Dubes Chambard: Indonesia Mitra Penting Perancis di Kawasan Asia Tenggara

Duta Besar Prancis untuk Indonesia dan Timor Timur, Olivier Chambard.(Foto: Kedutaan Besar Prancis di Jakarta)

Jakarta, MINA – Indonesia merupakan mitra penting Perancis di kawasan Asia Tenggara. Kedua negara terikat tali persahabatan yang diperkuat lagi pada 2011, dalam bentuk kemitraan strategis yang didasari nilai-nilai yang dianut bersama, yakni demokrasi, hak asasi manusia, toleransi dan pluralisme, serta konsep tatanan internasional yang terjamin dan bersandar pada hukum.

Hal tersebut dinyatakan Duta Besar Perancis untuk Indonesia dan Timor Timur, Olivier Chambard, melalui pesan menyambut Hari Nasional Perancis pada Selasa (14/7).

Hari Nasional Perancis disebut juga Peringatan Hari Bastille digelar setiap tanggal 14 Juli. Hari Bastille hari di mana penyerbuan benteng Bastille pada 14 Juli 1789, yang meluncurkan Revolusi Perancis.

“Hingga saat ini kita bersama-sama terus mengupayakan agar nilai-nilai dan jalinan tersebut semakin kuat dan erat,” tegas Dubes Chambard.

Menurutnya, demi menghadapi perkembangan tantangan globalisasi, perdamaian dan keamanan, apakah mengenai perlawanan terhadap perubahan iklim, pemberantasan terorisme, radikalisme dan ekstremisme, perlucutan senjata, non-proliferasi senjata pemusnah massal, maupun tantangan kesehatan, kedua negara mengakui peran pokok yang dimainkan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan lembaga-lembaga multilateral internasional lainnya.

“Di kawasan Indopasifik, Prancis dan Indonesia mempromosikan visi yang sama, yakni sebuah ruang inklusif dan terbuka, di mana Perancis ingin ambil bagian dalam upaya-upaya untuk menjaga stabilitas dan pertumbuhan kawasan,” ujar Dubes Chambard.

Peranan tersebut dengan meningkatkan kemitraannya dalam tiga sektor yakni kerja sama maritim, konektivitas dan pembangunan berkelanjutan (Tujuan Pembangunan Berkelanjutan) yang sepenuhnya sejalan dengan prioritas Indonesia dan ASEAN, sebagai pemain utama arsitektur regional.

Dia mengatakan, krisis Covid-19 yang sulit diduga, mematikan dan berlangsung lama menyadarkan kita bahwa untuk menghadapi sebuah pandemi, tindakan kolektif adalah satu-satunya respons yang efektif.

Penguatan multilateralisme dan kerja sama internasional sangat diperlukan, seperti yang dilakukan dengan penuh kesungguhan oleh Prancis dan Indonesia, agar kita dapat mencegah dan mengatasi krisis-krisis di masa mendatang dengan lebih baik.

“Ini merupakan proyek yang ambisius dan menuntut, yang harus digerakkan oleh nilai-nilai bersama. Untuk itu, semangat 14 Juli yang kita rayakan di seluruh Perancis dapat memberikan dorongan pada gelora ini,” imbuhnya.

Sebagai anggota G20, lanjut Dubes Chambard, Perancis dan Indonesia bekerja sama untuk menemukan respon yang terkoordinasi, demi memulihkan perekonomian dunia, perdagangan dan pasar modal yang sudah terpukul oleh perang dagang antara dua negara kekuatan ekonomi terbesar di dunia.

“Sebanyak 200 anak perusahaan Perancis yang berada di Indonesia tetap hadir selama krisis ini dan akan meneruskan investasi mereka. Mereka dapat memberikan banyak tawaran di berbagai sektor baru pasca Covid-19, terutama di sektor kesehatan dan digital,” katanya.

Dubes Chambard menyatakan, guna mempermudah pemulihan ekonomi, perundingan antara Indonesia dan Uni Eropa dalam rangka tercapainya sebuah kesepakatan perdagangan bebas (UE-CEPA) menjadi sangat penting, lebih dari sebelumnya.

