Ekonomi Lebanon Makin Buruk, Pekerja Asing Minta Dievakuasi

Ilustrasi: pekerja asing di Lebanon berdemonstrasi menuntut keadilan. (Foto: dok. justice-everywhere.org/)

Beirut, MINA – Pekerja asing di Lebanon meminta dievakuasi karena situasi ekonomi di negara itu semakin buruk, membuat majikan tidak mampu membayar mereka.

Banyak orang Lebanon menolak bantuan untuk menghindari biaya memulangkan para pekerja asingnya ke negara asal mereka, atau mengembalikan mereka ke agen tenaga kerja tempat mereka direkrut.

Pekerja rumah tangga juga banyak yang kabur setelah majikan berhenti membayar gaji. Mereka mencari perlindungan di kedutaan besar negara asal mereka meminta dievakuasi.

Ada lebih dari 150.000 orang asing yang bekerja secara legal di Lebanon dan 80.000 orang bekerja secara ilegal.

“Kami menerima rekaman video tentang penahanan sekitar 26 pekerja perempuan Filipina, termasuk seorang wanita hamil, di sebuah gedung yang berdekatan dengan kedutaan besar negara mereka di daerah Hadath di pinggiran selatan Beirut lebih dari 35 hari yang lalu,” kata Bassam Kantar, seorang anggota dari Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Lebanon, yang termasuk Komite untuk Pencegahan Penyiksaan (LNHRC-CPT), kepada Arab News.

“Mereka disimpan di kamar dalam kondisi yang buruk. Kami mengunjungi kedutaan dan berbicara dengan para pejabat. Ada lebih dari 100 pekerja lain di dalam konsulat yang menunggu pemulangan,” katanya.

Kantar mengatakan bahwa LNHRC-CPT telah dihubungi oleh pekerja asing lainnya yang meminta repatriasi, terutama mereka yang bekerja secara ilegal.

“LNHRC-CPT menghubungi Keamanan Umum Lebanon dan memutuskan untuk membebaskan karyawan dari membayar tunjangan tinggal dan denda. Tapi itu tidak dapat mengembalikan mereka ke negaranya karena itu adalah tanggung jawab kedutaan mereka,” tambahnya.

Dia mengatakan bahwa ada kerja sama antara Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) dan Keamanan Umum Lebanon untuk mengirim pekerja tersebut menggunakan pesawat milik maskapai penerbangan dari negara lain yang membawa pekerja dari negara lain.

Beberapa maskapai menolak untuk mengirim pesawat kosong ke Lebanon karena akan rugi besar, tetapi ia menjelaskan bahwa masalah terbesar adalah terkait dengan pekerja yang berasal dari negara-negara yang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Lebanon.

Petugas kebersihan Bangladesh di RAMCO masih menunggu janji perusahaan untuk membayar gaji mereka dalam bentuk dolar, bukan dalam pound Lebanon.

Lusinan pekerja ini melakukan protes di tempat perusahaan pekan lalu. Kantar menggambarkan perilaku perusahaan sebagai “perbudakan modern.” (T/RI-1/P1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)