Erdogan: Pemimpin FETO Akan Didatangkan ke Turki

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. (Foto ahaber)

Ankara, MINA – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyatakan bahwa pemimpin Organisasi Teroris Fethullah (FETO) yang berbasis di Amerika Serikat, Fethullah Gulen akan didatangkan ke Turki cepat atau lambat, Selasa (17/4).

Erdogan dalam pidatonya di parlemen Turki menyampaikan bahwa 80 anggota FETO di luar negeri telah dipulangkan ke Turki.

“Keadaan pemimpin teroris, yang merasa telah aman di Pennsylvania itu, tidak akan jauh berbeda. Cepat atau lambat kami akan menangkapnya,” kata Erdogan. seperti Anadolu Agency melaporkan dikutip MINA.

Erdogan mengatakan, anggota FETO yang telah mengkhianati negara ini, akan mendapatkan balasan yang pantas.

Organisasi Teroris Fetullah (FETO) dan pemimpinnya yang berbasis di AS, Fetullah Gulen melakukan upaya kudeta yang gagal pada 15 Juli 2016. Kudeta itu menyebabkan 250 orang tewas dan hampir 2.200 orang terluka.

Pelaku serangan teroris terhadap demokrasi Turki juga mencoba membunuh Presiden Turki, membom parlemen Turki, warga sipil serta sejumlah bangunan pemerintah.

FETO juga diduga berada di balik kampanye jangka panjang untuk menggulingkan pemerintahan melalui infiltrasi institusi-institusi Turki, khususnya militer, kepolisian, dan kejaksaan.

Erdogan juga menyampaikan bahwa 4.205 teroris telah dilumpuhkan sebagai bagian dari Operasi Ranting Zaitun di wilayah Afrin, Suriah.

Turki meluncurkan Operasi Ranting Zaitun pada 20 Januari untuk membasmi kelompok teroris YPG/PKK dan Daesh dari Afrin di barat laut Suriah, di tengah meningkatnya ancaman dari kawasan itu.

Pada 18 Maret, pasukan yang didukung Turki membebaskan pusat kota Afrin, yang telah menjadi tempat persembunyian utama bagi YPG/PKK sejak 2012.

“Selain itu, sejumlah 341 teroris PKK di Irak utara dan 214 lainnya di Turki juga telah dilumpuhkan,” tambah Erdogan.

PKK yang terdaftar sebagai organisasi teroris oleh Turki, Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa, telah melancarkan kampanye teror terhadap Turki selama lebih dari 30 tahun dan bertanggung jawab atas kematian hampir 40.000 orang.

Lebih dari 1.200 personil keamanan Turki dan warga sipil, termasuk sejumlah perempuan dan anak-anak tewas sejak kelompok itu melanjutkan kampanye bersenjatanya melawan Turki pada 2015. (T/R03/RS2)

Mi’raj News Agency (MINA)