Einstein, Ilmuan Yahudi yang Tolak Pendirian Negara Israel

Dr. Lili Sholehuddin, M.Pd., Wakil Ketua I (Bidang Akademik) Sekolah Tinggi Ilmu Shuffah al-Quran Abdullah bin Mas’ud (STISQABM)

Palestina memiliki posisi sentral dan sangat strategis dalam percaturan dunia global, yaitu berperan menjadi tempat transit penyambung antara tiga benua besar, yakni Asia, Afrika, dan Eropa. Karena itu Palestina sepanjang sejarahnya merupakan jembatan penghubung antar kelompok masyarakat dari berbagai negara.

Kawasan Palestina mempunyai keistimewaan tersendiri dibandingkan daerah Arab lainnya. Palestina merupakan wilayah yang menjadi tempat tinggal manusia pertama, tempat diturunkannya agama samawi, tempat di mana peradaban kuno muncul, dan pusat aktivitas komersial beragam suku bangsa.

Ditinjau dari segi dimensi ekonomi, posisi Palestina menjadi sentra aktivitas perdagangan dunia dan berperan sebagai tempat pertemuan dan lobi-lobi antar bangsa, selain merupakan wilayah strategis perekonomian bidang ekspor-impor dan pusat perdagangan dunia yang menghubungkan antara Laut Tengah di Barat dan Teluk Arab di Timur.

Sementara itu secara geologis Palestina memiliki cadangan sumberdaya alam berlimpah, seperti daerah Bahrul Mayit kaya akan potasium, garam dan minyak, serta dataran Gaza yang kaya akan gas alam.

Fakta empiris membuktikan, Palestina adalah negara mandiri secara ekonomi. Memiliki sistem transportasi seperti kereta yang menghubungkan Yerusalem ke Damaskus, dan Haifa menuju kota-kota kecil dan daerah pantai Palestina. Haifa menjadi kota yang sibuk menyambut kapal-kapal yang menyeberangi Mediterania untuk kepentingan perdagangan. Identitas dan kebudayaan bangsa Palestina tercermin dalam tiap-tiap kota dan desa di sana.

Namun, negara yang dijuluki dengan sebutan bumi bertabur bintang itu, berubah menjadi mencekam, banyak huru hara layaknya sebuah ajang pertempuran yang menelan korban harta dan merenggut jiwa-jiwa tak berdosa terutama setelah terjadinya peristiwa Nakba tahun 1948.

Makna Nakba sendiri secara harfiah berarti “bencana”. Istilah ini disematkan sebagai tragedi pembersihan etnis Palestina pada 1948 yang dilakukan oleh milisi Zionis: Irgun dan Haganah. Kedua milisi ini di kemudian hari menjadi basis militer Israel, yang disebut Israel Defense Forces (IDF).

Sejak peristiwa itu, bangsa Palestina mengawali lembaran sejarah kelam Bangsa Arab Palestina, hidup berada dalam cengkraman kuku penjajahan Yahudi Zionis yang sangat tajam, kuat, kejam dan bengis. Tanah hak milik Arab Palestina dirampas, penduduknya diusir, disiksa bahkan dibunuh dengan sadis dan biadab.

Perbuatan tidak berperikemanusiaan itu tidak berhenti dilakukan Yahudi Zionis baik tua-muda, bayi-dewasa, laki-perempuan di tempat para nabi dan rasul yang sakral dan transendental al-Aqsha serta daerah-daerah lainnya di Palestina demi terwujudnya ambisi membangun negara ilegal Israel.

Pembentukan negara ilegal Israel di Palestina yang dianggap orang-orang Yahudi Zionis sebagai bumi tanpa penghuni dan dijanjikan untuk bangsa tanpa tanah air (Yahudi) menjadi “vitamin” bagi gerakan Zionis internasional yang dimotori seorang tokoh wartawan senior berkebangsaan Hongaria keturunan Yahudi bernama Theodore Herzl yang berhaluan ekstrim dan revolusioner.

