Fitrah Ummat Islam, Hidup Berjamaah (Oleh: Insaf Muarif Gunawan/Wartawan MINA)

Pertama-pertama marilah kita sama-sama memanjatkan puji dan rasa syukur ke hadirat Allah SWT, atas segala nikmat dan karunia-Nya. Tidak ada satu detik terlewat dari waktu kita, kecuali  kita rasakan nikmat dan kasih sayang Allah terus-menerus mengalir dalam setiap langkah kehidupan kita. Setiap saat, nikmat-nikmat itu semakin bertambah, nikmat yang satu senantiasa disusul dengan nikmat lainnya, tanpa bisa kita hitung jumlahnya.

Sebagaimana firman Allah dalam surat An-Nahal ayat 18:

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya: Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (An-Nahal ayat: 18)

Yang kedua, tak lupa Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan alam, baginda Nabi Agung Muhammad SAW, beserta keluarga dan para sahabatnya, serta seluruh pengikutnya, termasuk kita semua selaku ummatnya.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,”Nikmat itu ada dua, nikmat muthlaqoh (mutlak) dan nikmat muqoyyadah (nisbi). Nikmat muthlaqoh adalah nikmat yang mengantarkan kepada kebahagiaan yang abadi, yaitu nikmat hidayah kepada Islam dan iman. Nikmat inilah yang diperintahkan oleh Allah kepada kita untuk memintanya dalam doa kita, agar Allah menunjukkan kepada kita jalan orang-orang yang Allah karuniakan nikmat itu padanya.”

Nikmat Allah yang hakiki itu tidak lain adalah ketika Allah Ta’ala memberikan hidayah kepada kita, sehingga kita dapat mengenal tauhid, kemudian dapat membedakan dari lawannya, yaitu syirik, sehingga kita bisa menjauhinya. Kita dapat mengenal dan membedakan mana yang Sunnah dan mana yang bid’ah. Allah beri kemampuan kepada kita mengikuti sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam, dan dapat menjauhi bid’ah dan kesesatan sejauh mungkin.

Kita pun dapat mengenal dan membedakan, mana yang termasuk ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, dan manakah yang maksiat?Allah beri kekuatan kepada kita untuk taat dan Allah beri kemampuan kepada kita menjauhi maksiat.

Sebaliknya, nikmat yang nisbi adalah nikmat diberi harta, jabatan yang tinggi, kekusaan yang luas, termasuk badan yang sehat.  Karena itu semua menjadi ujian, apakah kita bisa mensyukurinya dengan menggunakan semua itu untuk ibadah, atau justru kita akan lupa dengan Yang Memberi Nikmat yaitu Allah.

Tidak jarang orang yang diberi nikmat berupa harta, malah dia gunakan untuk maksiat. Tidak sedikit orang yang punya pangkat dan jabatan, malah ia berbuat dzalim kepada orang lain. Dia punya badan sehat malah mencuri, berzina, berbuat kriminal dan melakukan kemaksiatan lainnya sehingga ia semakin jauh dari mengingat Allah.

Dalam Al-Quran, Allah membedakan pemberian itu ada Alaa’ ada nikmat. Dalam surah Ar-Rahman, Allah menyebut Alaa. Tetapi dalam sudah An-Nahl ayat 18 (teks di muqadimah) , Allah menggunakan kata nikmat. Lantas apa bedanya Alaa’ dengan nikmat.

فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Artinya: Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?(QS. Ar-Rahman)

Imaam Yakhsyallah Mansur menjelaskan, Alaa’ itu adalah segala pemberian, karunia dari Allah. Sedangkan nikmat adalah karunia dari Allah yang digunakan untuk ibadah. Harta itu alaa, tapi jika harta digunakan untuk ibadah, maka harta itu menjadi nikmat. Namun jika harta untuk maksiat ia menjadi azab. Jabatan dan kedudukan jika digunakan untuk ibadah, bermanfaat bagi orang lain, membahagiakan orang lain, maka ia menjadi nikmat. Akan tetapi jika jabatan digunakan untuk mendzalimi orang lain, menindas rakyat, maka ia menjadi laknat.

Indahnya Hidup Berjamaah

Manusia ditakdirkan hidup di dunia ini selain sebagai individu, ia adalah makhluk sosial. Dengan status tersebut, tidak ada manusia yang mampu untuk menjalani kehidupan sendiri memenuhi kebutuhan hidup sendiri. Ia butuh orang lain, butuh partner, dan Islam pun mensyariatkan kepada manusia dalam beberapa ibadah untuk bersama-sama.

Ibadah shalat fardhu misalnya, ia lebih baik dikerjakan berjamaah. Puasa, haji, zakat, dan ibadah lainnya syariatnya adalah dikerjakan dengan berjamaah.

