Empat Jam di Mobil, Setahun di Penjara Israel, Setahun di Afghanistan

Oleh: Taufiqurrahman, Redaktur MINA Arabic

Saya kaget. Lelaki 50 tahun ini pernah mencicipi pahitnya penjara Israel. Setahun. Lebih kaget lagi, ia pernah jihad bersama Syeikh Abdullah Azzam di Afghanistan. Setahun juga. Karna itu akhirnya ia ditangkap keamanan Israel saat kembali ke negerinya, Palestina.

Saya sering menemani masyayikh dari Timur Tengah dan Palestina saat jaulah ke Indonesia. Selalu ada kisah menarik. Tapi syeikh satu ini lebih menarik. Banyak kejutan. Namanya Syeikh Attha bin Muhammad Al Mohtaseb. Hakim di Mahkamah Agung (MA) Palestina.

Dua hari saya bersamanya. Sabtu dan Ahad lalu (25-26/5). Mengisi ceramah dari masjid ke masjid di Banten. Saya yang menerjemahkan.

Sabtu siang, empat jam perjalanan dari Cibubur menuju Banten saya sengaja tidak tidur. Sibuk menggali kisah hidup Syeikh Attha. Alhamdulillah dia terbuka. Juga sering bercanda. Di mobil mungil milik sang sopir, Aang Gunawan, obrolan kami mengalir seru.

Bermula dari soal situasi terkini Palestina, pertanyaan saya mulai menjurus kepada kehidupan pribadinya. Terutama saat muda.

Seperti pemuda Palestina lainnya, ia aktif ikut aksi-aksi perlawanan. Hingga akhirnya membuat dia cukup dekat dengan tokoh-tokoh pergerakan jihad di Palestina dan Timur Tengah, di antaranya Syeikh Abdullah Azzam.

Pertemuan dengan penulis buku “Surat Dari Garis Depan” itu bermula saat ia kuliah S1 di Doha, Qatar. Di sana ia belajar langsung dengan tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin, di antaranya Syeikh Yusuf Qordhowi, dosennya di jurusan syariah.

Lima tahun menimba ilmu dari banyak ulama-ulama pergerakan memupuk semangat jihadnya. Apalagi saat itu ia masih muda, 25 tahun. Bersama kawan-kawan kuliah, Syeikh Attha berangkat ke Afghanistan yang tengah didera perang melawan Uni Soviet.

Dia pun bergabung bersama mujahidin di bawah komando langsung Syeikh Abdullah Azzam. Mengikuti program pelatihan jihad. Berbagai jenis senjata pernah ia genggam.

“Pistol, AK 47, AK 74, AK 101, M 16 semuanya pernah saya pegang,” katanya enteng.

Setahun jihad di Afghanistan membuatnya rindu kembali ke Palestina. Terlebih situasi di negerinya tak kalah pelik. Bentrokan antarwarga Palestina dengan keamanan Israel hampir setiap hari terjadi.

Singkat cerita ia pun sampai di kota Khalil, Tepi Barat. Kampung halamannya. Namun, tak lama setelah itu tiba-tiba ia ditangkap dan dijebloskan penjara Israel. Rupanya jihad di Afghanistan sebabnya.

Setahun dia mendekap di penjara. Berbagai bentuk penganiayaan dialaminya. Ia ingat betul pernah disekap di ruang yang lebih sempit dari peti mayat. Berhari-hari dalam gelap. Tak tahu pagi, siang dan malam. Kaki pun tak sanggup menekuk. Meski mendapat asupan makanan dan minuman, siapa yang mau berada dalam kondisi demikian?

Di hari lain, penjaga Israel memaksanya duduk terikat di kursi kecil. Berjam-jam di ruangan kecil tanpa bisa bergerak.

Israel ingin, dengan siksaan tersebut, menjatuhkan mental dan kejiwaan para tawanan Palestina. Hingga saat keluar, mereka tidak lagi melakukan aksi perlawanan.

Nama Syeikh Attha masuk dalam catatan hitam kepolisian Israel. Meski telah keluar dari penjara, ia merasa tidak bebas. Keamanan Israel berusaha membatasi aktivitasnya. Yang paling membuatnya tertekan adalah saat Israel melarangnya mengunjungi Masjid Al-Aqsha selama 100 tahun.

“Siapa yang usianya lebih dari itu?!” ujarnya kecewa.

Ia pernah diberhentikan kepolisian Israel saat menuju Ramallah untuk kerja. Tanpa alasan jelas mereka mengambil kartu identitas dan membuangnya ke jurang pinggir jalan. Berjam-jam ia mencarinya hingga akhirnya memutuskan kembali ke rumah.

“Mereka kapan saja bisa seenaknya melarang kami menuju satu daerah. Tanpa alasan jelas,” terangnya.

Hampir di semua jalanan di Tepi Barat terdapat check point. Israel punya wewenang mengatur siapa yang boleh dan tidak boleh lewat. Anak kecil, perempuan, tua apalagi anak muda wajib diperiksa. Sering tanpa alasan mereka tidak diizinkan lewat. Seperti sering dialami Syeikh Attha.

Bapak dari dua bujang tersebut kini sudah jadi hakim MA. Diangkat di usia muda, 30 tahun. Dengan gaji cukup besar ia hidup layak. Dinding rumahnya menempel dengan Masjid Al Ibrahimy. Ia juga jadi imam di masjid itu.

Jalan jihadnya kini lebih banyak melalui mimbar. Di berbagai negara ia sering berbicara soal Palestina dan Al-Aqsha. Mengajak muslimin berkunjung ke tempat suci ke tiga umat Islam tersebut.

“Kami bangsa Palestina seperti hidup dalam penjara. Tentu kami senang saat ada saudara yang menjenguk kami. Kami ajak Anda berkunjung ke Al-Aqsha. Menunaikan shalat di sana. Menjenguk saudara-saudara anda yang berjuang menjaganya. Memberikan motivasi kepada mereka,” pesan Syeikh Attha yang selalu ia ulangi di dalam ceramah-ceramahnya selama lima hari di Indonesia.

Semoga Allah kelak pertemukan kita dalam satu shaf shalat di Masjid Al-Aqsha. (A/RA 02/RI-1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)