EKONOMI UMAT UNTUK DAKWAH MANCANEGARA

pelatihan trainerJakarta, 28 Dzulhijjah 1436/12 Oktober 2015 (MINA) – Pada umumnya orang berkegiatan ekonomi hanyalah untuk ekonomi atau untuk kepentingan sendiri saja, masih sedikit untuk pemberdayaan umat dan dakwah.

“Padahal ciri orang bertakwa adalah menginfakkan sebagian hartanya untuk umat dan perkembangan dakwah mancanegara,” kata Imaam Jama’ah Muslimin (Hizbullah), KH Yakhsyallah Mansur,MA pada Pembukaan Pelatihan Train The Trainers Penggerak Ekonomi Umat se-Jabodetabek, di Pondok Pesantren Al-Hilal Bogor, Jawa Barat, Sabtu (10/10).

Dalam sambutan yang disampaikan Sekretaris Agus Sudarmaji,M.Sc, Yakhsyallah Mansur mengingatkan bahwa kegiatan ekonomi sangat erat kaitannya dengan ketakwaan kepada Allah.

Menurutnya, makna dalam perspektif Al-Quran seperti pada awal surat Al-Baqarah, ekonomi tidak cukup masalah berproduksi atau menghasilkan sesuatu, tapi jauh lebih dari itu, yaitu bagaimana mengeluarkan atau berbagi dengan orang lain.

“Lebih penting lagi adalah bagaimana hasil-hasil ekonomi itu dapat untuk menopang laju perkembangan dakwah Islam ke seluruh dunia,” ujarnya.

Ia menambahkan, bagaimana peran ekonomi umat itu sangat diperlukan untuk mengembangkan dakhwah dengan misi persatuan dan kesatuan umat lintas wilayah, seperti bagaimana mengembangkan dakwah Islam di Filipina, Thailand, Malaysia, Sudan, dan seerusny.

“Apalagi jika berbicra soal pembelaan kita terhadap perjuangan pembebasan Al-Aqsha dan Palestina. Itu semua menuntut adanya cadangan dana yang besar dari berbagai sumber,” papar Yakhsyallah Mansur, yang juga Pembina Utama Pondok Pesantren Al-Fatah se-Indonesia itu.

Ia menambahkan, peran para penggerak ekonomi umat sangatlah strategis, tidak kalah dari peran para da’i dan asatidz. Karena itu hendaknya konsep perjuangan ekonomi syariah itu mesti berbasis Al-Quran dan As-Sunnah, lebih mengutamakan kerjasama, sinergi dan kolaborasi, sesuai azas ta’awun alal birri wattaqwa, bukannya persaingan atau kompetisi yang selama ini dikobarkan ekonomi kapitalis.

“Islam itu menuntut pengusaha besar menolong, membina dan membimbing yang kecil, bukan sebaliknya menindas dan menghancurkannya,” imbuhnya.

Apalagi jika dikaitkan dengan dakwah penegakkan Khilafah ‘alaa minhajin nubuwwah (Kepemimpinan yang mengikuti metode kenabian), itu jelas menuntut kesatuan gerak langkah kaum Muslimin, termasuk dalam hal perjuangan ekonomi, dengan acuan gerak adalah teladan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Rasulullah pernah menjadi saudagar, dan juga para sahabat seperti Abdurrahman bin ‘Auf, Abu Bakar, Utsman bin Affan, dan lainnya.

Saat Rasulullah dan para sahabat berada di Madinah, ekonomi dikuasai oleh Yahudi dengan ekonomi ribawinya. Namun dengan jihad yang sungguh-sungguh, akhirnya hancurlah ekonomi ribawi seiring kemenangan atas perang Khaibar.

Tampil sebagai tutor dan motivator dalam pelatihan Sabtu-Ahad (10-11/10), Ir. Shafril Lubis dan Tim Instruktur. (L/Syah/P4)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Comments: 0