Farid Zanzabil, Penuntut Ilmu di Negerinya Para Nabi (Oleh : Sri Astuti)

Farid Zanzabil Al Ayubi (kiri) bersama sang ayah Solehuddin Al Ayyubi (kanan di depan Rumah Sakit Indonesia di Gaza.

Oleh : Sri Astuti, Wartawan Mi’raj News Agency (MINA)

Merantaulah..
Orang berilmu dan beradab, tidak diam beristirahat di kampung halaman..
Tinggalkan negerimu dan hiduplah di negeri orang..

Imam Syafi’i

Demikian penggalan ungkapan Imam Syafi’i yang dapat menjadi penyemangat para penuntut ilmu, ketika harus jauh dari kampung halamannya.

Hal itu juga yang mungkin memotivasi Farid Zanzabil Al-Ayubi, 19 tahun, Alumnus Pondok Pesantren Al Fatah Cileungsi, Bogor, yang kini tengah pergi jauh dari negerinya dan hidup di negeri orang. Ia hendak menjadi seperti yang disebutkan Imam Syafi’i, “Orang berilmu dan beradab”, ia merantau.

Penulis mengadakan wawancara jarak jauh dengan Farid beberapa hari yang lalu.

Farid, mungkin juga seperti kebanyakan kita, ingin mengunjungi banyak tempat, bertemu orang-orang baru, belajar di lembaga Pendidikan terbaik dan berguru pada cendekiawan hebat. Kita biasanya bermimpi untuk melanjutkan pendidikan di negeri-negeri berlabel negara maju dengan universitas-universitas bergengsinya, sebut saja Universitas Oxford dan Cambridge di UK, atau Stanford, Hardvard, Yale, di AS, ETH Zurich dan banyak universitas lainnya di Amerika dan Eropa. Berbeda dengan Farid yang memilih Gaza, Palestina.

Ya, Farid memilih kota kecil di negara yang kini tengah mengalami konflik itu, yang menurut catatan Dahlan Iskan, luasnya tidak lebih dari 400 kilometer persegi. Lebarnya hanya sekitar 10 kilometer dan panjangnya 50 kilometer. Kalau di Jatim kira-kira hanya sama dengan dari Bangil ke Probolinggo. Lebarnya hanya sama dengan Probolinggo-Leces dan Bangil Beji. Atau sama dengan dari Tanjung Kodok ke Tuban.

Wilayah Gaza itu berbukit, tapi tidak bergunung. Dataran paling tinggi hanya 150 meter. Meski punya pesisir sepanjang 45 kilometer, seluruh akses ke Laut Tengah itu dikuasai Israel. Bandaranya juga dikuasai Israel. Satu-satunya batas yang bukan dengan Israel adalah bagian selatannya sepanjang 12 kilometer : berbatasan dengan Mesir. Ya Gaza ini memang telah di Blokade 14 tahun lamanya oleh pendudukan Israel, yang pada akhirnya membuat ekonomi negara itu goyah. Angka pengangguran di Gaza kini meroket hingga 52 persen, sementara tingkat kemiskinan jatuh ke angka 50 persen. Sejak itu, Gaza menggantungkan diri dari bantuan internasional.

Ketika Farid Al-Ayubi ditanya mengapa ia memilih Gaza, yang tidak hanya diblokade, tapi juga daerah konflik yang setiap saat bisa saja terjadi eskalasi dari tentara Israel, dengan roket yang kerap kali berjatuhan, jawabannya sederhana tapi cukup menggetarkan hati.

“Karena Gaza negerinya para nabi dan ulama-ulama besar,” ujarnya, dengan keyakinan akan ada banyak ilmu bermanfaat yang bisa didapatnya di Gaza.

“Insya Allah, belajar di tanah yang berkah, ilmunya juga berkah,” kata laki-laki kelahiran Jakarta, 19 tahun silam itu.

Farid tiba di Gaza pada Februari bulan lalu bersama dengan rombongan Tim Supervisi Medical Emergency Rescue (MER-C) yang bertugas meninjau pembangunan tahap dua Rumah Sakit Indonesia di Gaza. Rombongan dilepas oleh Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan dan setibanya di Gaza, disambut oleh Pejabat-pejabat Kementrian Luar Negeri Palestina di Jalur Gaza.

MER-C menginisiasi pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza. Rumah Sakit ini makin banyak menerima pasien sehingga dilanjutkan dengan pembangunan tahap kedua, Pembangunan  dilakukan oleh sukarelawan-sukarelawan dari Pondok-Pondok Pesantren Al-Fatah dari seluruh Indonesia.

