secangkir kopi bagi yang menggemarinya. Cukup untuk membayar kepayahan seharian.

Kebahagiaan seperti itu, disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

 لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ

Artinya, “Bagi orang yang berpuasa akan meraih dua kegembiraan, kegembiaran ketika berbuka puasa (berhari raya), dan kegembiraan ketika bertemu Tuhannya,” (HR Muslim).

Kegembiraan saat berbuka, tentu karena telah terbebas dari tanggungan perintah Allah. Gembira juga karena  dapat menyelesaikan puasa seharian dengan sukses.

Lalu terucaplah untaian doa:
اَللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ، وَ عَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ

Artinya: Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa dan dengan rezeki-Mu aku berbuka.” (HR Abu Dawud. Hadits Dha’if menurut al-Albani).

Pada hadits lain disebutkan :

ذَهَبَ الظَّمَأُ، وابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَاللهُ

Artinya: Telah hilanglah dahaga, telah basahlah kerongkongan, semoga ada pahala yang ditetapkan, jika Allah menghendaki”. (HR Abu Dawud. Hadits Shahih).

Bermakna kegembiraan juga berhari raya (fitri), kembali pada kesucian diri. Memang begitulah hakikatnya, orang-orang yang berpuasa hendaklah memiliki kegembiraan manakala dapat membersihkan dirinya dari segala dosa dan kemaksiatan. Diganti dengan kegemaran beribadah dan beramal shalih.

Kegembiraan kedua adalah saat bertemu Allah, sebab akan mendapatkan balasan terbaik dari ibadah puasa Ramadhan.

Tentu ia akan mendapatkan ganjaran, pujian, dan keberuntungan dapat berjumpa dengan Allah dalam keadaan diridhai-Nya.

Itulah kegembiraan atau kebahagiaan sebagai tanda keimanan yang terpancang dalam hati orang-orang yang berpuasa Ramadhan.

Maka, kegembiraan itu hendaknya terus berlangsung manakala melaksanakan perintah-perintah-Nya dan meninggalkan larangan-larangan-Nya.

Bahagia tanpa beban, mengerjakan dengan penuh kekhusyu’an segala amal ibadah sehari-hari.

Semoga kita termasuk orang-orang yang bergembira manakala dapat menyelesaikan ibadah puasa Ramadhan dan ibadah-ibadah lainnya, dengan berharap ridha dan ampunan-Nya. Aamiin. (A/RS2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)