Dubes RI untuk UEA: Banyak Peluang Kerjasama Indonesia-UEA

Hubungan Indonesia dan Uni Emirat Arab (UEA) semakin erat, banyak peluang kerjasama yang tebuka lebar bagi kedua negara. Kedutaan Besar RI untuk UEA sendiri menargetkan investasi langsung senilai US$ 12 miliar dari UEA hingga akhir tahun 2021. Pemerintah UEA juga berminat untuk berinvestasi di Indonesia dalam berbagai sektor diantaranya infrastruktur, kesehatan, telekomunikasi dan energi terbarukan.

Untuk mengetahui lebih lanjut  perkembangan hubungan antara Indonesia dan UEA, Tim wartawan Kantor Berita MINA,   melakukan wawancara dalam sesi Ambassador Talks bersama Duta Besar RI untuk UEA H.E. Husin Bagis pada Sabtu (23/10) secara virtual.

Pada kesempatan ini Dubes yang pernah menjabat sebagai atase perdagangan selama 14 tahun itu mengungkapkan bagaimana kedekatan antara Indonesia dan UEA yang kemudian diimplementasikan dalam bentuk kerjasama di berbagai bidang.

Kedekatan hubungan juga terlihat di mana UEA baru saja membangun masjid replika Sheikh Zayed Grand Mosque di Solo, Jawa Tengah, di lahan seluas 2,9 hektare.

Indonesia kemudian juga mengganti nama Jalan Tol Jakarta-Cikampek (Japek) II Elevated menjadi Jalan Layang Sheikh Mohamed Bin Zayed.

Lengkapnya, berikut petikan wawancara MINA dengan Dubes Husin:

MINA: Bagaimana perkembangan hubungan bilateral Indonesia dan UEA ?

Dubes Husin: Pada 2019 awal banyak raja, presiden dan pejabat-pejabat Arab ke Jakarta. Tapi orang Jakarta bilang lho kenapa Abu Dhabi belum, padahal raja Saudi dan lainnya sudah beberapa kali.

Juli 2019 beliau akhirnya berkenan berkunjung ke Indonesia. Waktu berkunjung beliau ke Indonesia, setahu saya kurang lebih 8 jam Putra Mahkota Abu Dhabi Syeikh Mohamed Bin Zayed, setengah waktunya hanya bicara berdua dengan Presiden Joko Widodo.

Memang banyak pertemuan sampai dua hari atau tiga hari, namun waktu bertemu presiden itu biasanya pendek.

Sejak pesawat mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, Pak Jokowi jemput di Bandara, dari bandara tidak dibawa langsung ke Istana Bogor, tapi dibawa muter-muter dulu di Jakarta, kemudian di Bogor pertemuannya juga hampir dua jam.

Sepulang dari Indonesia, beliau menceritakan kesan-kesan positif tentang Indonesia di negaranya.

Kemudian setelah itu muncul era baru yaitu pembangunan gedung KBRI. Jadi kita katakan sama mereka, saya mau beli lahan untuk bangun gedung KBRI, tapi justru oleh beliau dikasih lahannya, proyek pembangunan KBRI juga, mudah-mudahan isinya sekalian, saat ini sudah 35 persen proyeknya selesai, targetnya Agustus tahun depan tuntas gedung KBRI yang baru. Itu salah satu yang awal-awal.

Kedua, anda akan akan lihat ada juga Masjid Presiden Joko Widodo di Abu Dhabi, apalagi ada Syeikh Zain bin Mosque di Solo yang merupakan replikanya dari masjid di Abu Dhabi, cuma ukurannya lebih kecil, kalau di Solo kurang lebih untuk 10 ribu jamaah kalo di Abu Dhabi lebih banyak. Nah ini kedekatan-kedekatan yang terus berlanjut.

Kemudian, datanglah Pak Jokowi ke Abu Dhabi bulan Januari 2020.  Pak Jokowi sampaikan bahwa “Bulan Juli Anda ke Jakarta, saya merasakan ini hubungan yang paling dekat, mesra, Indonesia dengan negara di luar Indonesia” dan saling menyapa dengan sebuatan sebagai “Akhi” atau brother, kan kalau orang Arab panggil “Akhi” itu lebih indah, lebih sangat bersahabat.

Saya kemudian sering sampaikan ke Jakarta bahwa kedekatan presiden ini harus diimplementasikan dengan nyata melalui investasi, perdagangan, bukan hanya dekat saja.

Akhirnya ada follow up-nya. Sudah banyak yang meningkat. Hari ini diketahui sudah banyak proyek-proyek yang berjalan di Jakarta. Bahkan Pak Jokowi akan landing nanti tanggal 3 November di Abu Dhabi sehari dan tanggal 4 November di Dubai sehari. Kita harapkan pada waktu Pak Jokowi tanggal 3 November di Abu Dhabi, tuntas beberapa agreement di bidang kerjasama investasi, terutama dengan beberapa perusahaan di UAE, target antara 8 sampai 12 miliar dolar sedang kita kejar sekarang.

Hubungan keduanya sangat erat. Banyak yang diminta pak Jokowi setahu saya susah ditolak Pemimpin UAE. Sebagai contoh, Pak Jokowi lewat sambungan telepon bilang kita punya Indonesia Investment Authority (INA) yang dibina Abu Dhabi Investmen Authority (AIA), waktu itu belum ada kepastian masih butuh dana yang besar, kemudian UEA langsung invest US$ 10 miliar.

MINA: Lalu apa saja tantangan yang dihadapi Indonesia di tengah peluang kerjasama dengan UEA?

