Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Fenomena Riya’ Digital: Bahaya Pamer Ibadah dan Gaya Hidup di Media Sosial

Bahron Ansori Editor : Widi Kusnadi - 24 detik yang lalu

24 detik yang lalu

0 Views

Riya’ digital muncul ketika seseorang menampilkan ibadah atau gaya hidupnya di media sosial dengan tujuan mendapatkan pengakuan dan pujian, bukan semata-mata karena Allah. (foto: ig)

FENOMENA media sosial di era modern telah melahirkan budaya baru: manusia ingin selalu dilihat, dikenal, dan dipuji. Jika dahulu riya’ hanya terjadi di lingkungan kecil, kini ia menjelma menjadi riya’ digital yang bisa disaksikan jutaan pasang mata. Riya’ digital muncul ketika seseorang menampilkan ibadah atau gaya hidupnya di media sosial dengan tujuan mendapatkan pengakuan dan pujian, bukan semata-mata karena Allah.

Al-Qur’an dengan tegas mengingatkan,

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ

“Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, yang berbuat riya’.” (Qs. Al-Ma’un: 4-6).

Ayat ini memperingatkan bahwa ibadah yang tercemar riya’ akan mengundang murka Allah, meski secara lahir terlihat mulia.

Baca Juga: Tadabur Rekayasa Jalan Raya, Ikhtiar Menuju Keselamatan Berkendara

Fenomena riya’ digital sering kita lihat ketika seseorang memamerkan dirinya sedang bersedekah, memotret tangisan doa di malam hari, atau mengunggah video panjang shalat tahajjudnya. Padahal Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya, “Apakah syirik kecil itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Riya’.” (HR. Ahmad).

Betapa ngeri, sebuah amal yang seharusnya mengantarkan ke surga justru berubah menjadi syirik kecil yang menggugurkan pahala.

Media sosial menciptakan ruang tanpa batas untuk riya’. “Like”, komentar, dan jumlah pengikut bisa menjadi candu yang mengubah niat tulus menjadi pamer. Penelitian psikologi menyebutkan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan meningkatkan kecenderungan narsisme dan kebutuhan validasi sosial. Fakta ini menunjukkan betapa dunia digital bisa menjadi ladang ujian bagi keikhlasan seorang muslim.

Bahaya riya’ digital bukan hanya menghapus pahala, tetapi juga menanamkan penyakit hati: sombong, merasa lebih suci, dan merendahkan orang lain. Nabi SAW bersabda, “Barang siapa memperdengarkan (amalnya), maka Allah akan memperdengarkan (aibnya). Dan barang siapa berbuat riya’, maka Allah akan menampakkan riya’nya.” (HR. Bukhari-Muslim). Hadis ini menegaskan bahwa semua yang kita pamerkan akan dibuka oleh Allah, bahkan bisa mempermalukan kita kelak di hadapan manusia pada Hari Kiamat.

Baca Juga: Bersaudara Karena Allah

Namun, perlu kita sadari bahwa tidak semua unggahan kebaikan otomatis bernilai riya’. Jika niatnya murni untuk menginspirasi, mengajak, dan memberi teladan, maka hal itu bisa menjadi amal jariyah. Tetapi, garis tipis antara ikhlas dan riya’ sangat rapuh. Karena itu, seorang mukmin harus selalu menjaga hati dan melakukan muhasabah sebelum menekan tombol “unggah”.

Fenomena ini semakin berbahaya ketika gaya hidup ikut dipamerkan. Banyak muslim terjebak dalam budaya “pamer gaya hidup Islami” seperti liburan sambil membawa mushaf, foto di masjid megah, atau memperlihatkan rumah tangga yang tampak sempurna. Padahal, bisa jadi semua itu hanya ilusi digital, bukan cerminan nyata. Allah mengingatkan,

وَمَا أُوتِيتُم مِّن شَيْءٍ فَمَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَزِينَتُهَا

“Dan apa saja yang diberikan kepadamu, maka itu hanyalah kesenangan hidup dunia dan perhiasannya.” (Qs. Al-Qashash: 60).

Riya’ digital juga melahirkan dampak sosial: orang lain merasa rendah diri, iri, bahkan tertekan melihat “kesempurnaan” yang ditampilkan di layar. Inilah yang memicu fenomena penyakit ‘ain, yaitu pandangan iri dengki yang bisa membawa mudarat pada yang dipandang maupun yang memandang.

Baca Juga: 7 Alasan Rakyat Palestina Yakin Indonesia Bantu Perjuangannya

Rasulullah SAW bersabda, “‘Ain itu benar adanya, seandainya ada sesuatu yang dapat mendahului takdir, maka itulah ‘ain.” (HR. Muslim). Sebuah status atau foto sederhana bisa mengundang penyakit hati orang lain, padahal kita tidak pernah berniat demikian.

Fenomena ini menuntut kita untuk kembali kepada prinsip ikhlas. Ibadah yang tersembunyi lebih dicintai Allah daripada yang diumbar. Nabi SAW bersabda, “Allah mencintai seorang hamba yang bertakwa, yang kaya hati, dan yang menyembunyikan amalnya.” (HR. Muslim). Betapa indah, amal yang dirahasiakan bagaikan permata yang disimpan rapat, hanya Allah yang mengetahuinya.

Seorang ulama salaf berkata, “Ikhlas itu adalah ketika amal baikmu tidak berubah meskipun manusia melihat atau tidak melihat.” Inilah barometer yang harus kita pasang sebelum berinteraksi di dunia digital. Apakah kita tetap akan melakukan amal itu jika tidak ada kamera, tidak ada likes, tidak ada komentar? Jika iya, maka insya Allah amal itu ikhlas.

Langkah praktis agar terhindar dari riya’ digital adalah memperbanyak ibadah yang tidak diketahui orang lain: shalat malam tanpa perlu foto, sedekah tanpa perlu bukti transfer, doa tanpa status panjang. Jika pun ingin berbagi inspirasi, sampaikan secara umum, tanpa harus menampilkan diri sebagai tokoh utama.

Baca Juga: Amal Baik vs Amal Banyak: Rahasia Hidup Bermakna Menurut QS. Al-Mulk Ayat 2

Media sosial seharusnya menjadi sarana dakwah, bukan ajang pamer. Umat Islam harus cerdas menempatkan diri, menjadikan setiap unggahan sebagai pengingat, bukan penghapus pahala. Ingatlah pesan Allah,

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Qs. Al-An’am: 162).

Fenomena riya’ digital adalah ujian besar di zaman ini. Setiap jari yang mengetik, setiap kamera yang menyorot, setiap unggahan yang kita sebarkan akan menjadi saksi di hadapan Allah. Amal kecil yang ikhlas jauh lebih berharga daripada amal besar yang dipamerkan.

Maka, mari kita jaga hati. Jadikan dunia digital sebagai ladang dakwah, bukan panggung riya’. Sembunyikan amal agar Allah memuliakan kita di hari akhir. Semoga kita termasuk hamba yang ikhlas, yang amalnya diterima dan diselamatkan dari jebakan riya’ digital yang menipu.[]

Baca Juga: 9 Fakta Mengejutkan: Tanda-Tanda Zionis Israel Menuju Kehancuran

Mi’raj News Agency (MINA)

 

Baca Juga: Kementerian Haji dan Umrah, Antara Harapan dan Kekhawatiran

Rekomendasi untuk Anda