Euforia Malam Pergantian Tahun Baru dan Menyikapinya

Oleh: Sakuri Waliyul Imam Jabodetabek Jama’ah Muslimin (Hizbullah)

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), euforia adalah perasaan nyaman atau perasaan gembira yang berlebihan.
Pengertian euforia adalah suatu perasaan senang yang berlebihan yang tidak beralasan atau rasa optimisme/kekuatan yang tidak rasional.
Penyebab euforia adalah karena pengaruh emosi (senang) yang sangat kuat atau bisa juga terjadi karena pengaruh obat tertentu (seperti psikotropika).

Euforia warga Kampung Kongsi, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi begitu terasa setelah Timnas U-22 berhasil menumbangkan Thailand di Final Piala AFF U-22 2019. Tempat tersebut adalah kampung halaman Sani Rizki Fauzi (21 tahun), pesepakbola asal Sukabumi yang turut menyumbang satu gol untuk Timnas di laga itu, sebagaimana di-update salah satu situs Sukabumi.

Sebuah adegan euforia serupa terlihat di utara kota Nablus, ketika ratusan orang berbaris di jalan-jalan dalam perayaan, mengibarkan bendera Palestina dan spanduk Hamas.
Sebagaimana diwartakan Mina 1 Dzulqaidah 1435/27 Agustus 2014, jalan-jalan di Tepi Barat ramai oleh perayaan sepanjang malam, rakyat Palestina memuji Mesir yang menengahi kesepakatan gencatan senjata sehinga membuat Israel menghentikan serangannya untuk waktu tanpa batas. Itu adalah sekedar deretan contoh dari euforia.

Demikian juga jelang malam pergantian tahun, pemandangan yang nyaris sama berulang di setiap momen malam Tahun Baru, euforia di mana-mana. Hiruk pikuk, sorak sorai, lengkingan terompet beradu dentuman petasan, semburan kembang api yang mengoyak langit malam menjadi penampakan yang seolah lumrah di sana-sini.

Pertanyaannya sudah tepatkah mengekspresikan kegembiraan itu dengan ritual seperti di atas?

Pada hakekatnya pergantian tahun adalah bertambahnya bilangan tahun, yang berarti pula bertambahnya usia seseorang menjadi semakin tua. Tetapi anehnya malah disikapi dengan euforia suka ria seperti itu.

Semestinya yang menjadi sangat penting adalah memaksimalkan pemanfaatan umur dalam menghambakan diri kepada Allah untuk mencari bekal kehidupan akhirat dengan amal-amal unggulan, bukan dengan euforia semu, karena waktu terus berjalan dan mustahil kembali berulang.

Allah mengilustrasikan penyesalan orang-orang yang merengek-rengek meminta dikembalikan ke dunia untuk memperbaiki amalnya, sebagaimana firman-Nya dalam surat Al-Mu’minun 99-100.

حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ (99) لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (100)

“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu) hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, ‘Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.”

Allah pun tidak menggubris rengekan orang-orang kafir yang meminta dikembalikan ke dunia untuk memperbaiki amalnya, bahkan Allah maido (menyalahkan) dengan mengatakan: bukankah Allah sudah memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? Sebagaimana petikan firman Allah dalam Surat Al-Fathir 36-37.

وَالَّذِينَ كَفَرُوا لَهُمْ نَارُ جَهَنَّمَ لَا يُقْضَى عَلَيْهِمْ فَيَمُوتُوا وَلا يُخَفَّفُ عَنْهُمْ مِنْ عَذَابِهَا كَذَلِكَ نَجْزِي كُلَّ كَفُورٍ (36) وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ (37)

“Dan orang-orang kafir bagi mereka neraka Jahannam. Mereka tidak dibinasakan sehingga mereka mati dan tidak (pula) diringankan dari mereka azabnya. Demikianlah Kami membalas setiap orang yang sangat kafir. Dan mereka berteriak di dalam neraka itu, “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami, niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan.” Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolong pun.”

Dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam disebutkan mengenai puncak jelang ajal 60 tahun.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

أَعْذَرَ اللَّهُ إِلَى امْرِئٍ أَخَّرَ أَجَلَهُ حَتَّى بَلَّغَهُ سِتِّينَ سَنَةً
“Allah memberi uzur kepada seseorang yang Dia akhirkan ajalnya, hingga sampai usia 60 tahun.” (HR. Bukhari 6419).

