Dubes Sudan Gelar Dialog dan Bukber Bareng Tokoh dan Wartawan

Dubes Sudan untuk Indonesia berdialog dengan para tokoh (Sanadi/MINA)

Jakarta, MINA – Duta Besar Sudan untuk Indonesia DR. Elsiddieg Abdulaziz Abdalla menggelar buka puasa dan dialog bersama tokoh dan wartawan dari beberapa media, termasuk Kantor Berita MINA, di kediamannya, Jakarta, Kamis (23/5).

Dubes Abdalla menyambut dengan hangat para tamu, termasuk Direktur Eksekutif Muslim Youth Forum on International Issues Muhammad Anthony yang hadir dalam acara tersebut.

“Selamat datang di rumah kami, dengan kita bertemu, duduk bersama dan berdialog, sehingga kita bisa bertukar informasi baik tentang kondisi indonesia terkini, dan tentu situasi di Sudan,” kata Dubes Abdalla dalam sambutannya.

Para tamu terlihat menikmati jamuan iftar dan makan malam dengan hidangan masakan serta minuman khas Sudan dan juga beberapa makanan khas Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut juga diadakan acara dialog series Ramadhan yang membahas beberapa isu dalam dan luar negeri, termasuk tentang situasi Indonesia terkini terkait pascapemilihan umum 2019 dan mengenai kondisi Sudan yang saat ini masih dalam masa transisi.

Ketika ada pertanyaan tentang kondisi Sudan terkini, Dubes Abdalla menjawab dengan tegas, apa yang terjadi pada Sudan saat ini bukanlah kudeta.

“Turunnya Presiden Omar Bashir bukan dikudeta, tapi tuntutan dari rakyat Sudan. Saya menegaskan bahwa ini bukanlah kudeta, masih terjadi negosiasi antara rakyat Sudan yang menginginkan pemerintah berdasarkan rakyat dan militer Sudan,” kata Dubes Abdalla.

Ia menjelaskan, Sudan saat ini sedang mengadapi tantangan serius, terutama masalah ekonomi dan keamanan. Untuk itu Mahkamah Agung Sudan sedang mencari solusi untuk menyatukan semua pihak. “Yang terpenting dalam menyelesaikan masalah ini adalah dengan kebijaksanaan,” tegas Dubes Abdalla.

Dubes Abdalla mengatakan, sudah 21 tahun Sudan mengalami sanksi ekonomi dari Amerika Serikat, sehingga membuat kondisi masyarakat Sudan menghadapi krisis yang serius, tidak bisa ekspor dan impor barang-barang dari AS dan sekutunya, sehingga menyebabkan sarjana-sarjana banyak yang menganggur.

Ia menganggap Indonesia adalah negara yang kaya dengan sumber daya alam. “Jangan langsung dihabiskan sumber daya alam kalian, pikirkan ini untuk generasi yang akan datang,” tambah Dubes Abdalla. (L/Sj/RI-1)

Mi’raj News Agency (MINA)