Gadis Kecil Palestina Hadapi Kanker Otak Seorang Diri

Wissam menunjukkan foto Aisha Lulu setelah operasi. (Foto: Mohammed Al-Hajjar)

Oleh: Amjad Ayman Yaghi, jurnalis Gaza

 

Pada 17 Mei, Aisha Lulu, seorang anak berusia 5 tahun meninggal karena kanker di sebuah rumah sakit di Gaza.

Dia meninggal di saat keluarganya ada bersamanya, tetapi dia tidak tahu itu.

Bahkan, dia menghabiskan sebagian besar hari-harinya di bulan lalu sendirian di rumah sakit di Yerusalem, terpisah dari orangtuanya dan kerabat lainnya. Kesendiriannya karena sistem izin Israel yang mengontrol pergerakan warga Palestina di Tepi Barat dan Gaza yang diduduki.

Ketika perawatannya gagal dan dia tidak sadar lagi, dia dikirim kembali ke keluarganya di Gaza.

Aisha Lulu yang berasal dari Kamp Pengungsi Bureij di Gaza didiagnosis menderita kanker otak pada bulan April. Dia mengalami sakit kepala dan muntah-muntah sejak Maret dan dokter menemukan tumor otak pada 7 April.

Tidak adanya dokter spesialis di Gaza dan mengingat usianya yang masih belia, Aisha diberikan izin oleh otoritas militer Israel untuk dirujuk ke Al-Makassed, sebuah rumah sakit Palestina di Yerusalem Timur yang diduduki.

Namun, tak satu pun orangtuanya diizinkan untuk menemaninya. Faktanya, tidak satu pun dari keluarganya yang dibebaskan oleh militer Israel untuk membawa anak itu ke rumah sakit.

“Ini satu setengah jam perjalanan dari Gaza ke Yerusalem,” kata ibunya, Muna (27). “Hatiku hancur setiap hari saat putriku pergi.”

Muna marah karena tidak ada tempat di dekatnya yang bisa mengobatinya. Dan dia sangat marah pada militer Israel yang membiarkan Aisha menderita sendirian.

“Mengapa Israel memperlakukan kita seperti ini? Kami tidak berafiliasi dengan faksi politik mana pun, kami hanya orang biasa.”

 

Seluruh kerabat dilarang

Muna (27) menangis setiap hari setelah anaknya pergi ke rumah sakit di Yerusalem tanpa anggota keluarga mendampingi. (foto: Mohammed Al-Hajjar)

Pemakaman Aisha diadakan pada malam di hari dia meninggal.

Ayahnya, Wissam (37) memeluknya, menangis. Muna pingsan. Seluruh lingkungan merasakan penderitaan mereka.

Aisha telah dirawat di Yerusalem dari 17 April hingga 13 Mei. Pada saat dia meninggal, Aisha telah  hampir sebulan terpisah dari keluarganya.

Tidak ada izin yang bisa diperoleh. Orangtuanya berusaha, keluarganya berusaha, paman dan bibinya mencoba, bahkan neneknya yang berusia 75 tahun mengajukan izin kepada militer Israel untuk menemani sang anak. Namun, tidak ada yang berhasil.

Wissam mengatakan, dia dan saudaranya, Hussam, menelepon sebanyak mungkin kontak di Otoritas Palestina untuk bisa melihat apakah ada di antara mereka yang bisa membantu menekan pihak Israel.

Namun, itu tetap tidak berhasil. Hussam bahkan meyakinkan sejumlah orang yang tidak terkait untuk mengajukan izin. Setiap upaya pun ditolak.

Namun akhirnya, Hussam menemukan seorang teman keluarga, Halima Edais, dari kamp pengungsian pantai di Gaza City. Edais mendapat izin untuk menemani Aisha.

Pada 17 April, keluarga memasukkan Aisha ke dalam mobil bersama Edais dan memandanginya pergi.

“Saya menatapnya dan menangis,” kenang Wissam. “Saya tidak percaya betapa kejamnya itu, membiarkan seorang anak kecil pergi sendirian tanpa keluarganya.”

