Fenomena Perbuatan Syirik

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Redaktur Senior Kantor Berita MINA (Mi’raj News Agency)

Manusia merupakan makhluk paling baik yang diciptakan Allah, dibandingkan dengan makhluk-makhluk yang lain.

Tentang penciptaan manusia sebagai makhluk terbaik ini, Allah sebutkan di dalam ayat :

لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍۖ

Artinya: “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS At-Tiin/94: 4).

Begitulah, Allah dengan kasih sayang-Nya menjadikan manusia sebagai makhluk paling sempurna, baik dari fisik maupun psikis.

Dari segi fisik, terlihat ukuran, kombinasi, berbagai indera, anggota badan yang terlihat maupun organ dalam tubuh, sungguh sangat luar biasa.

Sebagai contoh, tangan saja, dapat digunakan untuk memegang benda lain, mengangkat barang sesuai kemampuan, mendorong mobil yang mogok, menarik tambang dalam perlombaan, bahkan memukul seseorang karena amarahnya hingga membelai orang yang dicintainya.

Mata pun demikian. Kemampuan berkedip yang sempurna. Tidak terlalu lambat hingga debu-debu berkesempatan memasukinya. Juga  tidak sangat cepat hingga melelahkannya.

Mata sebagai indera penglihatan, merupakan satu-satunya alat optik alamiah paling canggih. Kecanggihan jarak fokus lensa mata dapat berubah setiap saat karena memiliki kemampuan berakomodasi. Sehingga di manapun benda berada, bayangan akan selalu jatuh pada retina mata.

Sistem organ mata pun kemudian ditiru manusia itu sendiri dan melahirkan alat teknologi modern semacam mikropskop, teropong bintang dan kamera. Jenis kamera termasuk kamera yang ada di handphone, kamera drone pengintai dan kamera pengawas CCTV (Closed Circuit Television).

Daya rekam mata yang kemudian disimpan dalam otak, itu lebih luar biasa lagi. Bayangkan, seorang nenek di usia 70 tahun, ada yang masih punya memori anaknya saat bayinya. Saat matanya melihat bayi itu puluhan tahun lalu.

Itu baru sebagian kecil sahaja dari keistimewaan dan kesempurnaan ciptaan Allah, berupa indera mata. Belum lainnya yang jauh lebih rumit jika diurai, seperti jantung, paru-paru, otot, aliran darah, dsb.

Selanjutnya, dari segi psikis, kesempurnaan manusia dibandingkan dengan makhluk lainnya adalah karunia akalnya untuk berpikir.

Kesempurnaan manusia melalui anugerah akal ini menjadikannya mampu mendesain kehidupan sesuai dengan tuntunan Sang Pencipta. Kekuatan akal juga menyebabkan manusia dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk. Dengan akal pula manusia dapat menganalisis berbagai fenomena alam dan lingkungannya.

Dengan akal membuat manusia berbeda dari hewan. Manusialah satu-satunya makhluk yang diberikan kekuatan akal, dan karena itulah ia menjadi mulia.

Manusia pun kemudian memelihara dan mengembangkan potensi dirinya dengan terus belajar dan menuntut ilmu, menghayati hakikat kehidupan dan memberi nila-nilai ruhani keagamaan.

Begitulah akal mewajibkan manusia untuk beragama karena memang fitrahnya manusia adalah memerlukan agama. Agama sebagai jalan manusia terhubung dengan Allah yang telah menciptakan manusia, agar manusia itu tunduk dan patuh kepada-Nya.

Karena itu, agama Islam sebagai syari’at yang diturunkan Allah kepada manusia merupakan petunjuk dan pedoman hidup untuk membimbing manusia menuju ke jalan yang benar dan lurus, agar mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Di dalam Al-Quran, Allah menyebutkan syari’at di antaranya adalah:

ثُمَّ جَعَلْنَٰكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٍ مِّنَ ٱلْأَمْرِ فَٱتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَآءَ ٱلَّذِينَ لَا يَعْلَمُون

Artinya: Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syari’at (peraturan) dari urusan (agama itu), Maka ikutilah syari’at itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS Al-Jatsiyah/45: 18).

Di dalam Tafsir Al-Quran Kementerian Agama Republik Indonesia dijelaskan, Allah memerintahkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam agar jangan terpengaruh oleh sikap orang-orang Quraisy. Ini karena Allah telah menetapkan urusan syari’at yang harus dijadikan pegangan dalam menetapkan urusan agama dengan perantara wahyu.

Maka peraturan yang termuat dalam wahyu itulah yang harus diikuti, tidak boleh mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahuinya.

