Duka Selimuti Ramadhan di Gaza: Orang-Orang Sedih, Tapi Bangga Setiap Keluarga Punya Syuhada

Seorang perempuan Gaza memanggang roti di hari pertama Ramadhan 1445H (foto: Instagram)

Oleh: Arina Islami, Relawan Lembaga Kepalestinaan Aqsa Working Group (AWG)

menjadi bulan yang dinantikan oleh umat Islam karena di dalamnya dipenuhi keberkahan dan ampunan Allah SWT. Muslim di seluruh dunia seharusnya bersuka cita menyambut datangnya bulan ini. Namun di Palestina, Ramadhan 2024 diwarnai kepedihan akibat agresi Zionis .

Pada umumnya, ibu-ibu akan bersemangat berbelanja dan memasak, menyiapkan menu buka puasa yang bervariasi untuk sanak keluarga. Tetapi momen bahagia ini, sepertinya tidak bisa dinikmati oleh para ibu Palestina di wilayah Gaza. Sebab mereka harus menelan kenyataan pahit bahwa tidak ada makanan yang bisa dihidangkan untuk anak dan suaminya.

Maha, seorang ibu dari lima anak di Gaza mengatakan bahwa ia dan keluarganya telah berpuasa (menahan lapar dan haus) sejak lima bulan lalu, terhitung mulai Oktober 2023. Blokade Zionis Israel membuat warga Gaza dihantam krisis pangan yang sangat parah.

“Kami tidak melakukan persiapan apa pun untuk menyambut Ramadhan karena kami telah berpuasa selama lima bulan,” kata Maha.

“Tidak ada makanan, kami punya makanan kaleng dan nasi, sebagian besar makanan dijual dengan harga mahal,” tambah Maha.

Eman Alhaj Ali, jurnalis yang tinggal di Gaza dari kamp pengungsi al-Maghazi, menceritakan bagaimana warga di daerah kantong itu tetap merasa lapar bahkan di saat waktu berbuka puasa. “Orang-orang melewatkan waktu berbuka karena mereka tidak punya makanan dan air,” ucapnya.

PBB melaporkan, lebih dari 20 anak di Gaza meninggal akibat dan kekurangan gizi. Sementara semakin banyak anak menderita penyakit fisik dan jiwa yang parah, mengutip VOA.

Kehilangan Keluarga Tercinta

Selain menyantap makanan yang lezat, waktu berbuka harusnya menjadi momen indah untuk berkumpul bersama keluarga tercinta. Tapi lagi-lagi, warga Palestina kehilangan kesempatan berharga itu.

Di Gaza Selatan, Randa Baker, seorang ibu berusia 33 tahun, bersama tiga anaknya duduk dengan perasaan sendu di tenda pengungsian, menyantap menu berbuka dari bantuan sosial; sepiring nasi, kentang, dan semangkuk kacang polong. Ayah dari ketiga anak itu telah syahid dalam serangan udara Israel di Oktober 2023.

“Ramadhan tahun ini adalah kelaparan, kesakitan dan kehilangan. Orang-orang yang seharusnya berada di meja bersama kami telah pergi,” kata Randa.

Seorang perempuan dari Khan Younis, Sabah al-Hendi melihat Ramadhan tahun ini dipenuhi air mata. Kehilangan dialami oleh setiap keluarga yang ada di Gaza. “Tidak ada seorang pun terlihat dengan tanda-tanda kegembiraan di matanya. Semua rumah sedih. Setiap keluarga punya martir,” ucapnya pilu.

Hekmat Almasri juga mengalami kesedihan serupa. Ibu Gaza ini menceritakan, “Anak saya selalu terjaga pada malam hari, menangis. Dia bilang ‘Saya rindu ayah.’ Saya harap kita bisa pulang. Saya ingin menjalani kehidupan normal seperti dulu.”

Zionis Israel tidak menargetkan tentara atau kelompok bersenjata seperti yang mereka klaim di media. Mereka membumihanguskan Gaza, tanpa pandang bulu; tentara maupun warga sipil, bayi maupun dewasa, laki-laki maupun perempuan.

Bahkan, data Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza pada awal Maret 2024 menunjukkan, tentara Zionis telah membunuh hampir 9.000 perempuan dalam serangan ke wilayah yang terkepung itu.

“60.000 ibu hamil di Gaza menderita malnutrisi, dehidrasi, dan kekurangan layanan kesehatan yang layak,” kata juru bicara Kemenkes, Ashraf al-Qudra, Kamis (6/3/2024).

Jalani Puasa di Tengah Bom Zionis

Di Indonesia, selama bulan Ramadhan kita dapat mendengar anak-anak bermain petasan dengan suara yang kadang mengagetkan dan menggangu. Tentu ini aktivitas anak-anak yang tidak perlu.

Tapi tentu suara ledakan petasan kecil itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan bunyi bom-bom raksasa kiriman Zionis Israel. Itulah yang dirasakan warga Palestina di Gaza saat ini.