Makna hadits bahwa uzur dan alasan sudah tidak ada, misalnya ada orang mengatakan, “Andai usiaku dipanjangkan, aku akan melakukan apa yang diperintahkan kepadaku.”

Ketika dia tidak memiliki uzur untuk meninggalkan ketaatan, sementara sangat memungkinkan baginya untuk melakukannya, dengan usia yang dia miliki, maka ketika itu tidak ada yang layak untuk dia lakukan selain istighfar, ibadah ketaatan, dan konsentrasi penuh untuk akhirat. (Fathul Bari, 11/240)

Hadits di atas tidak bisa kita pahami sebaliknya, bahwa orang yang usianya masih di bawah 60 tahun, berarti dibolehkan untuk menunda ketaatan dan taubat. Maksud hadits, mereka yang telah mencapai usia 60 tahun, seharusnya lebih banyak konsentrasinya diarahkan untuk akhirat, dan mulai mengurangi kesibukan dunia.

Sekarang pertanyaannya bagaimana mungkin orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat melewati malam pergantian tahun baru dengan bersukaria, bereuforia?

Hanya orang-orang kafir dan tidak beriman kepada Allah dan hari akhirat sajalah yang memandang indah perbuatan mereka bereufeoria di malam pergantian tahun baru, Allah sudah mengingatkan dalam firman-Nya.

طس تِلْكَ آيَاتُ الْقُرْآنِ وَكِتَابٍ مُبِينٍ (1) هُدًى وَبُشْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ (2) الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ بِالآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ (3) إِنَّ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالآخِرَةِ زَيَّنَّا لَهُمْ أَعْمَالَهُمْ فَهُمْ يَعْمَهُونَ (4) أُولَئِكَ الَّذِينَ لَهُمْ سُوءُ الْعَذَابِ وَهُمْ فِي الآخِرَةِ هُمُ الأخْسَرُونَ (5) وَإِنَّكَ لَتُلَقَّى الْقُرْآنَ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ عَلِيمٍ (6)
Ta Sin. (Surat) ini adalah ayat-ayat Al-Quran, dan (ayat-ayat) Kitab yang menjelaskan, untuk menjadi petunjuk dan berita gembira untuk orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang mendirikan salat dan menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat. Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada negeri akhirat, Kami jadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka, maka mereka bergelimang (dalam kesesatan). Mereka itulah orang-orang yang mendapat (di dunia) azab yang buruk dan mereka di akhirat adalah orang-orang yang paling merugi. Dan sesungguhnya kamu benar-benar diberi Al-Qur’an dari sisi (Allah) Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui.

Imaam Jama’ah Muslimin (Hizbullah) Yakhsyallah Mansur sebagaimana dilansir Kantor Berita Mina, mengimbau kepada umat Islam, khususnya anak muda, tidak terjebak dalam euforia perayaan Tahun Baru Masehi yang biasanya banyak menimbulkan kemaksiatan.

“Agar tidak ada satu pun di antara umat Islam maupun khususnya para pemuda dan pemudinya ikut dalam acara merayakan Tahun Baru Masehi ini,” kata Yakhsyallah dalam sebuah video berdurasi 2 menit 54 detik yang beredar luas di media sosial.

Selain itu, Imaam Yaksyallah juga mengatakan bahwa perayaan Tahun Baru Masehi sesungguhnya bukan merupakan ajaran Islam, melainkan ajaran umat non-Muslim.

“Tidak ada hubungannya dengan umat Islam. Yang sebenarnya, itu adalah tahun baru umat non-Muslim,” katanya.

Menurut sejarah, penetapan 1 Januari sebagai permulaan tahun baru, dimulai sejak abad ke-46 SM oleh Julius Caesar, penguasa Romawi pada masa itu.

Nama, bulan Januari diambil dari nama Janus yang dipercaya sebagai Dewa Pintu dan semua permulaan.

Menurut penganutnya, Dewa Janus juga memiliki dua muka yang menghadap ke depan dan ke belakang, yang dipercaya sebagai simbol masa depan dan masa lalu oleh bangsa Romawi kuno.
Demikian kutipan imbauan Imaam Jama’ah Muslimin (Hizbullah) Yakhsyallah Mansur seperti dilansir Kantor Berita Mina, tahun lalu, Kamis (27/12/2018).

Semoga Allah melindungi kita dan anak keturunan kita dari segala bentuk tipu daya syaitan terkutuk yang memandang indah eufeoria di malam pergantian tahun baru. Aamiin. (A/SK/RI-1)

Mi’raj News Agency (MINA)