Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Duka Sumatra dan Jalan Kebangkitan Umat

Redaksi Editor : Widi Kusnadi - 1 menit yang lalu

1 menit yang lalu

0 Views

Bencana longsor banjir dan longsor (Foto: x)

oleh Ust Deni Rahman, M.Kom, ketua prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam STAI Al-Fatah, Cileungsi, Bogor.

MUSIBAH besar kembali melanda tanah air. Banjir bandang, longsor, dan bencana hidrometeorologi di Aceh dan Sumatra Utara, telah menelan ratusan korban jiwa, puluhan hilang, serta ribuan mengungsi. Data BNPB mencatat lebih dari 174 orang meninggal, 79 hilang, dan ratusan lokasi terdampak. Polda Sumut melaporkan ada 367 titik bencana di 20 wilayah polres. Aceh menetapkan status siaga darurat, sementara MUI menyerukan shalat ghaib untuk para korban. Pertanyaan besar muncul, bagaimana umat Islam memaknai musibah ini, dan apa langkah yang harus diambil?

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ

Baca Juga: Refleksi 48 Tahun Hari Solidaritas Internasional untuk Rakyat Palestina

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155). Ayat ini mengingatkan bahwa musibah adalah bagian dari ujian kehidupan. Bencana harus dipahami sebagai panggilan untuk kembali kepada Allah, memperbaiki diri, dan memperkuat solidaritas sosial. Taubat juga harus diiringi dengan perbaikan sosial.

Bencana di Sumatra menunjukkan betapa rapuhnya manusia di hadapan kekuasaan Allah. Hujan deras yang turun berhari-hari, sungai yang meluap, tanah yang longsor, semuanya menjadi tanda bahwa alam pun tunduk pada ketentuan-Nya. Namun, di balik duka, ada hikmah yang harus digali. Musibah adalah momentum untuk memperkuat iman, memperbaiki hubungan dengan sesama, dan menata ulang cara kita memperlakukan alam.

Latar belakang masalah ini tidak bisa dilepaskan dari faktor lingkungan. Kerusakan hutan, alih fungsi lahan, dan lemahnya pengawasan pembangunan memperparah dampak bencana. Islam mengajarkan amanah dalam menjaga bumi. Amanah ini sering diabaikan, sehingga alam pun memberi peringatan.

Seruan shalat ghaib dari MUI untuk korban adalah bentuk solidaritas spiritual yang penting. Shalat ghaib bukan hanya doa untuk korban, tetapi juga sebagai pengingat bagi yang hidup agar lebih mendekatkan diri kepada Allah. Doa menjadi energi moral yang menguatkan keluarga korban dan masyarakat luas. Namun, tentu doa saja tidak cukup, harus pula hadir solusi nyata.

Baca Juga: Bulan Solidaritas Terhadap Rakyat Palestina

Umat Islam secara keseluruhan harus mengambil langkah dan tindakan responsif terhadap bencana seperti membantu korban, menggalang dana, mendirikan posko, dan memberikan trauma healing. Dakwah sosial ini akan menunjukkan wajah Islam yang rahmatan lil-‘alamin.

Dalam konteks kebangsaan, bencana ini menguji persatuan. Ketika ribuan orang mengungsi, solidaritas lintas daerah dan agama harus diperkuat. Islam mengajarkan ukhuwah insaniyah, persaudaraan kemanusiaan. Musibah adalah momentum untuk meneguhkan persaudaraan, melampaui sekat politik dan identitas.

Dalam hal ini, media memiliki peran penting. Semoga tidak ada berita bencana yang hanya menyoroti angka korban tanpa mengangkat akar masalah. Maka sebaiknya media agar berfungsi sebagai penggerak kesadaran, bukan sekadar penyebar sensasi. Media yang beretika adalah bagian dari dakwah modern. Selain itu, bencana juga mengingatkan kita pada pentingnya pendidikan.

