Faith Plans Umumkan Rencana Bersama Atasi Dampak Perubahan Iklim

Jakarta, MINA – Untuk menciptakan planet bumi sebagai rumah kehidupan yang lebih baik bagi seluruh umat manusia dan makhluk hidup, sejumlah organisasi berbasis agama dan keyakinan, mengumumkan rencana dan langkah nyata mereka selama sepuluh tahun ke depan untuk mengatasi krisis iklim dan merawat kehidupan di planet bumi.

Melalui platform Faith Plans, menjadi koaliasi organisasi berbasis agama dan keyakinan terbesar di dunia yang akan membangun aksi lingkungan berbasis keimanan dan keyakinan selama sepuluh tahun ke depan, demikina keterangan tertulis yang diterima MINA, Selasa (5/10).

Mereka secara terbuka menyatakan komitmen menggunakan aset, investasi serta pengaruh yang dimiliki untuk melakukan upaya-upaya pengurangan emisi gas rumah kaca guna mengatasi dampak perubahan iklim serta menciptakan dunia yang lebih baik bagi seluruh pemeluk agama dan makhluk hidup di planet bumi.

Faith Plans beranggotakan 27 organisasi keagamaan di sejumlah negara, seperti China, Etiopia, Indonesia, hingga Amerika Serikat ini mengelola aset miliaran dolar dalam bentuk bangunan, tanah, keuangan, dan sumber daya manusia yang berpotensi untuk mendorong perubahan nyata.

Koalisi baru ini diumumkan, beberapa pekan sebelum pelaksanaan konferensi perubahan iklim dunia (COP26) yang akan berlangsung di Glasgow Inggris, pada 31 Oktober- 12 November 2021 dan mengisyaratkan niat mereka menempatkan aset-aset substansialnya untuk melayani manusia dan planet.

Martin Palmer, CEO FaithInvest mengatakan, para penganut keyakinan dan agama merupakan pemangku utama di planet bumi. Secara global lembaga dan organisasi keagamaan mengelola hampir dua pertiga dalam sistem pendidikan, menyediakan layanan kesehatan, pengelolaan tanah dan tempat tinggal, termasuk pengelolaan hutan komersil

Di Indonesia, Pusat Pengajian Islam Universitas Nasional, menjadi salah satu organisasi yang bermitra dalam Faith Plans dan bekerja sama dengan jaringan organisasi agama lain seperti World Evangelical Alliance, Religions for Peace, Ethiopian Gospel Believers’ Church Council, dan menjangkau pula jutaan penganut Budha dan Taoisme di China, dan kelompok sekuler berbasis agama seperti Interfaith Rainforest Initiative; dan lembaga PBB untuk lingkungan (UNEP) melalui program Faith for Earth dan Learning from Nature.

Faith Plans juga berencana bekerja sama dengan Gerakan Laudato Si, gerakan Katolik yang menyerukan aksi untuk merawat bumi

Fachruddin Mangunjaya, Ketua Pusat Pengajian Islam mengatakan, krisis iklim yang terjadi saat ini merupakan tantangan terbesar yang dihadapi manusia, termasuk komunitas-komunitas berbasis agama, dan tidak terkecuali umat Islam yang hidup di Indonesia.

Dia menambahkan, dalam tiga tahun ke depan, PPI-UNAS akan mengembangkan program Ekopesantren yaitu program yang mensinergikan antara ajaran Islam dan ilmu pengetahuan mengenai pengelolaan alam lingkungan di komunitas pesantren. Pilot program ini akan dilaksanakan di 50 pesantren yang tersebar di Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Barat, Riau, dan Jambi.

Rincian lengkap dari masing-masing Rencana Iman akan diumumkan pada saat pertemuan Stockholm+50 pada Juni 2022. Mereka kemudian akan dilaksanakan selama tujuh sampai 10 tahun berikutnya, tergantung pada rentang waktu masing-masing agama.

Faith Plans terinspirasi oleh Inisiatif Komitmen Iman 2009, yang menghasilkan 63 rencana jangka panjang dan secara mendalam membentuk respons agama terhadap lingkungan selama dekade berikutnya, Faith Plans for People and Planet sudah menjadi inisiatif lingkungan terbesar yang pernah diluncurkan oleh agama-agama dunia.

Namun tetap ada peluang untuk tumbuh lebih besar lagi. Jadi selain mengumumkan niatnya, kemitraan Faith Plans hari ini menyerukan lebih banyak kelompok agama untuk terlibat dan bergabung dengan gerakan tersebut. (T/R7/P1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)