Dua Kenikmatan Besar di Bulan Ramadhan

Oleh: Rendy Setiawan, Jurnalis Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Allah Ta’ala berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيْعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي اْلأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul dan Ulil Amri di antara kamu, maka jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul jika kamu beriman kepada Allah dan hari Akhirat. Yang demikian itu adalah yang lebih baik dan sebaik baiknya penyelesaian.” (Qs. An-Nisa [4]: 59)

Hari ini kaum Muslimin sedang menjalankan ibadah shaum Ramadhan dan telah memasuki hari ke 15. Tak terasa, sebentar lagi bulan yang agung ini akan meninggalkan kita sebagai Mukmin yang bertaqwa, sebagaimana yang diinginkan oleh Allah Ta’ala ketika memerintahkan orang-orang yang beriman untuk menjalan shaum Ramadhan agar menjadi orang yang bertaqwa. (Q.S. Al-Baqarah [2]: 183)

Selain untuk meningkatkan seseorang kepada derajat taqwa, Allah Ta’ala juga memberikan kabar gembira lainnya kenikmatan dan keberkahan yang akan banyak dirasakan oleh kaum Muslimin pada bulan ini. Menurut Ali Ash-Shabuni, hal itu terjadi karena tujuan dari hari-hari yang ditentukan tersebut yaitu sebagai keringanan dan rahmat bagi umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Ramadhan, menyimpan dua nikmat besar yang nyata-nyata dirasakan oleh seluruh kaum Muslimin, yaitu nikmat persatuan dan nikmat persaudaraan. Pada bulan ini, umat Islam layaknya menemukan kembali tali pengikat persatuan, persaudaraan, dan saling merasakan satu sama lainnya apa yang dirasakan oleh saudaranya sesama umat beriman.

Bulan Persatuan

Ayat yang disampaikan dalam pembuka tulisan ini cukup menjadu acuan umat Islam untuk bersatu, dan Ramadhan adalah momentum yang pas untuk menyatukan kaum Muslimin, sekaligus mengingatkan mereka, bahwa Tuhan mereka adalah satu, agama mereka pun satu, kiblat mereka sama, dan tujuan mereka juga satu.

Lebih dari itu, Ramadhan juga bisa dijadikan tonggak untuk mengokohkan kedudukan mereka sebagai ummah wahidah (umat yang satu) yang berbeda dengan umat manusia lainnya. Puasa Ramadhan seharusnya juga mengingatkan mereka, bahwa umat Islam tidak boleh hidup dalam keterpecahbelahan; dimana sekarang ini kaum Muslimin terpecah belah menjadi puluhan golongan, etnis, hingga bangsa yang sangat lemah.

Puasa Ramadhan mestinya juga mengingatkan, bahwa kita tidak boleh hidup tanpa khilafah. Karena khilafah yang akan menyatukan umat Islam, kitapun tidak boleh terus menerus hidup tanpa penerapan syari’at Islam yang menjadikan mereka mulia dan bahagia.

Bulan Persaudaraan

Ketika setiap kaum Muslimin telah merasakan nikmatnya hidup dalam persatuan di bulan Ramadhan, maka mereka juga akan merasakan nikmatnya tali persaudaraan yang amat erat. Tali persaudaraan yang dimaksud adalah terjadinya peningkatan standar kehidupan umat Islam secara umum melalui zakat fitrah dan fidyah.

Adanya zakat fitrah dan fidyah adalah bukti bahwa ibadah puasa yang berdimensi sangat individual, menekankan pendidikan karakter, perlu ditopang dan disempurnakan dengan kemampuan aktualisasi diri melalui silaturahim dan membangun kebersamaan serta kepedulian antara sesama umat Islam untuk membangun sebuah peradaban manusia.

Ramadhan merupakan sebuah momentum perubahan bersama, menggalang persatuan, kebersamaan dan persaudaraan serta silaturahim. Dan akan semakin kuat jika diteruskan dan dilanjutkan di hari-hari pasca Ramadhan. Bukan dihentikan bersamaan dengan tabuhan beduk lebaran dan gema takbir di hari raya. Saat itu semua dilakukan, akhirnya setiap orang akan merasa seperti satu saudara.

Allah Ta’ala berfirman,

وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ

Artinya: “Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.” (Q.S. Al-Qashash: 77).

Dalam ayat lain dikatakan,

يُرِيدُ ٱللَّهُ بِڪُمُ ٱلۡيُسۡرَ وَلَا يُرِيدُ بِڪُمُ ٱلۡعُسۡرَ وَلِتُڪۡمِلُواْ ٱلۡعِدَّةَ وَلِتُڪَبِّرُواْ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَٮٰكُمۡ وَلَعَلَّڪُمۡ تَشۡكُرُونَ…

Artinya: “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur“. (Q.S. Al-Baqarah [2]: 185).

Bersyukur atas karunia iman dan berbagai kebaikan yang Allah Ta’ala berikan. Bersyukur atas karunia bersentuhan dengan komunitas kebaikan. Bersyukur atas karunia kelapangan rizki, ilmu dan kondisi sosial. Bersyukur atas banyak nikmat yang tiada pernah diketahui banyaknya. Nikmat dan karunia yang bahkan jarang atau tak pernah diminta, namun Allah Ta’ala tetap dan selalu menganugerahkannya. Kepada siapa saja. Yang taat dan maksiat. Yang rajin atau malas. Yang lalai atau ingat. Semua mendapatkan rizki dan karunia.

Saat Allah Ta’ala turunkan rahmat-Nya dan berharap kita dapat tersentuh keberkahan tersebut maka sebagai tandanya bisa terukur secara mandiri. Sudahkah diri kita menjadi lebih penyayang dengan keluarga, kerabat dan masyarakat di sekitar kita? Sudahkah kita saling memberi di antara sesama Muslim sebagai wujud persaudaraan?

Jika jawabannya iya maka kita tidak terlalu malu untuk mengharap kasih sayang Allah Ta’ala.

Demikianlah Ramadhan sebagai bulan persatuan dan persaudaraan. Semoga, kita semua bisa merasakan dua kenikmatan besar yang Allah Ta’ala berikan melalui bulan yang penuh berkah ini, sehingga menjadi pelecut kita semua untuk tetap hidup dalam persatuan dan persaudaraan di bulan-bulan yang lainnya. Wallahu A’lam. (P011/P4)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)