Prancis merupakan pemberi bantuan bilateral terbesar ketiga bagi Indonesia. Bank pembangunan negara Prancis, Badan Prancis untuk Pembangunan (AFD) telah menawarkan komitmen pendanaan sebesar 110 juta USD untuk mendukung upaya Indonesia dalam pemberantasan Covid-19.

“Kami siap untuk berbuat lebih banyak lagi dengan menggunakan beragam instrumen pendanaan kami. Di sini juga, adaptasi akan menjadi kata kunci, di semua sektor,” ujarnya.

Perancis seperti halnya Indonesia, dapat membanggakan industri budayanya yang kuat, dan dunia seni yang dinamis.

Meskipun terjadi krisis kesehatan yang menyebabkan keempat Institut Prancis (IFI) dan 2 Alliance Française di Indonesia ditutup bagi publik, ratusan murid di Indonesia tetap dapat mengikuti kursus-kursus baru yang diselenggarakan secara daring, dan masyarakat luas tetap dapat menikmati kegiatan-kegiatan budaya melalui media digital.

Perayaan 70 Tahun Hubungan Indonesia-Perancis

Selain itu, Dubes Chambard juga menyatakan antara tanggal 2 dan 15 November mendatang, sebagai rangkaian perayaan 70 tahun hubungan diplomatik antara Indonesia dan Perancis, proyek “vIDeo//heritage.fr” akan mempersembahkan sebuah pameran multimedia yang ambisius secara serentak, dari enam monumen simbolik di enam kota Indonesia (Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Medan dan Ubud).

Sejumlah videografer Indonesia dan Perancis berkolaborasi dalam proyek ini yang rencananya akan diresmikan dari Museum Asia Afrika di Bandung, sebuah tempat bersejarah bagi Republik Indonesia

Pada sektor pendidikan, SMA Labschool Cibubur membuka kelas dwibahasa Perancis-Indonesia pertama pada tahun ajaran baru ini. Selain mengikuti kurikulum Indonesia, para murid akan menerima pelajaran bahasa Perancis dan satu mata pelajaran ilmiah akan disampaikan dalam bahasa Perancis.

“Pada akhir masa sekolah menengah atas kelak, para murid kelas dwibahasa ini sudah siap untuk menempuh pendidikan tinggi di bidang ilmiah baik di perguruan tinggi di Indonesia maupun di Prancis,” jelasnya.

Dubes Chambard berharap di masa mendatang jumlah kelas dwibahasa Indonesia – Perancis semakin banyak.

Prancis juga berkomitmen untuk mendukung secara aktif program baru “Kampus Merdeka” yang diluncurkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, yang memungkinkan para mahasiswa Indonesia mendapatkan pendidikan dan pengajaran inovatif yang diarahkan pada teknologi baru.

“Dengan demikian Perancis turut berkontribusi dalam reformasi sumber daya manusia yang dicanangkan oleh Presiden Jokowi,” ujarnya.

Kekayaan hubungan antara Indonesia dan Perancis juga terlihat di berbagai bidang lainnya, seperti riset ilmiah, pertanian maupun arkeologi, di bidang pertahanan dan juga keamanan.

Tahun ini, pada kesempatan peringatan 70 tahun hubungan diplomatik antara Indonesia dan Perancis, momentum baru diberikan kepada kemitraan strategis dan kedua negara terikat erat untuk memenuhi tantangan nasib kolektifnya, digerakkan oleh nilai-nilai bersama dan semangat universal 14 Juli.

“Saya yakin bahwa manfaat yang kita rasakan masing-masing akan sesuai dengan harapan kita,” pungkas Dubes Chambard.

Tahun ini, untuk pertama kalinya sejak akhir Perang Dunia II (1945), Avenue des Champs-Elysées di Paris tidak diramaikan oleh parade militer untuk menyambut Hari Nasional Perancis atau Peringatan Hari Bastille pada tanggal 14 Juli.

Mengingat pandemi Covid-19 yang tengah merebak saat ini, perayaan Hari Nasional Perancis di luar Perancis juga tidak dapat diselenggarakan dalam format yang biasa.(L/R1/RI-1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)