Dubes Hajriyanto : Seperti Indonesia, Toleransi di Lebanon Cukup Tinggi

Duta Besar Republik Indonesia untuk Lebanon Hajriyanto Y Thohari saat wawancara virtual bersama MINA.

Beirut, MINA – Duta Besar Republik Indonesia untuk Lebanon Hajriyanto Y Thohari mengatakan, seperti di Indonesia, Lebanon yang merupakan negara dengan keanekaragaman sekterian memiliki tingkat toleransi yang cukup tinggi.

“Dalam kehidupan masyarakat Lebanon toleransi cukup tinggi, di Beirut ada enam masjid besar yang dibangun sekitar tahun 2006. Masjid besar berdampingan dengan gereja yang juga sama besarnya dan ini menjadi ikon dari Beirut,” ujar Hajriyanto dalam kesempatan wawancara bersama MINA pada Jumat (13/11).

Masjid itu sendiri bernama Mohammad Al-Amin yang telah mendominasi langit Beirut sejak lebih dari 10 tahun lalu dan Katedral St George yang memiliki empat menara lonceng setinggi 72 meter, sama tinggi dengan empat menara masjid itu.

“Tidak ada konflik agama di Lebanon. Masyarakatnya saling menghargai pilihan satu sama lain. Tingginya rasa menghargai dan kebebasan itu menjadikan Lebanon aman dari kriminalitas,” ujarnya.

Karena keanekaragaman sekterianya, Lebanon menganut sebuah sistem politik khusus, yang dikenal sebagai konfensionalisme yang dimaksudkan untuk membagi-bagi kekuasaan serata mungkin di antara aliran-aliran agama yang berbeda-beda

Lebanon memiliki beberapa agama utama yang berbeda. Negara tersebut memiliki masyarakat dengan perbedaan agama terbanyak dari seluruh negara di Timur Tengah, yang meliputi 18 sekte agama yang disahkan. Dua agama utamanya adalah Kristen (Greja Maoronit, Gereja Ortodoks Yunani, Gereja Ortodoks Yunani Melikit, Greja Protestan, Gereja Apostolik Armenia) dan Islam (Syiah dan Sunnu). Terdapat juga agama minoritas Druze, yang berada di bawah divisi politik Lebanon (Alokasi Kursi Parlemen Lebanon) komunitas Druze dijadikan sebagai salah satu dari lima komunitas Muslim Lebanon (Sunni, Syiah, Druze, Alawi, dan Ismaili). (L/R7/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)