Herzl dalam upayanya merealisasikan negara definitif bagi bangsa Yahudi dibantu oleh koleganya bernama Mayer Rothschild, seorang miliuner dan bankir kelas kakap keturunan Yahudi asal Jerman. Mereka berdua dengan tanpa lelah, secara intensif, fokus dan konsisten terus berjuang, mengadakan lobi-lobi tingkat tinggi, untuk meyakinkan pentingnya negara definitif bagi Yahudi di bumi Palestina.

Efektivitas lobi yang dibangun, terutama dengan pihak Inggris menghasilkan Deklarasi Balfour, 2 November 1917 dan ditandatangani Menteri Luar Negeri Inggris Arthur James Balfour, kemudian diserahkan kepada Lord Rothschild, pemimpin komunitas Yahudi Inggris untuk dikirimkan kepada Federasi Zionis.

Surat itu menyatakan persetujuan rapat Kabinet Inggris pada 31 Oktober 1917, bahwa pemerintah Inggris mendukung rencana Zionis yang akan membuat ‘tanah air’ untuk Yahudi di Palestina, dengan syarat tak merugikan hak-hak komunitas-komunitas yang telah menetap di sana.

Di tengah gencarnya provokasi dan intimidasi Zionis terhadap umat Islam di areal al-Aqsha dan kawasan Palestina, terjadi sebuah kejutan berupa penentangan terhadap gagasan pendirian negara Israel di Palestina, yang justeru datang dari kalangan elit Yahudi yang dianggap selama ini sebagai loyalis fanatik.

‘Bagai disambar petir di siang bolong’, ungkapan ini nampaknya sangat cocok bila dijadikan analogi bagi upaya Zionis Yahudi untuk memiliki negara Israel secara de fakto dan de jure, tiba-tiba mendapat resistensi sangat vokal dan keras terhadap penguasaan tanah milik rakyat Palestina dan mendirikan negara di atasnya, dan penolakan itu justru datang dari pentolan Yahudi itu sendiri bernama Albert Einstein.

Sejatinya, Albert Einstein adalah fisikawan teoretis kelahiran Jerman yang mengembangkan teori relativitas, satu dari dua pilar utama fisika modern bersama mekanika kuantum. Ia melayangkan surat protes pada pemimpin kelompok milisi pergerakan negara Yahudi.

Di dalam surat itu Einstein menyatakan tidak sepakat dengan pembentukan dan pendanaan terhadap kelompok yang mereka sebut milisi Pejuang Kemerdekaan Israel (Lohamei Herut Yisrael atau Lehi), karena menggunakan metode kekerasan untuk mengusir perwakilan pemerintah Inggris yang saat itu menguasai Palestina, setelah direbut dari tangan Kesultanan Turki Utsmani (Ottoman) yang kalah dalam Perang Dunia I.

Ketika bencana menimpa kita (Yahudi) di Palestina, yang pertama bertanggung jawab atas hal itu adalah Inggris dan yang kedua bertanggung jawab untuk itu, organisasi teroris yang dibangun dari barisan kita sendiri (Yahudi). Saya tidak ingin melihat siapa pun yang terkait dengan orang-orang yang tersesat dan penjahat itu, begitu tegas Einstein.

Einstein sangat tahu dan faham efek buruk yang akan diderita Yahudi bila memaksakan kehendak menguasai tanah Palestina dan mendirikan negara di atasnya. Apalagi dilakukan dengan cara refresif, menekan, menindas, mengintimidasi, merampas, mengusir dan membunuh penduduk setempat. Einstein, mungkin termasuk ahli kitab yang memahami Injil secara murni yang sangat anti terhadap kekerasan dan pemaksaan kehendak.