Nabi Adam alaihis salam diturunkan ke bumi, ia ditemani istrinya, Hawa. Begitu juga Nabi Ibrahim hidup ditemani istri-istri dan dua putranya, Ismail dan Ishaq. Nabi Musa alaihis salam ketika diutus menjadi nabi, ia juga bersama saudaranya, Harun. Nabi Isa alaihis salam selalu didamping pengikut setianya yang dikenal dengan Hawariyun.

Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Berdua lebih baik daripada sendiri, bertiga lebih baik daripada berdua, berempat lebih baik daripada bertiga, maka hendaklah kalian tetap bersama berjamaah, karena sesungguhnya Allah tidak akan mengumpulkan umatku kecuali atas sebuah petunjuk (hidayah).” (HR. Ahmad)

Dalam sebuah kisah diceritakan, suatu ketika Amirul Mukminin Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu dalam salah satu isi khutbahnya pernah berkata:

“Siapa di antara kalian menginginkan kenikmatan surga, hendaklah ia senantiasa komitmen dengan Jamaah.”

Dalam kesempatan yang lain, Umar juga berkata:

“Tiada Islam tanpa jamaah, tiada Jamaah tanpa imamah, tiada imamah tanpa taat dan tiada taat tanpa baiat.”

Potret Kedidupan Berjamaah pada Zaman Rasul

Islam hadir ke dunia pada saat masyarakatnya hidup dalam keadaan gelap gulita, berpecah-belah, tak tentu arah kehidupannya, roda berputar tanpa ada yang mengendalikan. Pada waktu bersamaan, akhlak dan budi pekerti merosot pada tingkat paling dasar. Itu semua terjadi karena belum adanya rahmat dan cahaya dari Allah yakni dengan datangnya Islam yang diikat dalam bingkai jamaah.

Islam dan jamaah adalah dua kata yang tidak bisa dipisahkan, karena kedua kata ini saling melengkapi satu sama lainnya, sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memerintah manusia untuk senantiasa hidup berjamaah, tidak bergolong-golong, berpecah belah (berfirqah-firqah).

Allah berfirman dalam Surah Ali-Imran ayat 103.

وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعً۬ا وَلَا تَفَرَّقُواْ‌ۚ

Artinya:“Dan berpegang teguhlah kalian pada tali Allah seraya berjamaah dan janganlah kalian berfirqah-firqah…” (Qs. Ali-Imran [3] :103)

Menurut Al-Hafidz Imam Al-Qurthuby ketika menafsirkan ayat ini, ia mengatakan, yang dimaksud dengan “jami’an” pada ayat tersebut adalah bersama-sama, bersatu padu (berjama’ah). Hal ini menunjukan bahwa Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam diutus untuk mengeluarkan manusia dari zaman jahiliyah,  tidak punya pemimpin,  tidak punya panutan,  tidak tau siapa yang harus ditaati, menuju zaman terang benderang,  yaitu cahaya Islam. Rasul menjadi pemimpin untuk menyatukan umat, berada dalam satu barisan, satu kepemimpinan.

Dengan berjamaah, Islam berdiri kokoh menaungi dunia dengan kedamaian. Terbukti pada masa Rasulullah, masyarakat Madinah yang semula sering berperang, dengan datangnya Islam, mereka menjadi masyarakat yang aman tenteram dan sentausa. Rasul menjadi Imaam dan para sahabat menjadi makmumnya. Sementara orang-orang yang belum mererima Islam, mereka bersepakat dalam sebuah perjanjian yaitu Piagam Madinah.

Piagam Madinah mengatur tata cara kehidupan beragama, mengatur hubungan antara ummat Islam dengan ummat Yahudi dan suku lainnya agar mereka bisa hidup damai, berdampingan dengan aman.

Indahnya Islam juga dirasakan hingga setelah Rasul wafat. Abu Bakar dianggat sebagai Amiirul Mukminin, memimpin ummat untuk senantiasa taat menjalankan syariat. Begitupun setelah beliau wafat, diangkatlah Umar, Utsman dan Ali bin Abi Thalib. Kepemimpinan empat sahabat itulah yang menjadi potret terbaik kehidupan berjamaah yang oleh Rasul disebut sebagai Khilafah ala Minhajin Nubuwah.

Begitupun seterusnya hingga Khalifah Turki Utsmani. Ummat Islam masih memiliki sentral kepemimpinan, meskipun sistemnya sudah berubah menjadi kerajaan sejak masa kepemimpinan Muawiyah bin Abi Sufyan (setelah Ali bin Abi Thalib wafat) .

