Ethiopia, Mesir, Sudan, Kembali Berunding

Kairo, MINA – Tiga negara melanjutkan pembicaraan putaran terakhir  pada Sabtu (4/7) untuk menyelesaikan perselisihan selama bertahun-tahun mengenai operasi dan pengisian Grand Ethiopian Renaissance Dam (GRED),  yang dibangun Ethiopia di kawasan Nil Biru.

Ethiopia, dan Mesir, Sudan,  bersengketa soal ini karena menyangkut air sungai Nil yang sangat penting bagi ketiga negara terutama untuk pertanian, karena Ethiopia akan membuat bendungan terbesar di Afrika yang memerlukan banyak air termasuk untuk pertanian dan pembangkit tenaga listrik.

Kementerian Irigasi Mesir mengatakan, putaran pembicaraan saat ini terjadi setelah perundingan bulan lalu gagal menghasilkan kesepakatan, sehingga mendorong Mesir dan Sudan mengajukan banding ke Dewan Keamanan PBB untuk campur tangan dalam perselisihan tersebut. bArab news melaporkan

Kementerian Irigasi Mesir mengatakan, perbedaan teknis dan hukum mendasar tetap belum terpecahkan, dan mereka melanjutkan pertemuan pada Sabtu ini.

Poin-poin penting dalam pembicaraan itu adalah berapa banyak air yang akan dikeluarkan Ethiopia di hilir dari bendungan jika kekeringan multi-tahun terjadi, dan bagaimana Ethiopia, Mesir, dan Sudan akan menyelesaikan pertikaian di masa depan.

Mesir dan Sudan sepakat pada akhir Juni untuk kembali ke perundingan setelah Ethiopia mengatakan akan menahan diri  mengisi bendungan sampai ketiga negara mencapai kesepakatan.

Namun kemudian Kantor Perdana Menteri Ethiopia mengatakan, pengisian telah dijadwalkan akan dimulai dalam dua pekan ke depan, dan selama periode itu, ketiga negara akan bekerja untuk mencapai kesepakatan pada beberapa masalah yang tertunda.

Pembicaraan didukung oleh Uni Afrika (UA). Dewan Keamanan PBB yang beranggotakan 15 negara menyatakan dukungan pada ikhtiar UF menghidupkan kembali pembicaraan.

Mesir, yang bergantung pada Sungai Nil untuk lebih dari 90 persen pasokan airnya dan sudah menghadapi tekanan air yang tinggi, takut akan dampak yang menghancurkan pada negara dengan penduduk 100 juta oranng itu.

Sementara itu bagi pembangunan bendungan kolosal adalah sebagai usaha besar  membawa jutaan rakyatnya keluar dari kemiskinan.

Sementara itu, Sudan ingin mengambil manfaat dari bendungan Ethiopia, termasuk memiliki akses ke listrik murah dan mengurangi banjir, namun khawatir mengenai keamanan bendungan sehingga tu dapat membahayakan.

Grand Ethiopian Renaissance Dam (GERD) merupakan bendungan terbesar di Afrika yang diluncurkan sembilan tahun lalu pada April 2011 oleh Pemerintah Ethiopia, bertujuan mengubah negara miskin menjadi pembangkit pusat ekonomi dan pertanian, selain itu GERD akan dapat menghasilkan tenaga listrik yang besar dengan air yang dibendungnya itu.

Arab Saudi telah menyatakan berminat membeli listrik dari sini. (T/R6/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)