Pembantaian bangsa Arab di wilayah al-Aqsha- Palestina, menurut Einstein, merupakan tindakan biadab dan keji yang tidak bisa dimaafkan. Itu sudah termasuk perbuatan melawan hukum, baik hukum internasional maupun hukum agama. Manusia dibantai layaknya binatang buruan yang sedang dikejar pemburu, tidak sedikitpun menaruh belas dan kasih sebagai ekspresi hati nurani dan jiwa kemanusiaan, itu yang disesalkan Einstein.

Mengutip harian merdeka.com tentang pernyataan Einstein yang berbunyi, “Saya lebih memilih melakukan perjanjian dengan orang Arab dengan tujuan agar bisa hidup berdampingan ketimbang harus membangun negara untuk orang Yahudi.”

Pernyataan tersebut diucapkan Einstein, sebagai salah satu pria paling jenius di muka bumi ini pada 17 April 1938 saat melakukan pidato di Commodore Hotel, New York City. Pernyataan ini sendiri kemudian menjadi bukti seperti apa pandangan pribadi sang profesor terhadap Zionisme.

Menurutnya, ide untuk membangun sebuah negara tidak sama dengan apa yang terlintas di hatinya. Einstein tak paham kenapa harus didirikan negara tersebut. Pembangunannya masih berhubungan dengan pemikiran sempit dan halangan ekonomi. Dia yakin hal ini akan menjadi hal yang buruk dan selalu mencoba melawannya. Demikian diungkapkannya pada Anglo-American Committee of Inquiry, Januari 1946.

Sementara itu, Tribun Jabar.id menguatkan fakta di atas dengan ungkapan bahwa Jauh sebelum warga dunia mengecam Israel saat ini, Albert Einstein sudah mengetahui fakta kekejaman pembentukan Israel dan penjajahan di Palestina.

Sampai pada akhirnya fisikawan tersebut angkat suara, protes kekejaman zionis Israel terhadap Palestina. Aksi protesnya itu, ia tulis dalam secarik kertas yang kini kembali beredar di media sosial, sebagaimana termuat dalam instragram Abdul Kadir Jailani, Dubes Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Kanada dan ICAO (International Civil Aviation Organization).

Meski protes banyak dilontarkan dari berbagai kalangan, tidak hanya dari seorang penemu teori relativitas seperti Albert Einstein, akan tetapi hampir dari segala elemen masyarakat dunia, kepala negara, ketua NGO bahkan PBB dengan berbagai resolusi yang dikeluarkannya, namun Zionis Israel sama sekali tidak bergeming, tetap dalam prinsip salahnya itu.

Bahkan zionis agresor itu lebih meningkatkan frekuensi penekanannya dengan berbagai penindasan yang dilakukan secara sporadis, seperti yang diberitakan kantor berita MINA baru-baru ini yang menurunkan berita, Kementerian Luar Negeri dan Urusan Ekspatriat Palestina dalam pernyataannya Senin (11/10) mengatakan, otoritas pendudukan Israel terus melakukan rencana Yahudisasi  Masjid al-Aqsa dan halamannya, dengan pengikisan bertahap terhadap kekuatan Departemen Wakaf Islam.

Itulah potret aksi zionis yang selalu melakukan aksi brutal dan biadab terhadap umat Islam, mengotori dan menghancurkan tempat-tempat bernilai sejarah dan religiusitas yang dianggap suci, sakral dan transendental bagi umat Islam. Mereka tidak akan berhenti menistakan sampai benar-benar kaum muslimin tunduk, patuh dan taat atas komando dan perintahnya (al-Baqarah/2:120).

Kondisi inilah hendaknya menjadi pemantik motivasi dan daya dorong  umat Islam untuk menyatukan barisan, merapatkan shaf, menyamakan gerak dan langkah dalam satu sistem komando menurut titah al-Qur’an dan al-Sunnah membangun kesatuan dan persatuan umat, menghentikan kezaliman, kekejaman dan menolak angkara murka zionis Yahudi si pencuri. (A/lsh/B03).

Mi’raj News Agency (MINA).