Etika dan Adab Rasulullah dalam Perjalanan

Oleh: Jumaidi Alkaromah, Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Fatah Bogor

Islam mengajarkan kepada kita apabila hendak melaksanakan suatu kegitan diawali dengan berdoa. Termasuk hendak mau berpergian. Semasa hidupnya, Rasulullah Muhammad Sallahu Alahi Wassalam kerap melakukan perjalanan jauh.  Semasa muda, beliau biasa melakukan ekspedisi untuk berniaga. Beliu pun harus menempuh perjalanan yang cukup jauh saat hijrah dari Makkah ke Madinah. Dalam berbagai kesempatan, Rasulullah Sallahu Alahi Wassalam  dan para sahabat harus menempuh perjalanan jauh demi syiar Islam.

Bepergian telah menjadi bagian keseharian umat terdahulu termasuk pada saat ini setiap manusia kerap melakukan perjalanan, tentunya perjalanan bagi umat terdahulu tidak semudah zaman kita saat ini.

Mengingat pentingnya tujuan perjalanan jauh ini, yang kadang harus mengorbankan biaya, waktu serta tenaga, sehingga tidak terlepas dari perhatian Rasulullah dengan memberikan tuntunan etika dan adab ketika hendak, selama maupun sepulang menempuh perjalanan jauh.

Dalam buku Rasulullah, Manusia Tanpa Cela, dijelaskan,  apabila hendak pergi menuju tempat yang jauh, Rasulullah SAW selalu memilih hari Senin atau Kamis. Nabi Shallallahu Alahi Wassalam  juga tidak pernah melewatkan shalat sunah sebelum memulai perjalanan, bahkan pernah beliau terpaksa harus shalat sunah di atas punggung untanya.

Selain itu, Rasulullah pun tidak lupa pula memanjatkan doa. Imam Baihaqi meriwayatkan dari Anas Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu Alahi Wassalam tidak hendak melakukan perjalanan kecuali beliau berdoa ketika hendak beranjak dari duduknya.

”Ya Allah, hanya dengan pertolongan-Mu hamba mengembara, dan hanya kepada-Mu hamba meminta perlindungan.” Demikian doa yang dipanjatkan Rasulullah SAW, dan barulah setelah itu, beliau keluar memulai perjalanan jauhnya.

Diriwayatkan pula, bahwa jika hendak naik ke atas unta, maka ketika meletakkan kakinya pada pijakan kaki atau sanggurdi, Rasulullah mengucapkan bismillah sebanyak tiga kali. Jika telah berada di atas unta beliau mengucapkan alhamdulillah sebanyak tiga kali, dan allahu akbar sebanyak tiga kali.

Adapun menurut penjelasan Shaleh Ahmad Asy-Syaami dalam buku /Berakhlak dan Beradab Mulia/, sepanjang perjalanan, Rasulullah juga tidak lepas dari berzikir dan berdoa. Nabi Shallallahu Alahi Wassalam dan para sahabat ketika melintasi sebuah jalan yang menanjak di pegunungan atau bukit, misalnya, maka akan mengumandangkan takbir. Lalu ketika turun, mereka bertasbih, layaknya orang yang sedang shalat.

Waktu pemberangkatan pun penting diperhatikan. Rasulullah Shallallahu Alahi Wassalam membenci bepergian, apalagi dilakukan sendirian, pada malam hari. Sabda beliau, ”Seandainya manusia mengetahui keburukan ketika sendirian seperti yang aku ketahui, maka tidak akan ada orang yang berjalan sendirian pada malam hari.” (HR Al-Bukhari)

Jika sudah datang dari perjalanan jauh, seperti tertera dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, hal pertama yang Rasulullah lakukan adalah menuju masjid, bila di Madinah, adalah ke masjid beliau, untuk shalat dua rakaat. Setelah itu, barulah beliau menerima kedatangan para sahabat serta umat yang ingin mengucapkan selamat datang.

Kedatangan beliau dari perjalanan jauh biasanya berlangsung pada pagi hari. Hal tersebut bukan tanpa alasan. Nabi Shallallahu Alahi Wassalam tidak suka mendatangi keluarganya bila datang dari perjalanan jauh pada malam hari, bahkan beliau melarang hal tersebut.

Diriwayatkan dari Anas RA, bahwa Rasulullah Shallallahu Alahi Wassalam tidak menemui keluarganya pada malam hari, namun beliau menemui mereka pada waktu pagi atau senja hari. (HR Bukhari dan Muslim)

Tak hanya itu, papar Shaleh Ahmad Asy-Syaami, umat juga dianjurkan untuk mengantarkan orang yang hendak melakukan perjalanan jauh. Dulu, ada seorang sahabat yang hendak bepergian, maka Rasulullah mengucapkan doa kepadanya, ”Saya memohon kepada Allah agar menjaga agama, amanat dan penutup amalmu.”

Pun kepada orang-orang yang menyambut kedatangan beliau dari perjalanan jauh, Nabi SAW memberikan sambutan hangat juga pelukan. Kepada anggota keluarga yang menyambutnya, beliau tidak lupa memberikan ciuman hangat sebagai rasa syukur kepada Allah SWT yang telah mempertemukan mereka kembali dalam keadaan sehat wal’afiat.

Itulah kisah Rasulullah Shallallahu Alahi Wassalamdan para sahabatya jika hendak mereka melakukan perjalanan jahu maupun dekat rasulullah selalu berdoa memohon pertologan kepada Allah supaya dalam perjalanan di lindugi oleh Allah dari mara bahya.apa ibroh yang bisa kita ambil tentang etika dan adap rasulullh dalam perjalanan seolah olah rasulullah megajari kita untuk selalu berdoa dalam perjalan agar terhidar dari mara bahaya.kini zaman telah berubah pada zaman rasulullah beliawo berdoa sebelum naik unta bahkan beliwo berdoa lagi di atas unta beliawo.kini berbeda pada zaman umatya dengan mengunakan perjalanan udara dengan pesawat.

Saat kita melakukan perjalanan, baik dekat atau jauh, sebaiknya membaca doa bepergian supaya selalu terlindungi dari marabahaya. Terutama saat traveling melalui perjalanan udara dengan pesawat yang berisiko tinggi, kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi selama di perjalanan.

Maka dari itu, sangat dianjurkan untuk membaca doa perjalanan udara supaya selalu dilindungi Allah SWT. Berikut beberapa doa yang bisa dilafalkan saat traveling atau bepergian melalui perjalanan udara.

Saat hendak masuk ke dalam pesawat, sebaiknya kita membaca doa bepergian dengan kendaraan udara terlebih dulu. Kemudian, dilanjutkan membaca doa naik pesawat.

 بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا ۚ إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya: “Dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

اللهُ أَكْبَر، اللهُ أكْبر، الله أكْبَر، سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا، وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ، وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ، اللهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى، وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى، اللهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا، وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ، اللهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ، وَالْخَلِيفَةُ فِي الْأَهْلِ، اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ، وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ، وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالْأَهْلِ

Artinya: “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Maha suci Allah yang telah menundukkan (pesawat) ini bagi kami, padahal sebelumnya kami tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kepada Allah-lah kami kembali. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kebaikan dan takwa dalam perjalanan ini, kami mohon perbuatan yang Engkau ridai. Ya Allah, permudahkanlah perjalanan kami ini, dan dekatkanlah jaraknya bagi kami. Ya Allah, Engkaulah pendampingku dalam bepergian dan mengurusi keluarga. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelelahan dalam bepergian, pemandangan yang menyedihkan dan kepulangan yang buruk dalam harta dan keluarga.”

(A/R8/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)