Empat Catatan FSGI Dalam Menangkal Radikalisme di Sekolah

Jakarta, MINA – Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) memiliki empat catatan penting dalam menangkal radikalisme di sekolah.

Catatan FSGI ini berdasarkan dari hasil kajian dan diskusi bersama dengan pemerintah, dalam rangka membangun strategi kontraradikalisme dan deradikalisasi di dunia pendidikan khususnya di sekolah.

Pertama, kekerasan dalam bentuk apapun semestinya tidak lagi terjadi di masyarakat, apalagi di dunia pendidikan. Ideologi radikalisme yang berujung dengan aksi kekerasan berawal dari cara pandang yang tidak menghargai perbedaan. Merasa bahwa pendapat dirinya atau kelompoknya yang paling benar dan anti terhadap pluralitas.

“Pembelajarannya tidak didisain menghargai perbedaan. Sehingga para siswa dan guru terjebak pada ‘intoleransi pasif,’ yaitu perasaan dan sikap tidak menghargai akan perbedaan (suku, agama, ras, kelas sosial, pandangan kegamaan dan pandangan politik), walaupun belum berujung tindakan kekerasan. Model intoleransi pasif inilah yang mulai muncul di dunia pendidikan kita,”  demikian uraian Heru Purnomo, Sekjen FSGI sebagaimana keterangan tertulis yang diterima MINA.

Ia menambahkan, maraknya aksi terorisme yang terjadi akhir-akhir ini membuat kita menjadi terenyuh. Bukan saja memakan korban jiwa, kenyataan yang menambah rasa miris kita adalah aksi terorisme kali ini dilakukan oleh kedua orangtua yang membawa ikut serta anak-anaknya.

Anak-anak sudah menjadi target indoktrinasi radikalisme yang berujung pada perilaku terorisme. Tentu fenomena ini sungguh di luar nalar dan melukai perasaan kita sebagai pendidik, khususnya FSGI sebagai organisasi profesi guru.

Kedua, guru terjebak kepada pembelajaran yang satu arah. Maksudnya adalah pratik pembelajaran di kelas masih berpusat pada guru (teacher centered learning). Guru menerangkan pelajaran, siswa mendengar. Guru tahu, siswa tidak tahu. Guru selalu benar dan siswa bisa salah.

Di samping itu, Wasekjen FSGI, Satriwan Salim  mengatakan, ‘Relasi pembelajaran yang terbangun antara guru dan siswa adalah relasi guru superior dan siswa inferior.’

“Tidak tercipta ‘pembelajaran dialogis’ antara siswa dan guru. Penyemaian radikalisme terjadi ketika guru terbiasa mendoktrin pelajaran, apalagi dalam ilmu sosial dan agama. Tidak terbangunnya suasana pembelajaran dialogis, mendengarkan pendapat argumentasi siswa,” ujar Satriwan yang juga seorang guru di SMA Labschool Jakarta.

Ketiga, sikap siswa yang terbuka terhadap praktik intoleransi mulai berkembang di kelas ketika diajar oleh guru yang membawa pandangan politik pribadinya ke dalam kelas.

Keempat, masuknya bibit radikalisme ke sekolah karena sekolah cenderung tidak memperhatikan secara khusus dan ketat perihal kegiatan kesiswaan, apalagi terkait keagamaan. Ditambah intervensi alumni dan pemateri yang diambil dari luar sekolah tanpa screening oleh guru atau kepala sekolah.

Masuknya pemikiran yang membahayakan kebinekaan ini bisa dari alumni melalui organisasi sekolah atau ekstrakurikuler, pemateri kegiatan kesiswaan yang bersifat rutin (sepeti mentoring dan kajian terbatas).

Bibit-bibit radikalisme sudah tumbuh sejak dini di sekolah melalui pendidikan. Pembelajaran di kelas yang tidak terbuka terhadap pergulatan pendapat dan cara pandang. (R/R10/R01)

 

Mi’raj News Agency (MINA)

Comments: 0