Fadli Zon: Sikap Indonesia Tolak Normalisasi dengan Israel Sudah Tepat

Jakarta, MINA – Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI mengatakan, sikap yang menolak hubungan dengan sudah sangat tepat.

Menurut dia, Indonesia memiliki utang sejarah kepada bangsa , sebab Palestina menjadi salah satu negara yang paling awal mengakui kemerdekaan Indonesia.

“Saya kira sikap dari Indonesia sudah tepat bahwa tidak ada rencana normalisasi dengan Israel,” kata Fadli dalam acara Webinar Internasional dalam rangka Milad Kantor Berita MINA ke-8 yang disiarkan secara daring di kanal YouTube MinanewsTV di Jakarta, Kamis (24/12).

Webinar mengusung tema “Masa Depan Palestina di Tengah Dinamika Politik Dunia” ini digelar di Hotel Sofyan Cut Meutia Jakarta dengan jumlah peserta terbatas dan tetap memperhatikan protokol kesehatan serta peserta dari beberapa wilayah di Indonesia dan luar negeri yang hadir secara daring.

Webinar ini menghadirkan Menlu RI Retno LP Marsudi sebagai pembicara kunci diwakili oleh Direktur Timur Tengah Direktorat Jendral Asia Pasifik dan Afrika Kemenlu Bagus Handraning Kobarsyih dan Duta Besar Palestina untuk Indonesia H.E. Zuhair Al Shun untuk memberikan sambutan.

Sementara sebagai pembicara yaitu Imaamul Muslimin K.H. Yakhsyallah Mansur, dan Wakil Direktur Sekolah Kajian Stratejik dan Global, Universitas Indonesia (SKSG UI) Abdul Muta’ali, M.A., M.I.P., Ph.D.

Fadli yang juga sebagai Wakil Presiden Liga Parlemen Dunia untuk Al-Quds mengutarakan, Indonesia dari Presiden Soekarno hingga hari ini terus konsisten mendukung perjuangan Palestina.

Justru, Fadli menegaskan, adalah langkah mundur apabila kebijakan-kebijakan luar negeri Indonesia melunak terhadap Israel. Salah satu contohnya, menurut dia, adalah persoalan calling visa beberapa waktu lalu.

“Indoensia terus konsisten mendukung Palestina sejak Orde Lama, Orde Baru, hingga hari ini. Saya berkali-kali menghadiri pertemuan parlemen di Jenewa, di Rusia, untuk mendukung Palestina,” katanya.

“Ketika muncul kabar Indonesia akan mengaktifkan kembali calling visa, saya kira ini adalah langkah mundur. Meski demikian untuk mencapai hubungan diplomatik (dengan Israel) ini masih sangat jauh,” imbuhnya.

Selanjutnya, Fadli mendorong Indonesia yang memiliki peluang untuk mempersatukan faksi-faksi di Palestina seperti Hamas dan Fatah untuk tak mengendurkan langkah. Menurut dia, Jika Indonesia mengambil langkah tersebut, maka Indonesia akan dipandang tinggi di mata dunia.

“Saya kira ketika Indonesia menolak isu adanya rencana normalisasi dengan Israel, kita patut apresiasi. Apabila nantinya malah Indonesia menormalisasikan hubungan dengan Israel, ini berarti jebol juga. Saya kira akan ada reaksi dari masyarakat Indonesia,” katanya. (L/R2/RI-1)

Mi’raj News Agency (MINA)