Dulu di Gaza Ada Kebun Mawar yang Luas

Gaza, MINA – Gaza pernah memiliki puluhan hektar kebun bunga terutama bunga mawar tapi blokade Israel telah menyebabkan anjloknya perkebunan bunga itu malah menyebabkan Gaza kini juga harus mendatangkan bunga dari luar.

Pemetikan bunga jelang peringatan Tahun Baru di kebun-kebun bunga yang masih tertinggal di Khan Younis, Jalur Gaza  diwarnai kekhawatiran para petani dan pedagang bunga  terutama mawar bahwa daya beli warga menurun drastis akibat krisis ekonomi yang melanda Gaza.

Dikutip dari Kantor Berita Suara Palestina pada Senin (30/12), “Gaza pernah memiliki puluhan hektar kebun bunga, namun yang tersisa hanya beberapa hektar saja akibat blokade Israel yang melumpuhkan seluruh sektor,” ujar Juru Bicara Kementerian Pertanian, Adham Al-Basyuni.

Sebelumnya, Komite Rakyat Anti Blokade Israel, Al-Khudari  mengumumkan bahwa ekonomi Gaza 2019 merupakan yang paling anjlok sejak pertama kali Israel memblokade wilayah Palestina itu.

Blokade Israel membuat pelaku usaha tidak dapat menjalankan rumah produksi akibat terbatasnya pasokan barang mentah dari luar Gaza. Dengan alasan keamanan, Israel yang berkuasa menjaga gerbang penyeberangan berhak membatasi dan mengawasi setiap barang yang masuk.

Menurut data yang diperoleh pihaknya, hanya 50 persen dari semua rumah usaha yang masih mampu bertahan dari himpitan blokade.

Al-Khudhari menyampaikan, saat ini terdapat 2,500 warga Gaza yang berstatus sebagai pengangguran, sedangkan angka kemiskinan bahkan mencapai 85 persen.

Ia mengajak seluruh kekuatan internasional untuk mendesak Israel agar segera menghentikan blokadenya.

Blokade Israel pertamakali berlangsung pada tahun 2006 yang menjadikan Gaza sebagai salah satu penjara terbesar di dunia, terisolasi dari dunia luar dan ekonomi lumpuh. Perjalanan warga ke luar Gaza dibatasi hanya untuk keperluan pengobatan dan kondisi mendesak lainnya. (T/Nz/Ast/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)