Erdogan Pemimpin Muslim Yang Lantang Membela Umat Islam

Oleh: Rifa Berliana Arifin, Kared Bahasa Arab MINA

Pada hari milad kelahiran Nabi Rosulullah Shallahu alaihi wassalam, banyak dari Umat Islam yang tidak menyadari bahwa Umat Islam saat ini sudah memiliki pemimpin yang berani mengimbangi keangkuhan hegemoni ideologi barat yang matrealistik selama hampir seratus tahun paska runtuhnya Khilafah Utsmani tahun 1924.

Karena setelah runtuhnya Khilafah Uthmaniyah umat Islam di seluruh dunia seperti anak ayam yang kehilangan induk.

Meskipun diberkahi dengan kekayaan sumber daya alam dengan jumlah populasi yang besar serta wilayah yang begitu kaya, raya. Tapi fakta sejarahnya, Umat Islam justru bergantian menjadi budak imperialis; menjadi budak Portugis, budak Prancis, budak Inggris, budak Belanda, budak ideologis Komunis Soviet, dan saat ini mayoritas diperbudak oleh hegemoni Amerika Serikat.

Para imperalis berhasil menginjak-injak Kehormatan dan harga diri umat Islam sampai pada tahap bahwa sebagian mereka merasa tidak percaya diri dan malu dengan Islam, dengan al-Quran, dengan as- Sunnah, dan para ulama.

Dalam masa ketiadaan Khalifah ini, kita menyaksikan kiblat pertama umat Islam yaitu Masjid al-Aqsa, Al-Quds diobrak-abrik oleh Zionis Yahudi.  Wilayah yang suci ini dibagi-bagi dan didistribusikan oleh para imperialis dengan dukungan rezim negara Islam sendiri yang tergiur dengan tawaran duniawi yang begitu murah.

Kebijakan banyak negara Islam menjadi sekuler yang didominasi kepentingan materialistik tanpa memperimbangkan dosa dan pahala.

Hasilnya, kekuatan sistem keuangan AS dengan dollar yang menggantikan emas sebagai basis keuangan, berhasil membuat mayoritas pemimpin negara Arab paska runtuhnya khilafah bagaikan keledai yang kekenyangan.

Buah dari persekongkolan pemimpin Arab ini adalah meleburnya sistem riba dalam ekonomi mereka dan sokongan politik dan keamanan barat, meski negara barat ini sungguh buruk dalam Hak Asasi Manusia.

Para pemimpin Arab ini seperti acuh terhadap strategi yang sistematis oleh Zionisme serta penghinaan terus-menerus terhadap Islam, termasuk pada kehormatan baginda Nabi Shallahu alaihi wassalam.

Namun hari ini ada pemimpin Turki yang berhasil menyeimbangkan kekuatan militer AS dan Rusia, menangani sanksi ekonomi AS, menginisiasi perjanjian perdagangan bebas antar negara Muslim, mengupayakan stabilitas di Suriah, Libya, Irak, Azerbaijan, sekaligus istiqamah yang memperjuangkan pembebasan Palestina dari Zionis.

Erdogan berhadapan untuk mempertahankan kemuliaan junjungan besar Nabi Muhammad S.A.W. di bulan kelahiran Baginda daripada penghinaan berterusan pemimpin sekular Perancis Emmanuel Macron.

Erdogan berusaha menebus  ‘dosa-dosa’ para pemimpin umat Islam paska Khilafah, ia tidak hanya beretorika tapi Presiden Turki ini begitu sungguh-sungguh dengan kekuatan  ekonomi, politik, dan militernya.

Terlepas dari semua kendala dalam sistem sekuler Turki yang diwariskan oleh Mustafa Kamal Attaturk ditambah dengan hegemoni global paska Perang Dingin AS, Erdogan dengan ijtihad politik telah berhasil menerjemahkan visi Islam ke dalam kebijakan luar negeri Turki sejak tahun 2003.

Erdogan pernah mempermalukan Perdana Menteri Israel di Forum Ekonomi Dunia, Erdogan tanpa henti memperjuangkan nasib Palestina di PBB, berjuang untuk membangun Irak, bekerja untuk stabilitas politik di Libya, Suriah, dan yang terbaru ini di Azerbaijan.

Terlepas dari semua pencapaian ekonomi, budaya, dan politik Erdogan, ia tidak terkesan dengan tawaran duniawi dan berani mengkritik para pemimpin negara-negara Islam yang bersekongkol dengan Zionis: seperti UEA, Bahrain, dan yang akan menyusul keduanya adalah Sudan.

Status kepemimpinan Erdogan jika  diterjemahkan ke dalam dimensi islamis sosial-budaya.  Dalam beberapa bulan yang lalu Erdogan mengembalikan status situs bersejarah Ayasofya di Istanbul sebagai masjid, dan belakangan ia tak tinggal diam dengan sikap munafik Presiden Prancis Emmanuel Macron.

Apa yang dilakukan Macron dalam mendukung pemuatan potret Nabi Muhammad Shallahu alaihi wassalam serta menuduh Islam sebagai ‘krisis global’ mengundang tanggapan tegas Erdogan.  Presiden Turki itu mengkritik Presiden Prancis itu dengan menyebut ‘membutuhkan perawatan mental’ karena permusuhannya terhadap Islam. Bahkan, Erdogan juga mengerahkan upaya memboikot produk Prancis.

Sebagaimana dahulu Salahuddin al-Ayubi saat membebaskan Baitul Maqdis dari penjajahan Tentara Salib,  pun demikian dengan Erdogan yang kita lihat saat ini terlepas dari semua prestasinya di Timur Tengah dan juga di panggung internasional.

Semoga Allah senantiasa menjaga hamba-hamba-Nya yang istiqomah meninggikan kalimat Allah dan Rosul-Nya serta memperjuangkan kehormatan umat Islam tanpa harus menyerah pada sistem, ideologi dan tawaran duniawi. (RA-1/P1)

Miraj News Agency (MINA)