Dubes: Sejarah Hubungan Indonesia-Sudan Sangat kuat

(Foto: Sidik/MINA)

Khartoum, 14 Rajab 1438/11 April 2017 (MINA) – Duta Besar (Dubes) Republik Indonesia untuk Sudan dan Eritrea, Burhanuddin Badruzzaman, menegaskan sangat kuatnya hubungan historis antara Indonesia dengan Sudan

Menurutnya, sejarah hubungan antara Indonesia dan Sudan telah dibangun sebelum kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945. Termasuk hubungan kebudayaan dan seni antara kedua negara.

“Hubungan historis antara kedua negara sesungguhnya sangat dekat, sangat erat dan emosional, khususnya sejak kedatangan Syaikh Ahmad As-Surkati ke Indonesia pada tahun 1911,” kata Dubes Burhanuddin dalam konferensi Pers di Kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Khartoum, Selasa pagi (11/4).

Konferensi pers yang dihadiri para awak media cetak maupun online yang ada di Sudan itu terkait persiapan acara Malam Budaya Indonesia 2017.

Kedekatan itu kemudian diperkuat dengan perlakuan pemerintah Indonesia kepada delegasi Sudan pada tahun 1955, pada saat pelaksanaan Konferensi Asia Afrika di Bandung. Saat itu Sudan belum merdeka, tetapi diperlakukan seperti sebuah negara yang telah merdeka.

“Karena itu tidak ada alasan bagi Kedubes RI di sini untuk tidak melakukan usaha yang maksimal dalam mengisi hubungan yang telah dibangun dasar-dasarnya oleh para pendahulu kita,” kata Dubes Burhanuddin di hadapan para jurnalis yang ikut dalam konferensi pers tersebut.

Dubes mengatakan selama ini KBRI selalu berusaha berpartisipasi dalam berbagai kegiatan kebudayaan yang dilaksanakan lembaga persahabatan internasional dan lembaga-lembaga kebudayaan lainnya. Demi memajukan hubungan di bidang kebudayaan antara kedua bangsa.

KBRI juga selalu mendukung upaya mempromosikan budaya antara Indonesia dengan Sudan melalui kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh para mahasiswa Indonesia dan Warga Negara Indonesia lainnya.

Sementara Salah satu tugas dari kedutaan Republik Indonesia (KBRI) Khartoum, terutama saya sebagai wakil pemerintah dan bangsa Indonesia di Sudan adalah mempromosikan, memajukan hubungan yang bersaudara baik antara kedua negara khususnya saat ini di bidang kebudayaan. kata Dubes yang sebelumnya sudah bertugas di beberapa negara terutama di Timur Tengah.

Momen pencabutan sangsi oleh Amerika Serikat kepada Sudan selama beberapa bulan ke depan, menjadi kesempatan untuk melakukan berbagai kegiatan yang semakin terbuka. Masyarakat Indonesia yang dulu agak ragu-ragu untuk berkunjung ke Sudan, saat ini telah mempunyai keyakinan bahwa Sudan negara yang aman, karena itu tidak perlu ditakuti lagi untuk dikunjungi.

KBRI Khartoum pada priode ini mendapatkan kepercayaan dari Kementerian Luar Negeri Indonesia untuk menugaskan seorang staf kedutaan wanita yang berkecimpung di bidang sosial dan budaya.

Demikian pula tim sanggar penari yang akan datang pada even ini, sebanyak delapan orang, sebanyak tujuh di antaranya semuanya para wanita. “Ini menandakan bahwa mereka tidak ragu-ragu lagi untuk datang berbondong-bondong ke Sudan dalam memeriahkan Malam Budaya Indonesia 2017.

Pengumuman pencabutan sangsi oleh Amerika Serikat, maka semakin banyak para pejabat Indonesia berminat untuk berkunjung ke Sudan. Sebelumnya, didahulu antara lain oleh Gubernur Jawa Barat, yang kemudian bersepakat untuk membuat kerjasama Sister Profit dengan Wali Kota Khartoum.

Jadi kegiatan kebudayaan yang akan kita selenggarakan ini, selain mempromosikan budaya Indonesia memperkenalkan kepada saudara-saudaranya di sudan, juga sekaligus untuk memberitahukan kepada rakyat Indonesia bahwa disudan semakin aman, dan baik untuk dikunjungi.

Sekarang izinkan kami mendiskripsikan tentang karakteristik budaya Indonesia.

Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan negara strategis. Terletak di persilangan wilayah Asia Timur, Asia Tenggara dan Australia yang menuju ke Timur Tengah dan Eropa.

Dengan letak geografis demikian dengan sesuia berjalanannya waktu, maka budaya-budaya Indonesia bercampur dari budaya peninggalan nenek moyang orang Indonesia bercampur dengan budaya Cina, India, Arab atau Timur Tengah dan belakangan bercampur lagi budaya dengan Eropa.

Dari segi agama budaya-budaya itu terpengaru oleh animisem, kemudian agama Budha, Hindu, Konghucu, Kristen.

Jadi karena itu, kekayaan budaya Indonesia sulit dicarikan tandingannya di dunia ini dan khusus di bidang tari misalnya, saat ini menurut survei ada tiga ribu jenis tari yang ada di Indonesia.

Dan berbagai tari tersebut tersebar di lebih dari 17.500 ribu pulau di Indonesia. Yang kita akan tampilkan nanti hanyala contoh sebagian kecil budaya yang ada di Indonesia.

Kalau boleh saya sebutkan beberapa tari yang akan ditampilkan nanti adalah tari yang berasal dari Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Papua.

Selain itu sebagian dari mahasiswa kita akan mengunakan kesempatan ini untuk menampilkan beberapa kesenian yang dikuasainya.

Kegiatan ini awalnya merupakan inisiatif dari kedubes Indonesia, tetapi kemudian kita berhasil menjalin kerjasama dan dukungan lembaga persahabatan sudan Indonesia, dank arena itu kemudian kita akan menampilkan tari-tarian sudan.

Pertunjukan nanti dari Indonesia akan dibawakan oleh group seni dan budaya Svadara dan dari sudan juga akan tampil tari Balembo yang akan dibawakan oleh sanggar budaya dan seni dari Tanita.

Kegiatan ini akan dilaksanan di dua tempat yaitu tanggal 13 dan 14 april 2017, kedua-duanya akan berlangsung dimulai setelah magrib.

Pada tanggal 13 April tersebut adalah acara khusus untuk tamu-tamu para diplomatik dan para pejabat serta para pengusaha dan lembaga internasional yang ada di Khartoum, sedangkan pada tanggal 14 April acara event budaya tersebut dibuka untuk umum dan masyarakat Sudan.

Untuk memberikan penghargaan kepada para hadirin yang datang pada acara tersebut, maka setiap akhir dari event, pihak KBRI akan memberikan door Prize berupa hadiah menarik berupa aksesoris khusus Indonesia dan hadiah utama tiket PP jalan-jalan ke Indonesia selama empat hari dan ditanggung semua akomodasi hotel.

Dalam konferensi pers, Dubes, menegaskan tujuan dari acara ini bukan aja memperkenalkan budaya Indonesia, tetapi kalau berhasil dan sukses akan menguntungkan citra Sudan khususnya di Indonesia, orang akan banyak sekali mengenal lebih akan Sudan, bahkan lebih lagi orang Indonesia yang akan mengunjungi. khususnya setelah dicabutnya sangsi oleh Amerika Serikat beberapa bulan lalu kepada sudan. (L/K02/R01)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)