Elsa Lefort Hamouri: Penangkapan Suami Saya Bersifat Politis

Aktivis Perancis-Palestina Salah Hamouri [Palestinianalibre.org / Twitter]
Oleh Hassina Mechaï*

Sudah 84 hari pengacara berdarah Perancis-Palestina Salah Hamouri dipenjara di Israel setelah ditangkap di rumahnya di Yerusalem Timur. Sejak saat itu, dia ditempatkan di bawah penahanan administratif dan dipenjarakan untuk waktu enam bulan. Masa tahanannya dapat diperbaharui berdasarkan perintah Menteri Pertahanan Avigdor Lieberman. Baik dia maupun pengacaranya tidak tahu apa alasannya dia ditangkap, ini masuk klasifikasi sebagai “rahasia”.

Selama dua bulan terakhir, Elsa Lefort Hamouri, berjuang untuk mengangkat kasus suaminya. Ia melobi pihak berwenang Perancis dan berbicara kepada media tentang kondisi suaminya. Elsa meminta pemerintah Perancis untuk menuntut pembebasan suaminya segera dan tanpa syarat.

Pada tanggal 25 Oktober, pemerintah Perancis mengatakan bahwa mereka prihatin tentang kondisi Salah Hamouri dan berharap untuk pembebasannya.

“Kami menuntut agar hak Salah Hamouri dihormati dan kami berharap dia akan dibebaskan. Kami juga meminta keluarganya untuk mengunjunginya,” kata Agnès Romatet, juru bicara Kementerian Luar Negeri. “Perancis ingat bahwa penggunaan penahanan administratif yang kasar dan sistematis, melanggar hak pengadilan yang adil dan hak-hak pembelaan.”

Elsa lalu menceritakan kronologi penangkapan suaminya.

“Pada tanggal 23 Agustus, sekitar pukul 04:00, mereka datang dengan beberapa kendaraan lapis baja dan memasuki lingkungan kami di Yerusalem Timur. Mereka tidak tahu di bangunan apa Salah tinggal, dan mereka membangunkan banyak orang. Orang-orang bertopi memasuki flat, mencari, menyita komputer dan USB, lalu membawa Salah ke tahanan. Ketika mereka menangkapnya, mereka menuduh bahwa dia telah melakukan aktivitas di dalam organisasi musuh, ini adalah tuduhan pertama,” kata Elsa.

“Sekarang, karena dia berada di bawah penahanan administratif, tidak ada lagi tuduhan khusus. Rezim ini mengizinkan pemenjaraan seseorang tanpa dakwaan untuk jangka waktu enam bulan yang dapat diperbaharui. Berkasnya diklasifikasikan sebagai rahasia. Baik dia maupun pengacaranya tidak memiliki akses terhadapnya. Karena itu dia dipenjara tanpa alasan,” tambah Elsa.

Sebelumnya, Salah Hamouri pernah ditangkap pada Mei 2005 dan dituduh merencanakan pembunuhan Rabbi Ovadia Yosef, tuduhan yang selalu dia tolak. Setelah ditahan selama tiga tahun tanpa diadili, Salah Hamouri harus tunduk pada prosedur khusus yang dikenal sebagai “tawar-menawar”, atau mengaku bersalah demi menghindari hukuman 14 tahun penjara. Pengadilan militer kemudian menghukumnya tujuh tahun penjara.

Kemudian pada tahun 2011, Salah Hamouri adalah satu dari 1.027 tahanan Palestina yang dipertukarkan sebagai imbalan atas pembebasan tentara Israel Gilad Shalit. Pemerintah Perancis meminta Salah menjadi salah satu dari kesepakatan tersebut. Saat ini Salah Hamouri ditahan di sebuah penjara di Negev.

“Di wilayah ini, di musim dingin sangat dingin dan di musim panas sangat panas. Saya tidak bisa berbicara dengannya. Ibunya bisa mengunjunginya, dia berhak mendapat satu kunjungan keluarga setiap bulan,” kata Elsa.

Salah Hamouri tidak dapat berkomunikasi dengan dunia luar dan sejauh ini tidak ada surat yang dikirim untuk disampaikan kepadanya.

“Kami telah memberi tahu konsulat, karena perlindungan konsuler juga harus memastikan kondisinya bermartabat,” kata Elsa.

Namun, ibu Salah yang membawa kamus Perancis-Arab untuknya, tidak bisa memberikan kamus itu. Mantan tahanan penjara yang sama mengatakan kepada Elsa bahwa biasanya surat keluarga tidak disampaikan kepada tahanan.

Menurut Elsa, penangkapan ini merupakan bagian dari kampanye pelecehan yang sedang berlangsung terhadap suaminya.

“Tindakan pertama atas Salah setelah dibebaskan pada tahun 2011, dia tidak dapat berkuliah di Universitas Birzeit, dekat Ramallah, untuk belajar hukum,” katanya.

Elsa kini tinggal di dekat Paris bersama anak laki-lakinya yang berusia dua tahun. Ia dicegah untuk kembali ke Israel pada Januari 2016 saat ia hamil enam bulan, dengan alasan bahwa ia akan membahayakan keamanan Israel.

“Mereka ingin mencegah anak kami lahir di Yerusalem dan memiliki status penduduk setempat. Salah menulis surat publik di mana dia mengatakan bahwa anak kami dan saya adalah ‘sandera kebijakan Israel’. Israel ingin mengosongkan Yerusalem dari penduduk Palestina,” kata Elsa.

Sebelum dia ditangkap, Salah mengunjungi istri dan anaknya di Perancis setiap tiga bulan sekali.

Dukungan dari Berbagai Kalangan

Salah adalah aktivis organisasi hak asasi manusia Addameer, yang bekerja untuk mendukung tahanan politik Palestina. Ia bertugas selama beberapa tahun sebagai penyelidik lapangan. Dia ditangkap tiga hari setelah dia menjadi pengacara.

“Ini adalah keheningan umum yang saat ini menyentuh Salah. Kami melihat ini selama perang sebelumnya melawan Gaza – Perancis lamban bereaksi. Begitu ketidakadilan menyentuh orang Palestina, ada kebisuan. Saya tidak tahu mengapa media diam, ini keterlaluan,” kata Elsa.

Ia membandingkan kasus Lou Biro wartawan Perancis yang ditangkap di Turki. Setelah 15 hari, Macron menelpon Erdogan untuk kebebasan Lou Biro.

“Kenapa tidak untuk Salah?” tanya Elsa.

Namun, beberapa pejabat terpilih telah mengambil sikap dan mempertanyakan pihak berwenang.

“Kami merasakan ada sejumlah dukungan besar yang tumbuh. Sebuah gabungan pengacara telah dibentuk untuk membela Salah yang ditangkap karena menjalankan profesinya,” kata Elsa.

Komite pendukung lain baru saja dibentuk dari perwakilan terpilih Perancis dan Eropa, LSM, serikat pekerja dan partai. Mereka memutuskan untuk mendukung Salah Hamouri, termasuk profil tinggi seperti Richard Falk, Jean Ziegler, Noam Chomsky, Angela Davis, Ken Loach, Brian Eno, QC Michael Mansfield, Roger Waters, dan Amnesty International .

Pada bulan Februari, penahanan Salah dapat diperbaharui tanpa pembenaran dan tanpa bukti.  (A/RS3/RI-1)
*Hassina Mechaï adalah seorang jurnalis Prancis-Aljazair yang berbasis di Paris

Mi’raj News Agency (MINA)