Sebelum pergi, Aisha yang menangis diberi tahu oleh ibunya bahwa dia harus bertahan tanpa keluarganya untuk sementara waktu, untuk kemudian bisa kembali dan bermain dengan ketiga saudara kandungnya lagi.

Namun, itu tidak banyak membantu. Ketika Aisha tiba di Yerusalem, hal pertama yang dia lakukan adalah menangis dan memanggil keluarganya, demikian kisah ayahnya.

 

Pembatasan yang tidak manusiawi

Aisha adalah contoh tragis dari perlakuan tidak mansiawi Israel yang umum terjadi.

Militer Israel mengoperasikan rezim perizinan untuk mengontrol gerakan warga Palestina di bawah pendudukan yang secara teratur melanggar kemanusiaan internasional.

Pada 2017 adalah tahun dengan tingkat jumlah izin terendah yang diberikan kepada warga Palestina di Gaza sejak Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mulai mengumpulkan data tersebut pada tahun 2008. Tahun 2008 itu organisasi PBB terebut melaporkan bahwa 54 pasien dari Gaza – yang sebagian besar menderita kanker – meninggal ketika sedang menunggu izin keluar Gaza untuk berobat.

Menurut Hussein Hamad, seorang peneliti dari organisasi hak asasi manusia Al Mezan, Israel dapat mempertimbangkan izin untuk pria di atas 45 tahun dan wanita di atas 40 tahun.

Tapi umur bukan penjamin. Menurut Hamad, otoritas militer Israel di pos pemeriksaan Erez – yang memisahkan Gaza dan Israel – telah menolak izin dengan alasan palsu, seperti dugaan “kerabat berafiliasi dengan partai politik, khususnya Hamas” selama dua tahun terakhir.

Al Mezan mencatat, sembilan orang tewas pada 2018 setelah ditolak izin meninggalkan Gaza dan mencari perawatan medis di tempat lain.

 

Hari terakhir

Kondisi Aisha memburuk setelah operasi pada 20 April. Dokter mengatakan kepada orangtuanya bahwa Aisha trauma dan tidak ingin berbicara atau makan. Mereka meminta keluarga mengirim kerabat untuk kenyamanan gadis itu.

Sekali lagi keluarga mencoba, kali ini melalui pemerintah Palestina di Ramallah. Mereka meminta agar bibi Aisha, Ghada, diizinkan untuk menemani keponakannya di rumah sakit.

Lagi-lagi itu tidak membuahkan hasil. Mereka bahkan tidak pernah mendapat balasan.

Sementara itu, di Yerusalem, dari Rumah Sakit Al-Makassed Aisha dirujuk menjalani operasi ke Rumah Sakit Augusta Victoria dengan harapan kemoterapi akan membantunya. Namun di sana, dokter memutuskan tidak memberikan kemoterapi padanya karena merasa itu adalah kasus tanpa harapan.

Ketika kondisinya memburuk, dokter menyerah. Dia dikirim pulang ke Gaza.

Aisha kemudian dirawat di Rumah Sakit Al-Rantisi pada 13 Mei. Dokter memberi tahu orangtuanya bahwa tidak ada yang bisa mereka lakukan.

Sang Ayah sulit mengenalinya. Berat badannya turun. Dia pucat dan sangat lemah.

Muna berkata, Aisha tidak menanggapi. Bukan hanya untuknya, tetapi tidak untuk siapa pun.

Aisha pun wafat empat hari setelah kembali ke Gaza.

Suatu hari kemudian, militer Israel merilis pernyataan yang menyangkal bahwa mereka mencegah keluarga pergi untuk menemani Aisha. Sebaliknya, pihak berwenang Israel mengklaim, orangtua Aisha lebih memilih teman keluarga untuk menemani putrinya.

Pernyataan itu juga menuduh bahwa Aisha telah pulang ke Gaza dua pekan sebelum dia meninggal, bukan empat hari.

Namun, Rumah Sakit Al-Rantisi menyatakan bahwa Aisha diterima pada 13 Mei, seperti yang dikatakan keluarga. (AT/RI-1/P1)

Sumber: The Electronic Intifada

Mi’raj News Agency (MINA)