Akan tetapi, ketika hidup berjamaah dengan satu kepemimpinan mulai ditinggalkan, Islam lambat laun terjun bebas kepada titik terendahnya dan pada akhirnya dilecehkan oleh orang-orang kafir. Lihatlah saat ini, di Palestina, puluhan tahun rakyatnya menderita, tapi tidak ada yang mampu menolongnya. Muslim di Rohingya dibunuh, para wanitanya diperkosa, mereka teraniaya, tetapi tidak ada yang mampu berbuat sesuatu untuk menghentikannya. Muslim di Xin jiang juga bernasib sama, namun tidak ada yang mempu memberi advokasi kepada mereka. Itulah potret ummat Islam saat ini yang tidak memiliki kepemimpinan, sehingga mereka teraniaya dan tidak ada yang mempu menyelamatkan.

Menghadapi berbagai masalah tersebut, ummat Muslim harus menggalang kembali persatuan ummat dan mengamalkan Islam secara kaffah, bersatu-padu  dalam satu jamaah, satu kepemimpinan, membangun kesadaran umat untuk kembali kepada Al-Qur’an dan Al-Hadis meskipun harus didapatkan dengan cara merintis dan merintih.

Dikarenakan Jamaah dan persatuan merupakan jalan keluar dalam menghadapi berbagai masalah dalam masyarakat, maka kewajiban hidup berjamaah tetap harus melekat pada setiap muslim, terutama yang hidup di wilayah-wilayah dan negara yang dipimpin non-Muslim.

Jika ummat Islam tidak berjamaah, maka potensi kekuatan mereka tidak bisa dipersatukan dengan maksimal. Meskipun banyak orang shalih di antara mereka, tapi semuanya seperti perahu-perahu kecil yang mudah terhempas ombak dan badai. tidak terhimpun dalam sebuah wadah yang yang besar yaitu Jamaah.

Barangkali banyak orang hebat di antara mereka, tapi kehebatan itu seperti gundukan pasir yang sewaktu-waktu akan beterbangan saat badai datang menerpa. Banyak potensi yang tersimpan pada individu-individu muslim, tapi semuanya berserakan, tak menyatu dalam satu wadah Jamaah.

Jalan panjang kebangkitan umat seperti yang diprediksi Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam harus dimulai dari sekarang. Caranya, satukan ummat dalam satu wadah jamaah, satu kepemimpinan, persatukan mereka dalam jalinan cinta, dan ukhuwah Islamiyah, buatlah ummat Islam serasi dalam  harmoni.

Dengan demikian, kekuatan ummat Islam akan bisa dikoordinir, potensi bisa disalurkan dengan maksimal, ummat Islam akan menjadi satu kekuatan yang disegani kawan dan ditakuti lawan. Sekali lagi bukan karena jumlah mereka yang banyak, tapi karena persatuan dan kesatuanlah yang membuat mereka menjadi kekuatan yang sempurna sebagaimana pada zaman Rasul dan para sahabat, disegani lawan dan kawan bukan karena jumlah mereka tapi karena ketaatan dan kebersamaan mereka.

Kesimpulan

Jamaah adalah satu cara mempersatukan visi misi dan tujuan ummat yaitu untuk beribadah dan berjuang sesuai dengan yang dipraktekkan Nabi Muhammad dan para sahabatnya. Tujuannya hanya satu, yaitu ridha dan pertolongan Allah saja, bukan karena kepentingan pribadi, kelompok atau ingin meraih kehidupan dunia.

Islam sangat menegaskan pentingnya berada dalam jamaah, karena kehidupan di dunia ini seperti tengah berlayar di lautan lepas. Ombak yang bergulung-gulung mampu membawa siapa saja dan apa saja terombang-ambing di tengah lautan. Maka, berjamaah layaknya sebuah kapal besar yang mampu menampung banyak orang untuk berlayar mencapai satu tujuan yang sama, yaitu tegaknya Islam di muka bumi ini.

Apalagi yang membuatmu memilih jalan sendiri-sendiri, sedangkan Islam secara tegas menuntutmu untuk berada dalam barisan jamaah. Karena syariat Islam tak sekadar persoalan menjadi pribadi yang baik saja, tetapi mengajak orang-orang yang sudah baik untuk menjadikan yang lainnya baik pula, serta merubah dunia menjadi lebih baik lagi. Sebab kita takkan pernah tahu sampai kapan kita mampu berdiri kokoh dalam keimanan bila kita berjalan sendiri. Bagaimana ketika kita menyadari tengah berdiri di titik terlemah kita namun tak ada satu pun orang yang mengingatkan dan membangkitkan iman kita lagi untuk sampai pada level tertinggi. Tetaplah berdiri dalam satu barisan, berpegang erat, dan senantiasa istiqamah dalam jamaah.

Hanya orang yang ikhlas dalam hatinya, menginginkan ridha dan pertolongan Allah saja, mereka akan bersedia menyatu dalam satu jamaah, satu kepemimpinan sesuai dengan petunjuk Al-Quran dan Sunnah. (A/Gun/P1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)