Adapun syariat yang dibawa oleh para Rasul terdahulu dan syariat yang dibawa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pada asas dan hakikatnya sama. Yakni sama-sama berasaskan tauhidullah, hanya menyembah Allah, membimbing manusia ke jalan yang benar, mewujudkan kemaslahatan dalam masyarakat, menyuruh berbuat baik dan mencegah berbuat mungkar.

Fenomena Kemusyrikan

Manusia dengan berbagai kesempurnaan penciptaanya, tetaplah secara naluriah adalah makhluk dha’if (lemah) yang memerlukan kekuatan yang lebih besar untuk melindunginya.

Ada yang kemudian mencari sumber kekuatan itu dengan pendekatan penalaran (aspek rasionalitas). Sehingga kalau mau kuat mereka pun menciptakan alat-alat kekuatan fisik, seperti baju pelindung, kekuasaan, keuangan dan kekuatan teknologi, terutama teknologi persenjataan militer.

Ada juga yang memilih melalui pendekatan batiniah (esoterisme) yang mengabaikan aspek pengalaman formal, struktural dan lahiriah (eksoterisme).

Mereka menggunakan ritual yang cenderung mistis, dengan melalui perantaraan benda-benda, untuk melindungi dirinya dan untuk memohon sesuatu yang diperlukannya.

Allah menggambarkannya dalam ayat:

وَّاَنَّهٗ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْاِنْسِ يَعُوْذُوْنَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوْهُمْ رَهَقًاۖ

Artinya: “Dan sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki dari kalangan manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari jin, tetapi mereka (jin) menjadikan mereka (manusia) bertambah sesat.” (QS Al-Jinn/72: 6).

Di dalam Tafsir Al-Quran Kementerian Agama Republik Indonesia dijelaskan latar belakang atau sebab turun (asbaabun nuzul) ayat tersebut berkaitan dengan adanya di antara orang-orang Arab jahiliyah. Apabila mereka melintasi tempat yang sunyi, mereka minta perlindungan kepada jin yang mereka anggap berkuasa di tempat itu.

Apa yang dilakukan oleh sekelompok orang tersebut adalah bentuk kesyirikan kepada Allah.

Di dalam tulisan “Awas Bahaya Syirik Tanpa Sadar, Kenali Bentuk-bentuknya” (NU Online, 11 Agustus 2019), Ustadz Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti Bidang Aqidah di Aswaja NU Center Jawa Timur, menukilkan pendapat Imam as-Sanusi (895 H) yang mendefinisikan syirik sebagai “Menyandarkan perbuatan secara mandiri kepada selain Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi”.

Rincian perbuatan syirik tersebut antara lain menyandarkan perbuatan pada bintang-bintang (zodiac, astrologi), benda-benda yang dianggap mempunyai kekuatan ghaib, orang yang sudah meninggal (kuburan), dan makhluk halus (jin).

Di dalam artikel hukum Islam “Apakah Meyakini Kepastian Sebab Akibat Bagian dari Syirik?” (website Muhammadiyah, 9 Januari 2022), syirik didefinisikan sebagai persekutuan dalam kekuasaan antara Allah dengan makhluk lain-Nya.

Ustadz Yudi Yansyah, salah seorang Penyuluh Agama Islam di Kementerian Agama Kabupaten Sukabumi menjelaskan (Portal Kemenag Jabar, 4 Desember 2020), termasuk syirik dalam berdoa, yaitu memohon kepada selain Allah, di samping meminta kepada-Nya.

Tentang kemusyrikan ini, disebutkan di dalam Al-Quran :

يُوْلِجُ الَّيْلَ فِى النَّهَارِ وَيُوْلِجُ النَّهَارَ فِى الَّيْلِۚ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَّجْرِيْ لِاَجَلٍ مُّسَمًّىۗ ذٰلِكُمُ اللّٰهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُۗ وَالَّذِيْنَ تَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِهٖ مَا يَمْلِكُوْنَ مِنْ قِطْمِيْرٍۗ

اِنْ تَدْعُوْهُمْ لَا يَسْمَعُوْا دُعَاۤءَكُمْۚ وَلَوْ سَمِعُوْا مَا اسْتَجَابُوْا لَكُمْۗ وَيَوْمَ الْقِيٰمَةِ يَكْفُرُوْنَ بِشِرْكِكُمْۗ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيْرٍ ࣖ

Artinya” Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing beredar menurut waktu yang ditentukan. Yang (berbuat) demikian itulah Allah Tuhanmu, milik-Nyalah segala kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tidak mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari.

