Dubes Al-Dhaheri: Hubungan Bilateral UEA-Indonesia Menuju Kemitraan Strategis

Duta Besar Uni Emirat Arab (UEA) untuk Indonesia dan Asean, Y.M. Abdulla Salem Al-Dhaheri saat menyampaikan pidato Pembukaan Festival Timur Tengah (FTT) 2022 di Auditorium Gedung 4 FIB UI Depok, Senin (28/11/2022).(Foto: Rana/MINA)

Depok, MINA – Duta Besar Uni Emirat Arab (UEA) untuk Indonesia dan Asean, Y.M. Abdulla Salem Al-Dhaheri menekankan kembali hubungan bilateral antara UEA dan Indonesia yang terus meningkat hingga kemitraan strategis.

“Hubungan bilateral ini telah mengalami perkembangan yang luar biasa berkat hubungan yang kuat antara pemimpin kedua negara ini,” tegas Dubes Al-Dhaheri saat menyampaikan pidato Pembukaan Festival Timur Tengah (FTT) 2022 di Auditorium Gedung 4 FIB UI Depok, Senin (28/11).

Menurutnya, perkembangan hubungan bilateral ini tercermin dalam kunjungan timbal balik di tingkat tertinggi, yaitu kunjungan bersejarah Sheikh Mohammed bin Zayed Al-Nahyan ke Indonesia pada 24 Juli 2019. Kemudian, Presiden Jokowi berkunjung ke Uni Emirat Arab pada 2-4 November 2021 dan 1 Juli 2022 lalu.

“Kunjungan ini mencapai puncaknya dengan penandatanganan perjanjian ekonomi dan perdagangan senilai $32 dolllar miliar di bidang pendidikan, kesehatan, energi, pelabuhan, lingkungan, pertanian, urusan Islam dan wakaf,” ujar Dubes Al-Dhaheri.

Dia menyampaikan, kunjungan Presiden UEA Mohamed Bin Zayed Al-Nahyan baru-baru ini dan peresmian Masjid Agung Sheikh Zayed di Solo pada Senin (14/11/2022) ini merupakan titik balik baru dalam perjalanan hubungan bilateral antara kedua negara, dan menancapkan pondasi-pondasi yang kuat bagi kerjasama lebih lanjut di sejumlah sektor vital dan strategis.

Bukti lain kedekatan hubungan kedua negara adalah penamaan Jalan Presiden Joko Widodo di Abu Dhabi, UEA, yang diresmikan pada 19 Oktober 2020. Jalan itu sepanjang 2,5 kilometer di ruas jalan utama yang membelah Abu Dhabi National Exhibition Center (ADNEC) dan kawasan Kedutaan Besar.

Sebaliknya, Indonesia juga mengganti nama Jalan Tol Layang Jakarta-Cikampek atau Tol Jakarta-Cikampek II Elevated menjadi Jalan Layang Sheikh Mohammed bin Zayed (MBZ).

Dubes Al-Dhaheri menyampaikan Kedutaan Besar Uni Emirat Arab sepenuhnya siap untuk bekerja sama dengan Universitas Indonesia dan lembaga pendidikan lainnya dalam rangka meningkatkan kerjasama budaya dan pendidikan untuk berkhidmat pada dua negara yang bersahabat ini.

Ikatan Keluarga Asia Barat (IKABA) selaku Himpunan Mahasiswa Jurusan Sastra Arab Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) menyelenggarakan Festival Timur Tengah 2022.

Kegiatan ini yang berlangsung selama empat hari, Senin-Kamis, 28 November – 1 Desember 2022, di Auditorium Gedung 4 FIB UI Depok, mengusung tema “Mengenang Sejarah Arab untuk Masa Depan yang Lebih Baik.”

Warisan Budaya UEA

Selain menyampaikan perkembangan hubungan UEA dengan Indonesia, Dubes Al-Dhaheri menyampaikan kekayaan warisan budaya di UEA.

Menurutnya, Uni Emirat Arab memiliki warisan budaya yang luar biasa yang tercermin dalam nilai-nilai dan tradisi masyarakatnya, yang tetap kokoh melestarikan budaya seiring dengan perkebangan sejarah yang silih berganti.

“UEA Sangat kaya akan warisan Arab-Islam, yang dapat kita lihat dalam adat, tradisi dan perilaku masyarakatnya, serta peninggalan-peninggalan Islam dan Arab, yang mendampingi keberlangsungan negara,” ucap Dubes Al-Dhaheri.

Sebagai contoh, lanjut dia, tradisi-tradisi Emirat atau persatuan tercermin dalam gaya hidup sosial dan keagamaan, misalnya pada perkawinan, budaya makanan, kerajinan tangan dan berbagai kesenian rakyat serta berbagai macam peninggalan yang menggambarkan sejarah seperti istana, benteng,  masjid dan lain-lain.

Meskipun terjadi transformasi Emirat dari beberapa suku nelayan di pantai Teluk Arab atau di pusat populasi padang pasir untuk tujuan penggembalaan, menjadi negara modern dan maju yang telah menjadi salah satu negara terindah di dunia. Namun, Emirat masih memegang teguh warisan kuno dan sejarah otentik, dan orang-orang Emirat bangga dengan warisan mereka yang diwarisi dari kakek dan ayahnya.

“Mereka berusaha melindungi anak-anak generasi muda dari hilangnya identitas, dan melupakan Warisan Arab dan Islam di tengah lingkungan yang berbeda mencakup lebih dari 200 kebangsaan dari berbagai negara di dunia,” pungkasnya.(L/R1/P1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)