“Saya tidak percaya kita hidup selama bulan Ramadhan di bawah perang dan pemboman,” tutur Nabila Rabie. Perempuan 62 tahun itu telah mengungsi dari rumahnya di Khan Younis ke tenda al-Mawasi di selatan Gaza.

Eman Alhaj Ali, jurnalis dan penerjemah yang menetap di Gaza, menulis di Aljazeera tentang bagaimana kondisi Gaza pada Ramadhan 1445H. Ia mengatakan, bagi masyarakat Gaza, Ramadhan menjadi waktu paling Istimewa sepanjang tahun. Gaza selama Ramadhan adalah adalah tempat yang paling terindah di muka bumi.

“Namun di bulan suci ini (Ramadhan 2024), kita tidak bisa merayakan dan menikmati ibadah dengan tenang. Lampu lentera warna-warni serta nyanyian telah digantikan dengan kilatan dan suara ledakan bom Israel. Suara gembira anak-anak bermain di jalanan telah digantikan dengan jeritan orang-orang yang terkubur di bawah reruntuhan setelah pemboman Israel. Lingkungan yang penuh kehidupan telah diubah menjadi kuburan,” tutur Eman.

Sebelum menutup tulisan di rubrik opini Aljazeera itu, Eman menuliskan, “Saat bulan suci Ramadhan dimulai, kami mengucapkan selamat tinggal kepada syahid demi syahid.”

Dilarang Beribadah

Zionis Israel selalu punya cara untuk mengganggu dan menindas masyarakat Palestina. Di bulan Ramadhan ini, mereka bahkan menghalangi umat Islam beribadah di rumah ibadahnya sendiri, Masjidil Aqsa di Yerusalem. Umat Islam yang memaksa masuk ke dalamnya dipukuli oleh polisi Israel. Peristiwa ini merupakan bentuk penistaan Zionis Israel terhadap  kiblat pertama umat Islam.

Diberitakan Middle East Eye, seorang saksi mata mengatakan, polisi Israel hanya mengizinkan beberapa pria dan perempuan berusia di atas 40 tahun untuk masuk ke Masjidil Aqsa.

Sementara, seorang perempuan Yerusalem mengatakan kepada media lokal bahwa jumlah warga Palestina yang dilarang memasuki Al-Aqsa lebih banyak daripada jumlah jamaah yang dibolehkan shalat tarawih di dalamnya.

Namun, walapun demikian tetap saja. Puluhan ribu jamaah kaum Muslimin warga Yerusalem dan sekitarnya, tetap saja dapat merangsek masuk ke dalam kompleks Masjidil Aqsa untuk melaksanakan shalat Tarawih berjama’ah. Hadangan, makian hingga luka, cukuplah sebagai tanda dan bukti perjuangan mereka.

Memasuki bulan puasa Ramadhan pula, nasib tahanan Palestina di penjara Israel pun kian memprihatinkan. “Otoritas penjara terus membuat lebih dari 9.100 tahanan kelaparan, termasuk perempuan, anak-anak, dan orang sakit,” kata Masyarakat Tahanan Palestina, sebuah LSM lokal dalam sebuah pernyataan pada Senin (11/3/2024).

LSM itu melaporkan, Israel juga membatasi kebebasann mereka untuk menjalankan ritual keagamaan, terlebih dalam bulan Ramadhan.

Laporan Kemenkes Palestina di Gaza menyebutkan, 67 orang syahid akibat serangan Israel dalam 24 jam pada 1 Ramadhan 1445/11 Maret 2024. Sejak 7 Oktober 2023 hingga 12 Maret 2024, sudah 31.184 korban yang gugur, 9.000 lebih di antaranya perempuan dan 13.500 lainnya anak-anak. Serangan brutal Zionis juga menyebabkan 72.889 terluka dan lebih dari 7.000 orang hilang.

Meski Mahkamah Internasional (ICJ) pada Januari lalu telah mengeluarkan keputusan sementara agar Israel menghentikan segala tindakan genosida di Gaza, namun sampai sekarang, keputusan itu tidak berarti apa-apa. Israel malah kian masif melancarkan serangannya, terlebih di bulan suci Ramadhan.

Lalu, di mana PBB, Dunia Internasional dan para aktivis kemanusiaan? Tentu juga kesadaran umat Islam seluruh dunia untuk sama-sama membebaskan Palestina.

Palestina seharusnya diselimuti kebahagiaan di bulan suci Ramadhan ini, bukan sebaliknya. Walaupun tetap, mereka punya kebanggaan dan kesyukuran yang tidak dimiliki umat Islam di negeri lainnya. Yakni, setiap keluarga memiliki para syuhada yang sudah menanti di pintu surga, dan akan menjemput sanak keluarganya kelak, untuk bersama-masuk masuk ke surga. Allahu Akbar! (R/Ai/RS2)

Mi’raj News Agency (MINA)