Dubes Husin: Sedangkan tantangan kita ke depan adalah bagaimana kita bisa memberikan proyek-proyek yang menarik buat mereka. Uang sudah ada, cuma proyeknya yang harus disiapkan sama kita.

Saya sering telepon ke BUMN, swasta, semua sudah saya hubungi, gimana anda menyiapkan proyek-proyek yang menarik yang saling menguntungkan, Insha Allah mereka deal.

Total perdagangan Indonesia-UEA sejak beberapa tahun terakhir kisarannya sekitar US$ 3,5 miliar. 3,5 miliar dolar artinya, Indonesia ekspor ke UEA setiap tahunya 1,5 miliar dolar, sementara kita impor 2 miliar dolar, totalnya 3,5 miliar.

Saat ini juga sedang dibuat perjanjian perdagangan Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) antara kedua negara dan diperkirakan awal tahun depan akan segera selesai. Perjanjian perdagangan akan memberikan kemudahan dalam meningkatkan volume perdagangan antar kedua negara.

MINA: Bagaimana perkembangan hubungan perdagangan antara Indonesia dan UEA, ekspor produk apa yang berpotensi masuk ke pasar UEA?

Dubes Husin: Pengusaha UMKM Dubai ini pasarnya menarik untuk ekspor karena negaranya kecil penduduknya sedikit, berarti butuh impor yang banyak.

Barang-barang semua bisa dijual di Dubai ini kalo punya daya saing, kalo tidak punya daya saing sulit.

Daya saing itu dalam arti harga, kemasan, cara pembayarannya, transportasinya, packaging, semuanya lah. Dan umumnya barang-barang yang masuk ke Dubai itu persaingannya ketat dari negara-negara sekitarnya, dari China, India, Turki, semuanya masuk ke Dubai dari Dubai baru diekspor ke negara Timur Tengah lainnya dan Eropa Timur. Jadi daya saing itu kata kuncinya.

Saya sering menyampaikan ke teman-teman di Indonesia bagaimana meningkatkan dayang saing dan juga saya sampaikan ke teman-teman UKM, di Indonesia itu ada LuLu Hypermarket, sekarang ada 5, mungkin 2 bulan lagi ada 7

Kita minta Lulu juga sebagai jendela ekspor Indonesia untuk UKM. Jadi para UKM bisa pasarkan barangnya ke LuLu Jakarta, Kalo bisa masuk ke LuLu Jakarta berarti bisa masuk ke dunia. Kalo belum masuk kenapa belum masuk nanti di ina sama si LuLu Jakarta, diberi masukan ‘oh barang anda kemasannya kurang bagus, anda terlalu mahal,’ dan sebagainya. Jadi ini saya sampaikan agar kita bisa meningkatkan ekspor

MINA: Bagaimana perkembangan hubungan bilateral Indonesia-UEA di bidang pendidikan dan program pengiriman imam Masjid?

Dubes: Ada usul pengirian imam masjid, kan aneh ya, biasanya orang Arab jadi imam ke masjid-masjid di Jakarta, imam dari Madinah pada bula Ramadhan terutama. Tapi ini kebalik, orang Indonesia mengimami orang Arab, itu ada di UEA. Ceritanya begini saya awal bertugas sebagai Dubes RI untuk UEA 2016-2017. Sering ketemu menteri agamanya UEA. Saya bilang sama dia, saya sering datang ke masjid-masjid dekat rumah saya di Abu Dhabi, tapi saya tidak menemukan imamnya yang Indonesia, ada dari Mauritania, Bangladesh, Mesir, Syria, Yaman.

Saya bilang padahal 270 juta penduduk Indonesia, 1 persennya hafidz. Banyak orang Indonesia hafidz dari pada UAE, harusnya bisa dong. Dengan semua cara lobi, akhirnya setuju melakukan seleksi di Jakarta, dapatlah waktu itu 15 orang tahun pertama, tapi karena banyak yang sudah lama di sini ingin pulang, dan menikah, hari ini tinggal 12, setelah ada imam dari usaha kami, kami ketemu Pak Jokowi tahun 2020, waktu itu saya sarankan ke Pak Jokowi agar minta ke UAE kirim 200 imam tapi untuk 2022. Alhamdulilah Pak Jokowi sampaikan ke Dubes, UEA mau terima 200 imam, kemudian disampaikan ke Kemenag RI.

Beberapa waktu lalu sudah seleksi imam masjid dan akhir bulan ini ada 26 imam masjid yang akan diberangkatkan ke UEA dan setelah itu ada 25 lagi berikutnya, jadi ada dua tahap kurang lebih 50 orang yang akan berangkat. Kalo bisa sebelum akhir tahun depan sudah ada 200 imam yang dikirim.

Imam di sini bagus, kami berharap setelah menjadi imam masjid di sini selama 2 tahun atau empat tahun, pulang ke Indonesia sudah punya pengalaman.

Adapun Kerjasama pendidikan, beberapa bulan lalu sudah kita MoU bidang kerjasama pendidikan, sudah ada action plan nya juga, pekan depan ada rencana akan video conference UGM kerjasama dengan Khalifa University, jadi habis dengan UGM kita buat dengan IPB, UI. Semua universitas kita buat untuk kerjasama capacity building, pertukaran mahasiswa, menjebatani kerjsama, sebab saat ini tidak banyak beasiswa, ada beasiswa untuk 30, 40 mahasiswa dari seluruh universitas di UAE. Nah kita harapkan dengan adanya kerjasama bilateral antara universitas akan banyak beasiswa, beberapa universitas di UEA ini sudah masuk level dunia, terutama di sektor energi. (W/RE1/R7/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)