Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Emil Audero: Kiper Timnas Indonesia yang Menepis Mimpi Buruk

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - 10 jam yang lalu

10 jam yang lalu

85 Views ㅤ

Emil Audero. (FB/Emil Audero Mulyadi)

ADA SATU momen di final FIFA ASEAN Cup 2026 yang akan dikenang sepanjang sejarah sepak bola Indonesia.

Stadion Gelora Bung Karno bergemuruh, 70 ribu suporter menahan napas, dan di bawah mistar gawang, seorang pria berdiri dengan tenang. Bola mengarah ke sisi kirinya. Dalam sekejap, ia menjatuhkan diri, menepis bola itu, dan memastikan Indonesia juara!

Namanya Emil Audero. Dan malam itu, ia bukan hanya menjadi kiper. Ia menjadi pembeda antara mimpi dan kenyataan.

Anak Lombok yang Besar di Turin

Baca Juga: Usai Juara FIFA ASEAN Cup, Timnas Indonesia Bersiap Hadapi Piala Asia 2027

Emil Audero Mulyadi lahir di Mataram, Nusa Tenggara Barat, pada 18 Januari 1997. Ayahnya, Edy Mulyadi, berasal dari Lombok. Ibunya, Antonella Audero, adalah warga Italia. Ketika Emil baru berusia satu tahun, keluarganya pindah ke Cumiana, sebuah kota kecil di dekat Turin.

Di tanah Italia itulah Emil tumbuh, bermain bola, dan menemukan takdirnya sebagai penjaga gawang. Sebuah takdir yang, menurut cerita, tidak pernah ia duga sebelumnya.

Di Cumiana Calcio, Emil awalnya bermain di posisi non-kiper. Pelatihnyalah yang melihat potensi besar di bawah mistar gawang, sebuah keputusan yang kemudian mengubah hidupnya .

Pada usia 11 tahun, Emil bergabung dengan akademi Juventus. Ia menimba ilmu di salah satu klub terbesar Italia itu selama hampir satu dekade, sebelum akhirnya menembus tim utama dan mencatatkan debut di Serie A pada Mei 2017 melawan Bologna.

Baca Juga: Ini Kata-Kata Pelatih John Herdman Usai Timnas Juara FIFA ASEAN Cup 2026

Perjalanan Panjang di Serie A

Karier Emil di Italia bukan perjalanan yang instan. Ia pernah menjadi deputi legenda Gianluigi Buffon di Juventus. Persaingan ketat membuatnya harus mencari menit bermain di klub lain. Venezia menjadi pelabuhan pertamanya, lalu Sampdoria, di mana ia benar-benar menemukan jati dirinya sebagai kiper utama.

Selama lima musim di Sampdoria, Emil tampil lebih dari 100 kali di Serie A, menghadapi penyerang-penyerang terbaik Italia. Ia juga sempat merasakan juara Serie A bersama Inter Milan pada musim 2023-2024, meskipun hanya bermain empat kali.

Ia kemudian berkelana ke Como, Palermo, dan Cremonese, terus menjaga gawang di kasta tertinggi sepak bola Italia.

Baca Juga: Timnas Portugal Masih Buka Pintu untuk Ronaldo, Pelatih Jorge Jesus Sebut Hanya Kesalahpahaman

Di level internasional, Emil pernah membela Italia dari U-15 hingga U-21, mencatatkan sepuluh penampilan bersama Gli Azzurri muda . Namun, tim senior Italia tidak pernah memanggilnya. Dan di situlah takdir mulai berbelok.

Pulang ke Tanah Kelahiran

Pada Maret 2025, Emil resmi menjadi Warga Negara Indonesia. Proses naturalisasi ini membuka jalan bagi pria yang selama ini dikenal sebagai kiper Italia untuk membela negara kelahiran ayahnya.

Debutnya bersama Timnas Indonesia terjadi pada 5 Juni 2025, melawan China di Kualifikasi Piala Dunia 2026. Indonesia menang 1-0, dan Emil mencatatkan clean sheet di laga pertamanya. Sejak itu, ia menjadi bagian penting dari skuad Garuda.

Baca Juga: “King Indo” Resmi Jadi “King ASEAN”

“Buat saya, ini bukan sekadar sepak bola. Ini tentang keluarga dan tanah kelahiran,” kata Emil suatu ketika .

Malam yang Mengubah Segalanya

Final FIFA ASEAN Cup 2026 melawan Thailand berlangsung dramatis. Indonesia sempat unggul, lalu disamakan. Thailand bahkan berbalik memimpin 2-1 pada menit ke-111 saat bermain dengan 10 orang. Sebuah ironi yang nyaris menjadi tragedi. Elkan Baggott menyamakan kedudukan pada menit ke-116, membawa laga ke adu penalti.

Di babak tos-tosan, Emil berdiri tegak. Kapten Thailand, Sarach Yooyen, gagal. Lalu giliran Nattapong Sayriya, penendang keempat Thailand. Bola mengarah ke sisi kiri gawang. Emil bergerak cepat, menepis bola itu, dan memastikan Indonesia juara!

Baca Juga: Juara FIFA ASEAN Cup, Ini Peringkat Indonesia di Dunia

Bukan Sekadar Kiper

Di luar lapangan, Emil adalah sosok yang menarik. Ia mahir memainkan piano. Musik rock dan pop menjadi teman sebelum bertanding. Dan idola terbesarnya bukanlah kiper atau pesepakbola, melainkan Roger Federer, legenda tenis yang ia kagumi karena sikapnya di dalam dan di luar lapangan.

Namun yang paling menyentuh: ketika ditanya tentang destinasi liburan favoritnya, Emil tidak menyebut Italia atau Spanyol. Ia menyebut Indonesia. Lombok. Tanah kelahirannya.

Emil juga pernah menjadi korban lemparan petasan saat membela Cremonese melawan Inter Milan pada Februari 2026. Meskipun mengalami luka robek di kaki dan kehilangan pendengaran sesaat, ia tetap melanjutkan pertandingan hingga selesai. Mentalnya memang sudah ditempa di Serie A.

Baca Juga: Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026 Melalui Drama Adu Pinalti

Pahlawan yang Tak Pernah Menduga

Malam 5 Oktober 2026, Emil Audero menjadi pahlawan. Bukan hanya karena penyelamatannya. Tapi karena ia memilih pulang. Karena ia memilih Indonesia. Karena ia, anak Lombok yang besar di Turin, berdiri di bawah mistar gawang di Gelora Bung Karno dan menepis mimpi buruk yang selama 35 tahun menghantui sepak bola Indonesia.

Dan ketika peluit panjang berbunyi, ketika stadion meledak dalam sorak kemenangan, Emil Audero tersenyum. Bukan hanya karena ia menjadi juara. Tapi karena ia sudah ada di rumahnya sendiri, Indonesia! []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Indonesia Pulang dari Asian Games dengan 39 Medali, 5 Emas, Apa yang Harus Dibenahi?

Rekomendasi untuk Anda