Jika kamu menyeru mereka, mereka tidak mendengar seruanmu, dan sekiranya mereka mendengar, mereka juga tidak memperkenankan permintaanmu. Dan pada hari Kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu seperti yang diberikan oleh (Allah) Yang Mahateliti.” (QS Fathir/35: 13-14).

Pada Surat Fathir ayat 13 menjelaskan tentang Allah yang mempunyai kekuasaan yang sempurna dan mutlak. Dialah Tuhan yang wajib disembah. Semua yang ada di langit dan di bumi adalah hamba-Nya dan di bawah kekuasaan-Nya.

Berbeda dengan berhala-berhala yang disembah orang-orang musyrik, yang tidak memiliki daya kemampuan sedikit pun, sekalipun setipis kulit ari. Bahkan, sembahan mereka itu adalah milik Allah Pencipta semesta alam.

Pada Surat Fathir ayat berikutnya, ke-14, diterangkan bahwa tuhan-tuhan yang mereka persekutukan dengan Allah tidak dapat mendengar apabila diseru oleh penyembahnya. Itu karena hanya berupa benda mati yang tidak bernyawa.

Andaipun dapat mendengar seruan penyembahnya, tuhan-tuhan itu tidak akan dapat berbuat apa-apa, serta tidak dapat melayani dan mengabulkan permintaan mereka di hari kiamat nanti.

Tuhan-tuhan itu berlepas diri dari mereka, tidak mau bertanggung jawab, dan bahkan berkata, “Sebenarnya mereka itu tidaklah menyembah kami, tetapi menyembah hawa nafsu mereka, dan sesuatu yang dianggap baik menurut ajakan dan bujukan setan”. (Tafsir Al-Quran, Kemenag RI).

Bertaubat dari Syirik

Syirik adalah sebesar-besar dosa yang wajib kita jauhi, karena perbuatan syirik (menyekutukan Allah) menyebabkan kerusakan dan bahaya yang besar, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam kehidupan bermasyarakat.

Pada penciptaan manusia sebagai makhluk terbaik, yang Allah ciptakan untuk menyembah-Nya, tetapi malah berbuat syirik. Maka justru langkah itu hanya merendahkan eksistensi dan derajat kemanusiaan itu sendiri.

Bagaimana tidak, Allah yang telah menjadikan manusia sebagai hamba Allah dan khalifah di muka bumi. Namun kemudian ia turunkan derajatnya itu dengan tunduk dan menghinakan diri dengan berbuat syirik kepada-Nya.

Mereka malah menjadikan sebagian dari makhluk Allah, yang merupakan ciptaan-Nya juga, termasuk bangsa Jin, sebagai Tuhan, sesembahan dan tempat bermunajat.

Syirik juga menjadi sarang khurafat dan kebatilan. Sebab dengan perbuatan syirik itu menjadikan akalnya siap menerima segala macam khurafat (takhayul), dan meyakininya. Maka tak jarang ada permintaan yang aneh-aneh sekalipun, mereka turuti. Seperti minta persyaratan harus memandikan pusaka tertentu dari tujuh sumur di daerah tertentu, mandi dengan kembang tujuh rupa, dsb.

Pada akhirnya, tidak ada cara lain untuk meninggalkan perbuatan syirik tersebut kecuali dengan bertaubat yang sebenarnya. Yakni meninggalkan keyakinan syirik, menyesalinya dan tidak akan mengulanginya lagi. Serta kembali kepada Al-Quran dan As-Sunnah, dengan cara mengamalkan ajaran Islam sebagai syari’at kehidupan manusia, dengan benar dan ikhlas.

Taubat ini tidak boleh ditunda-tunda lagi, sebab syirik adalah kedzaliman yang sangat besar. Yaitu kedzaliman terhadap kebenaran yang datang dari Allah. Sebab hakikat kebenaran yang paling agung adalah kalimat tauhid “Laa Ilaaha illallaah” (Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah).

Allah memperingatkan di dalam firman-Nya:

  اِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ

Artinya: “…..Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzaliman yang besar.” (QS Luqman/31: 13).

Lebih berat lagi adalah karena syirik merupakan dosa besar bagi pelakunya, sebagaimana firman-Nya:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۚ وَمَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدِ افْتَرٰٓى اِثْمًا عَظِيْمًا

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar.” (QS An-Nisa/4: 48).

Kita berlindung kepada Allah dari perbuatan syirik kepada-Nya. Kita perkuat dengan doa yang diajarkan oleh baginda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam :

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ نَعْلَمُهُ

Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami ketahui, dan kami memohon ampun kepada-Mu atas apa yang tidak kami ketahui.” (HR Ahmad).

Aamiin. (A/RS2/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)