Empat Tokoh Sentral Pendiri Kantor Berita Islam Tiga Bahasa

Sembilan tahun Kantor Berita Islam Mi’raj News Agency (MINA) berdiri menjunjung citra Islam yang Rahmatan lil Alamin, tepat 18 Desember 2012 MINA di-launching atas dasar pemikiran empat tokoh sentral, yaitu Allahuyarham Imaam Muhyiddin Hamidy, Allahuyarham Joserizal Jurnalis, Ir. Faried Thalib dan Allahuyarham Abdurrahman Sony Sugema.

Inisiasi ini merupakan tindak lanjut dari Konferensi Al-Quds dan Palestina yang digelar di Bandung Jawa Barat pada 4-5 Juli 2012. Pemikiran tersebut muncul melihat kenyataan, media-media di seluruh dunia yang dikuasai oleh barat dengan mendiskreditkan Islam, dengan mengidentikkan Islam sebagai agama yang buruk, sampai dicap teroris. Bahkan para pejuang yang memperjuangkan kemerdekaan di Palestina diberitakan media pro barat sebagai sebuah tindakan terorisme.

Kepala Kantor Berita Islam MINA Biro Sumatera, Nurhadis dalam sosialisasinya pada Tabligh Akbar Jama’ah Muslimin (Hizbullah) Niyabah Natar, di Musholla Hasanah Husin, Ahad (19/12) menyatakan, MINA hadir dengan visi melanjutkan risalah kenabian dalam menyampaikan dakwah Islam yang Rahmatan Lil Alamin, yaitu rahmat bagi seluruh alam, artinya tidak hanya untuk umat Islam tapi juga seluruh manusia bahkan termasuk bagi tumbuh-tumbuhan dan makhluk hidup lainnya.

“Ini yang menjadi tugas kita, Media Islam MINA yang berdiri membawa tugas pelanjut risalah kenabian. Maka kita tetap menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik, menjadi media yang independen, terpercaya, berimbang,” jelasnya.

Nurhadis menjelaskan, atas dasar itulah kemudian MINA hadir melalui tangan keempat tokoh sentral pendirinya, pertama Allahuyarham Imaam Muhyiddin Hamidy, seorang tokoh jurnalis di Indonesia yang pernah menjabat sebagai Sekjen Kantor Berita Nasional Antara, wafat pada 2014 lalu.

Sentuhan tangannya yang memang sejak sekolah menengah atas sudah menjadi jurnalis ini kemudian melahirkan Kantor Berita Islam bahkan langsung dengan tiga bahasa, Indonesia, Arab, dan Inggris. Meski dirasa mustahil saat itu, rupanya terungkap setelahnya, Hamidy yang semasa hidupnya adalah pimpinan jaringan Pondok Pesantren Shuffah Hizbullah dan Madrasah Al-Fatah yang memiliki lebih dari 30 cabang di seluruh Indonesia ini telah menyiapkan SDM melalui pendirian Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Fatah pada 2000.

Mahasiswa jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) STAI Al-Fatah dan juga alumni Ponpes Shuffah Hizbullah dan Madrasah Al-Fatah inilah yang sebagian besar kemudian menjadi wartawan di Kantor Berita Islam yang di-launching di Masjid Agung Al-Azhar oleh Ketua DPR RI saat itu, Dr. Marzuki Alie.

Tokoh kedua, yaitu Allahuyarham dr. Joserizal Jurnalis, SPOT., wafat pada 2020. Seorang dokter bedah tulang, yang juga aktivis kemanusiaan pendiri Medical Emergency Rescue-Committee (MER-C) yaitu sebuah organisasi sosial kemanusiaan yang bergerak dalam bidang kegawatdaruratan medis dan mempunyai sifat amanah, professional, netral, mandiri, sukarela dan mobilitas tinggi yang dikenal karena menginisiasi pembangunan karya monumental Rumat Sakit Indonesia di Gaza Palestina dan juga Myanmar.

Adapun tokoh ketiga, Ir. Faried Thalib, beliau adalah pendiri sebuah saluran radio yang saat ini sudah memiliki jutaan pendengar, yaitu Radio Silaturahim (Rasil), berdiri pada 2009 dengan tagline “Untuk Islam yang Satu” ini juga merupakan bagian dari pada media Islam kita, dan juga merupakan bagian daripada sejarah berdirinya Kantor Berita MINA.

Ir. Faried juga merupakan Koordinator Teknik pada pembangunan RSI Gaza Palestina. Ir. Faried yang sudah beberapa kali berangkat dalam misi kemanusiaan ke Gaza Palestina dan misi kemanusiaan yang lain merasakan pentingnya kehadiran media Islam berbentuk kantor berita dengan alamat situs www.minanews.net ini.

Sementara tokoh keempat, Allahuyarham Abdurrahman Sony Sugema, MBA., wafat pada tahun 2016. Pendiri sebuah lembaga bimbingan belajar Sony Sugema College (SSC) yang berpusat di Bandung, berdiri sejak 1990 dan sudah mengantarkan ribuan siswa ke sekolah dan PTN favorit. Abdurrahman juga merupakan seorang aktivis Islam yang gigih dalam memperjuangkan kesatuan umat Islam. Abdurrahman juga merupakan salah satu tokoh yang mempunyai peran besar dalam pergelaran Konferensi Al-Quds dan Palestina di Bandung yang pada kemudian hari melahirkan MINA.

“Beliau-beliau inilah yang awalnya menginisiasi bagaimana caranya umat Islam punya media, maka muncullah MINA ini. Qadarullah tiga di antaranya sudah mendahului kita, mudah-mudahan kita bisa melanjutkan perjuangan beliau-beliau ini,” harap Nurhadis.

Nurhadis menegaskan, MINA berdiri membawa misi yang mulia, bahkan tersirat dalam tagline-nya, “Peace in Palestine, Peace in the World.” Hal ini menurutnya sejalan dengan amanah konstitusi yang tertuang dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 bahwa Kemerdekaan adalah Hak Segala Bangsa, dan kita sebagai bangsa Indonesia perlu berperan aktif menciptakan kedamaian di atas dunia.

“MINA mengambil peran ini, membantu pemerintah Indonesia untuk mewujudkan bagaimana caranya Palestina yang pada Konferensi Asia-Afrika merupakan satu-satunya negara yang sampai saat itu belum merdeka. Maka mudah-mudahan upaya yang dilakukan oleh MINAnews.net ini merupakan bagian dari upaya membantu pemerintah untuk terus menggelorakan semangat pembebasan Masjidil Aqsha dan perjuangan mencapai kemerdekaan Palestina,” ujarnya.

Terkahir, kami tutup dengan mengutip statement Allahuyarham Imaam Muhyiddin Hamidy, “Sejarah membuktikan bahwa apabila Aqsa dalam keadaan damai maka dunia ini akan damai, kalau Masjid Al-Aqsa dalam keadaan rusuh, maka dunia tidak akan tentram. Inilah yang kita alami dan terjadi sepanjang beberapa dekade sejak hapusnya khilafah utsmaniyah,” katanya.

Kita berharap MINA atas inisiasi empat tokoh tersebut, dapat semakin besar perannya dalam upaya menciptakan kedamaian di seluruh dunia dengan terlebih dahulu mengupayakan kedamaian di Palestina. (A/R12/B03/R1)

 

Mi’raj News Agency (MINA).