Enam Mindset Orang Sukses dalam Manajemen Waktu

Oleh: Bahron Ansori, wartawan MINA

Orang-orang terbiasa dengan yang cerdas. Mereka menjadikan mindset sebagai sebuah kekuatan untuk merubah hidupnya menjadi lebih baik. Maka tak heran jika kita memperhatika orang-orang terdahulu yang sukses dari kalangan para salafus shalih, setidaknya ada hal yang dilakukan untuk meraih sukses. Enam hal itu antara lain sebagai berikut.

Pertama, menyadari waktu pagi adalah waktu terbaik untuk produktif. Dari sahabat Shakhr Al Ghomidiy, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda,

اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِى فِى بُكُورِهَا

“Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.”

Apabila Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam mengirim peleton pasukan, beliau Shallallahu ‘Alaihi Wassallam mengirimnya pada pagi hari. Sahabat Shokhr sendiri (yang meriwayatkan hadits ini, pen) adalah seorang pedagang. Dia biasa membawa barang dagangannya ketika pagi hari. Karena hal itu dia menjadi kaya dan banyak harta. Abu Daud mengatakan bahwa dia adalah Shokhr bin Wada’ah. (HR. Abu Daud no. 2606. Hadits ini dishohihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dho’if Sunan Abi Daud)

Ibnu Baththal mengatakan, “Hadits ini tidak menunjukkan bahwa selain waktu pagi adalah waktu yang tidak diberkahi. Sesuatu yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (pada waktu tertentu) adalah waktu yang berkah dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebaik-baik uswah (suri teladan) bagi umatnya.

Waktu pagi juga adalah waktu yang penuh semangat untuk beramal. Dalam Shahih Bukhari terdapat suatu riwayat dari sahabat Abu Hurairah dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam. Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda,

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ ، فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا ، وَاسْتَعِينُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَىْءٍ مِنَ الدُّلْجَةِ

“Sesungguhnya agama itu mudah. Tidak ada seorangpun yang membebani dirinya di luar kemampuannya kecuali dia akan dikalahkan. Hendaklah kalian melakukan amal dengan sempurna (tanpa berlebihan dan menganggap remeh). Jika tidak mampu berbuat yang sempurna (ideal) maka lakukanlah yang mendekatinya. Perhatikanlah ada pahala di balik amal yang selalu kontinu. Lakukanlah ibadah (secara kontinu) di waktu pagi dan waktu setelah matahari tergelincir serta beberapa waktu di akhir malam.” (HR. Bukhari no. 39. Lihat penjelasan hadits ini di Fathul Bari).

Yang dimaksud ‘al ghodwah’ dalam hadits ini adalah perjalanan di awal siang. Al Jauhari mengatakan bahwa yang dimaksud ‘al ghodwah’ adalah waktu antara shalat fajar hingga terbitnya matahari. (Lihat Fathul Bari 1/62, Maktabah Syamilah)

Jadi, manfaatkan waktu pagi kita sebaik mungkin. Di waktu pagi juga kita bisa fokus mengerjakan aktifitas dan tidak terdistraksi dengan orang lain sebagaimana terjadi di waktu siang atau sore.

Kedua, selalu punya rencana dan skala prioritas. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

فَاِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْۙ

وَاِلٰى رَبِّكَ فَارْغَبْ

“Maka bila engkau sudah selesai mengerjakan satu urusan, maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh ibadah yang lainnya. Dan hanya kepada Rabbmulah hendaknya kamu berharap.” (Qs. Al Insyirah 7-8)

Jadi seorang muslim hendaknya selalu memiliki rencana dan target ke depan. Di sinilah pentingnya jadwal kegiatan, sehingga kita bisa mengatur skala prioritas.

Orang yang berlari memiliki target atau tujuan tentunya akan berbeda dengan orang yang berlari tanpa tujuan. Oleh karena itu pastikan kita mempunyai rencana penggunaan waktu yang jelas setiap harinya.

Ketiga, bersegera dan jangan menunda-nunda. Menunda-nunda pekerjaan yang baik adalah kebiasaan yang buruk. Akhirnya, kita terbiasa bekerja mendekati dead line dan harus puas dengan hasil yang kurang maksimal.

Ibnu Umar ra berkata, “Idza amsaita fala tantadzirussobah, wa idza ukhbahta fala tantadziril masak” (Jika engkau berada di sore hari, jangan menunggu datangnya pagi dan jika engkau berada di pagi hari, jangan menunggu datangnya sore).

Keempat, jauhi perkara yang sia-sia karena waktumu sangat berharga. Waktu yang kita miliki jika tidak digunakan untuk kebaikan, maka ia akan terhabiskan untuk keburukan. Setiap kali kita memiliki waktu luang, maka gunakanlah untuk hal yang positif; seperti berolah raga, belajar bahasa asing, silaturahmi dan sebagainya.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam, beliau bersabda,

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ

Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat. (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Nah, jika perkara yang sia-sia saja perlu kita tinggalkan, apalagi perkara maksiat. Selain kemaksiatan bisa membuat kita tidak produktif, juga kemaksiatan itu membuat kita malas, tubuh menjadi lemah dan terhalang dari rezeki.

Kelima, manfaatkan kesempatan sesempit apapun. Kesempatan itu terbatas, dan waktu tak bisa diulang kembali. Karena itu, seorang yang berakal tidak akan menyia-nyiakan peluang, karena kita tidak pernah tau peluang yang mana yang bisa mengubah kehidupan kita dengan izin Allah Ta’ala.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda,

إن قَامَتِ السَّاعَةُ وَفِي يَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا تَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَغْرِسْهَا

 “Apabila hendak datang hari kiamat dan di tangan salah seorang di antara kalian terdapat benih untuk di tanam, jika ia mampu menanamnya sebelum hari kiamat, maka tanamlah.” (HR. Al-Bukhari)

Senada dengan hadis Nabi di atas, dalam al-Jami’ al-Kabir karya al-Suyuthi, anjuran tersebut juga dikatakan oleh Umar bin Khathab kepada seseorang tua renta dalam riwayat berikut.

Dari Amarah bin Khuzaimah berkata, “Aku mendengar Umar bin Khathab berkata kepada bapakku. “Apa yang menghalangimu untuk menanam lahanmu?” Bapakku berkata, “Aku tua renta yang akan mati besok.” Umar berkata, “Ku yakinkan Kau harus menanamnya.”

Riwayat tersebut juga disebutkan dalam kitab al-Silsilah al-Shahihah karya Nashiruddin al-Albani.

Jadi, meskipun kita tahu kesempatan yang kita miliki sangat terbatas, namun jangan sampai hal tersebut membuat kita putus asa dan menyerah untuk beramal.

Keenam, keberkahan waktu itu hanya bersumber dari Allah. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 26,

قُلِ اللّٰهُمَّ مٰلِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِى الْمُلْكَ مَنْ تَشَاۤءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاۤءُۖ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاۤءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاۤءُ ۗ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۗ اِنَّكَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

“Katakanlah (Muhammad), “Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.”

Kalau kita yakin dan beriman kepada firman Allah Ta’ala tersebut, maka sudah sepatutnya kita meminta pertolongan hanya kepada Allah agar Allah memberkahi setiap waktu dan setiap amal yang kita lakukan karena Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Semoga bermanfaat, wallahua’lam.(A/RS3/R1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)