Meski tidak dipungkiri bahwa awalnya merasa gugup mengingat Gaza merupakan wilayah konflik, Farid mengatakan, kesannya saat pertama kali menginjakkan kaki di Gaza adalah Gaza ternyata kota yang bagus, penduduknya baik dan ramah. Ia tidak memiliki kesulitan untuk berbaur dengan orang-orang Gaza.

“Mungkin, selama ini kebanyakan dari kita mengetahui Gaza hancur oleh bom, Gaza selalu diserang oleh Israel, Gaza kedinginan, kelaparan, kehausan, tidak punya tempat tinggal, padahal Gaza juga mempunyai kehidupan layaknya masyarakat di negara lain, meski ekonominya di blokade dan listrik dibatasi hanya enam jam sehari,” tuturnya.

Ia bercerita, di Gaza juga ada pasar yang memungkinkan mereka untuk berjualan, baik sayur-sayuran, pakaian ataupun perabotan, anak-anak Gaza juga masih bisa bersekolah dan bermain, mereka pergi ke masjid dan saling berinteraksi antara satu dengan yang lainya.

Kemantapan hatinya memilih Gaza untuk melanjutkan pendidikan itu tak lain berkat dukungan dan ridho dari kedua orang tuanya. Keberaniannya itu berasal dari ayahnya, Muqorrobin Al Ayubi, yang telah lebih dulu berangkat ke Gaza, menjadi relawan pembangunan Rumah Sakit Indonesa tahap kedua. Tentu saja, jika ada pepatah mengatakan “like Father like son”, maka hal itu juga berlaku bagi Farid.

Kuliah di Universitas Islam Gaza (IUG)

Adapun nantinya, Farid akan meneruskan pendidikannya di Unversitas Islam Gaza. Tentu bukan pilihan yang asal, mengingat universitas ini merupakan pendidikan tinggi peringkat teratas di Jalur Gaza dan yang ketiga di Palestina berdasarkan edisi Webometrics Juli 2017, meski berada dalam blokade selama lebih dari satu dekade terakhir.

Universitas tersebut sempat mengalami kerusakan akibat serangan roket Israel pada tahun 2008 dan 2014.

Menurut Middle East Monitor (MEMO), lima universitas terkemuka di Palestina ranking satu sampai lima berturut adalah Universitas Nasional Najah, Nablus, Universitas Birzeit, Universitas Islam Gaza, Unversitas Al-Quds dan Universitas Al-Azhar Gaza.

Saat ini, IUG sendiri berada di ranking 54 diantara 988 institusi Pendidikan tinggi di wilayah Arab.

Diantara keistimewaannya adalah jumlah tenaga pengajar dari kalangan setingkat professor dan doktor yang berjumlah lebih dari 150 orang serta segudang prestasi yang telah banyak diraih Unversitas nomer satu di Gaza itu.

Farid mengungkapkan perkuliahannya baru akan dimulai pada bulan September mendatang. Saat ini ia masih disibukkan dengan persiapan kuliah dan belajar Bahasa Arab. Ia juga banyak melakukan interaksi dengan orang-orang Gaza.

Cita-citanya Menjadi Jurnalis

Farid yang merupakan anak laki-laki dari empat bersaudara itu mengungkapkan, ia memiliki cita-cita menjadi seorang Jurnalis.

“Profesi yang bisa menyampaikan banyak hal kepada dunia, terlebih saat ini ia tengah berada di Gaza, Palestina, tempat yang perlu diberitakan keadaannya agar dunia tahu dan memperhatikan bahwa ada negara yang masih belum merdeka, diblokade, dirampas tanah, rumah dan hak-haknya,” katanya.

Menjadi jurnalis juga berarti harus memiliki wawasan yang luas, bekal pengetahuan yang baik, tidak hanya tentang kabar terkini tapi juga kejadian lampau.

“Dengan belajar di Gaza, buminya para nabi dan tempat yang diberkahi, hal itu tentu bisa ia dapatkan sehingga nantinya ia dapat menjadi jurnalis yang ulama atau sebaliknya ulama yang juga memiliki kemampuan jurnalistik, kita tentu memerlukan banyak jurnalis seperti itu,” kata Farid.

Selamat belajar Farid Zanzabil Al Ayubi, semoga mendapatkan ilmu yang banyak dan berkah untuk berjihad. Doakan juga bangsa Indonesia ini dari negeri para nabi dan ulama itu. Sampaikan pula kepada rakyat Gaza mereka tak sendiri, kita selalu hadir walau kadang sebatas doa, dan jika berkesempatan sampaikan juga salam pada Masjid Al-Aqsa, di Yerusalem. (A/R7/P1)

MI’raj News Agency (MINA)