Literasi kebencanaan sudah saatnya masuk ke kurikulum sekolah dan pesantren. Anak-anak perlu diajarkan bagaimana menghadapi banjir, longsor, dan gempa. Pendidikan Islam yang holistik mencakup akhlak, ilmu, dan keterampilan hidup. Dengan begitu, generasi muda siap menghadapi tantangan zaman.

Baca Juga: Menetapi Jama’ah, Menjaga Diri dari Zaman Penuh Luka

Diantara solusi dalam menghadapi bencana juga adalah memperkuat instrumen ekonomi Islam seperti zakat, infak, dan sedekah. Ketiganya adalah mekanisme sosial yang mampu menggerakkan solidaritas umat.

Jika zakat dikelola secara optimal, maka dana besar yang terkumpul dapat digunakan untuk membiayai evakuasi, menyediakan logistik, membangun hunian sementara, bahkan mendukung pemulihan ekonomi korban.

Zakat adalah dakwah ekonomi yang nyata, menghubungkan iman dengan aksi sosial, sehingga umat Islam tidak hanya berdoa tetapi juga berkontribusi langsung dalam penanganan musibah.

Demikian pula wakaf produktif. Tanah wakaf bisa dijadikan lokasi hunian sementara, sekolah darurat, atau pusat pelatihan kebencanaan. Wakaf berfungsi sebagai investasi sosial jangka panjang yang relevan untuk menghadapi bencana berulang. Dengan pengelolaan profesional, wakaf dapat menjadi sumber daya berkelanjutan yang menopang masyarakat dalam kondisi darurat sekaligus membangun ketahanan sosial.

Baca Juga: Dialog dan Experiential Learning Pada Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidr

Generasi muda juga tidak boleh dipinggirkan. Komunitas hijrah, organisasi mahasiswa, dan santri harus dilibatkan sebagai relawan bencana. Mereka memiliki energi, kreativitas, dan jaringan sosial yang luas.

Dakwah harus menggerakkan mereka agar tidak hanya aktif di media sosial, tetapi juga turun langsung ke lapangan, membantu korban, mengedukasi masyarakat, dan membangun solidaritas. Inilah dakwah aksi yang dibutuhkan, dakwah yang menyentuh realitas, menjawab kebutuhan umat, dan menghadirkan Islam sebagai solusi nyata bagi kehidupan.

Mari Jadikan musibah sebagai momentum kebangkitan. Dalam perspektif Qur’an, musibah adalah bagian dari sunnatullah. “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS. At-Taghabun: 11).

Kesatuan umat adalah kunci. Jika umat Islam bersatu, saling membantu, dan berpegang pada nilai Qur’an, maka musibah akan menjadi jalan kebangkitan. Maka dari itu, kesatuan jangan hanya sekadar slogan, melainkan fondasi yang meneguhkan identitas umat di tengah guncangan zaman. Ketika bencana melanda, persatuan menjadi energi kolektif yang menggerakkan solidaritas, memperkuat daya tahan sosial, dan menumbuhkan harapan baru.

Baca Juga: 14 Poin Krusial KUHAP Baru, Publik Soroti Risiko Pelemahan Hak Asasi

Ukhuwah Islamiyah yang kokoh akan menjadikan setiap individu merasa bertanggung jawab atas saudaranya. Dalam kondisi darurat, semangat tolong-menolong akan melahirkan jaringan bantuan yang lebih cepat, lebih efektif, dan lebih ikhlas. Inilah wajah Islam yang sesungguhnya. Agama yang menekankan kepedulian, kasih sayang, dan keberpihakan kepada yang lemah.

Kesatuan umat juga berarti menghapus sekat-sekat yang sering memecah belah, perbedaan mazhab, organisasi, atau kepentingan politik. Musibah mengajarkan bahwa penderitaan tidak mengenal batas identitas.

Wallahu a’lam bish shawab. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Indonesia dan Masa Depan Hutan Tropis Dunia, Langkah Baru Memimpin Konservasi

Rekomendasi untuk Anda