EKONOMI INDONESIA 2015 DIPERKIRAKAN LEBIH BAIK DARI 2014

, pada Acara Munas III Masyarakat Ekonomi Syariah 2014 dengan tema “Sharia Economic Outlook 2015”, Jumat (21/11). (Foto:  Jamilah/MINA)
, pada Acara Munas III Masyarakat Ekonomi Syariah 2014 dengan tema “Sharia Economic Outlook 2015”, Jumat (21/11). (Foto: Jamilah/MINA)

Jakarta, 28 Muharram 1436/21 November 2014 (MINA) – Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Yuslam Fauzi memprediksi ekonomi Indonesia tahun 2015 akan lebih baik dari pada 2014.
“ Hal ini disebabkan meningkatnya pertumbuhan ekonomi menjadi 5,6 persen, adanya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), inflasi 4,4 persen, dan rata-rata kurs sebesar Rp.11.900/US dolar” kata Yuslam pada Munas III Masyarakat Ekonomi Syariah 2014 yang bertema “Sharia Economic Outlook 2015”, Jumat (21/11).
“Pada 2015 perbankan syariah menjadi peringkat kesembilan di dunia, Asuransi Syariah akan peringkat keempat di dunia dari beberapa negara diantaranya Arab Saudi, Malaysia, Uni Emirat dan  Arab Saudi,” katanya.

Ia menjelaskan, regulasi yang semakin baik dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam menghadapi MEA tahun 2015 juga akan dapat meningkatkan kepercayaan investor terhadap daya saing pasar modal Indonesia.

“Selain itu industri non bank syariah juga akan meningkat dengan banyaknya populasi muslim di Indonesia, sehingga diperlukan pengembangan edukasi dan Sumber Daya Manusia (SDM) untuk mendorong usaha dan menyejahterakan rakyat Indonesia” ujarnya.

Terkait hal itu, peran pemerintah perlu dimaksimalkan dengan tepat agar LKM (Lembaga Keuangan Mikro) menjadi katalisator pengembangan kewirausahaan pengembangan keuangan mikro.

Banyaknya tantangan yang dihadapi akibat ketergantungan pada bahan baku yang masih minim, kurangnya teknologi dan jaringan kerja serta keterbatasan modal, jika tidak diperbaiki akan menyebabkan perekonomian Indonesia tertinggal dari negara lain, katanya.

Sementara itu Direktur Pengembangan IDX, Friderica Widyasari Dewi menilai, hubungan internasional memiliki peran penting untuk mendukung pertumbuhan perekonomian Indonesia.

Ia juga menjelaskan, setiap aktivitas transaksi saham di pasar modal syariah mencerminkan lebih dari 70% aktivitas transaksi di pasar saham konvensional.

Untuk mengembangkan pasar modal syariah dia memandang perlu diadakannya sosialisasi dan edukasi tentang pasar modal kepada masyarakat melalui sharia capital market school.

Ketua AASI (Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia), Pramana juga optimis akan pertumbuhan industri lembaga keuangan syariah di sektor perbankan dan lembaga keuangan lainnya di tahun depan. Hal itu  akan mendorong pertumbuhan industri asuransi syariah secara keseluruhan.

Direktur Jenderal Pemasaran Pariwisata, Esthy Reko Astuti menyarankan agar Pariwisata Syariah Indonesia bersifat universal, inklusif, dan modern untuk memberikan daya tarik kepada investor dan turis asing, dengan memperkenalkan budaya Indonesia dalam sistem syariah.

Presdir Dompet Duafa, Ahmad Juwaini menyebutkan, dengan perbaikan regulasi dan tata kelola zakat, diperkirakan zakat pada 2015 tumbuh sebesar 30%, sehingga capaian penghimpunan zakat akan mencapai Rp 3,62 triliun.

“Hal tersebut dimungkinkan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk membantu dan menyejahterakan masyarakat miskin/tidak mampu” ujarnya.

Pemanfaatan dana zakat menurut dia, harus diarahkan kepada bantuan produktif yang meningkatkan pendapatan masyarakat dan kemandirian. (L/P005/R01)
Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Comments: 0