Dubes Rusia Tunjukkan Bukti Keharmonisan Beragama di Tatarstan

Duta BesarRusia untuk Indonesia Lyudmila Vorobieva. (Foto: Abdullah/MINA)

Jakarta, MINA – Rusia adalah sebuah negara multikultural yang terdiri dari sekitar 193 suku bangsa (nationalities) dengan berbagai ragam agama, bahasa dan budaya.

Walaupun mayoritas beragama Kristen Ortodox, sekitar 14% atau sekitar 24 juta penduduknya adalah penganut agama Islam, mungkin yang terbesar di daratan Eropa.

Beberapa negara bagian seperti Tatarstan, Dagestan, Chechnya, dan Bashkortostan mayoritas penduduknya beragama Islam.

Duta Besar (Dubes) Rusia untuk Indonesia Lyudmila Vorobieva menunjukkan Bukti keharmonisan hubungan antarumat beragama di Republik Federal Tatarstan yang bisa dilihat dengan banyak kegiatan yang diadakan bersama-sama oleh warga Muslim, Kristen, dan Yahudi untuk merajut semangat perdamaian antarkomunitas agama tersebut.

Republik Tatarstan adalah salah satu dari 83 wilayah federal Rusia. Mayoritas warga Tatarstan adalah Muslim dan Kristen Ortodoks. Jadi, di sini banyak terdapat masjid dan gereja.

Dalam Travel Guide The Republic of Tatarstan disebutkan ada sekitar 700 masjid dan 200 gereja.

Menurutnya, Tatarstan yang terletak sekitar 500 km sebelah timur Moskow, dapat dijadikan sebagai model kesatuan masyarakat yang menjunjung tinggi toleransi antaragama dan etnis.

“Tatarstan dihuni oleh orang-orang Tatar dan mereka adalah contoh yang bagus bagaimana warga Muslim, Kristiani, dan penganut agama lainnya dapat hidup berdampingan dengan sangat baik selama berabad-abad,” kata Dubes Lyudmila dalam wawancara khusus dengan tim wartawan MINA, di kediaman resminya, di Jakarta Selatan, Selasa (14/7).

Dia juga mengungkapkan bagaimana mayoritas penduduk Muslim di Rusia bukan dari pendatang. Mereka adalah orang-orang yang tinggal di Rusia selama berabad-abad karena Islam datang ke Rusia lebih awal daripada datangnya ke Asia Tenggara, khususnya ke Indonesia.

Menurut penelusuran MINA, Islam sebenarnya sudah masuk Rusia sekitar 10 tahun setelah Nabi Muhammad wafat. Pada tahun 734 di masa kekhalifahan Ummayah, telah didirikan sebuah masjid yang disebut Masjid Juma di kota tua Derbent, masuk wilayah Dagestan saat ini.

Dubes Lyudmila menegaskan, Tartastan memiliki ibukota Kazan yang menjadi salah satu wilayah paling dinamis di Rusia dan saat ini menjadi tujuan wisata bagi turis Indonesia.

Kazan berpenduduk sekitar 1,2 juta jiwa. Mereka menggunakan dua bahasa, yakni Rusia dan Tatar. Kazan adalah kota terbesar ketiga di Rusia setelah Moskwa dan St Petersburg.

“Sebenarnya ada banyak orang Tatar yang tinggal di Moskow juga. Bahkan di Kedutaan kami (di Indonesia). Kami memiliki seorang diplomat asli warga Tatar dan dia seorang Muslim. Jadi ini (Keharmonisan Beragama) adalah tradisi di negara kami dan juga ini adalah mentalitas rakyat kami,” pungkasnya.

Lebih dari 450 tahun lalu, Tatarstan merupakan sebuah negara yang berdiri sendiri di bawah bendera Kekhanan Kazan (Khanate of Kazan). Namun, ketika Tsar Ivan IV menaklukkan wilayah tersebut pada Oktober 1522, Tatarstan akhirnya dianeksasi oleh Rusia sepenuhnya.

Meski bertahun-tahun dikuasai Uni Soviet yang komunis, situs sejarah Islam dan Kristen di wilayah ini dipertahankan. Bangunan lama yang sudah hilang pun didirikan kembali dan dimanfaatkan antara lain sebagai tujuan wisata.

Masjid yang diyakini pernah ada di kawasan ini sebelum 1552 juga dibangun kembali dan dinamakan masjid Kul Sharif (nama pemimpin terakhir Muslim Khanate). Masjid yang diklaim terbesar di Eropa ini dibuka pada Juni 2005.

Sementara, sejak runtuhnya Uni Soviet, sekitar 8.000 masjid telah didirikan dan menjadikan Islam sebagai agama yang paling pesat pertumbuhannya di Rusia.(L/R1/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)