Gambaran Kaum Muslimiin Dalam Kehidupan Berjamaa’ah

Oleh: Adzro’ie Abdusy Syukur, Da’i dan Waliyul Imaam Jama’ah Muslimin (Hizbullah) Wilayah Kalimantan Timur

Sudah merupakan sunnatullaah, bahwa manusia itu adalah makhluk sosial, makhluk yang tidak bisa hidup sendiri. Sehebat apapun orang itu, pasti membutuhkan makhluk lain, baik berupa manusia, hewan, alam dan lain sebagainya.

Setidaknya, ada lima macam ukhuwah atau persaudaraan yang dibangun manusia dalam menjalankan kehidupannya.

Pertama, Ukhuwah Nasabiyah, yang artinya persaudaraan yang berdasarkan keturunan. Sebagaimana yang disebutkan dalam surat An-Nisaa’ ayat 1;

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Artinya: “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (Q.S. An-Nisaa’ [4]: 1).

Kedua, Ukhuwah ‘Ashabiyah atau persaudaraan golongan, sebagaimana firman Allah;

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya: “Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Al-Hujurat [49]: 13).

Ketiga, Ukhuwah Wathaniyah, artinya persaudaraan sesama kebangsaan.

Keempat, Ukhuwah Basyariyah/Insaniyah, persaudaraan yang bersifat universal tanpa membedakan ras, suku, agama dan aspek lainnya. Sebagaimana dalam firman Allah;

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ وَأَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ ۚ وَمَا اخْتَلَفَ فِيهِ إِلَّا الَّذِينَ أُوتُوهُ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ ۖ فَهَدَى اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا لِمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِهِ ۗ وَاللَّهُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Artinya: “Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus. (Q.S. Al-Baqarah [2]: 213).

Kelima, Ukhuwah Islaamiyah, persaudaraan antarsesama muslim, sebagaimana termaktub dalam Al-Quran;

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Artinya: “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. (Q.S. Al-Hujurat [49]: 10).

Persaudaraan tersebut, dari nomor 1-4, sekalipun disebutkan di dalam Al-Quran dan Al-Hadits, akan tetapi Allah sendiri menjelaskan bahwa persaudaraan dalam bentuk sepeti itu tidak langgeng. Dan bersifat duniawiyah, yang berarti hanya sementara di dunia.

Akan tetapi persaudaraan berdasarkan iman dan Islam (ukhuwwah Islamiyyah), yang disebut dengan berjama’ah, persaudaraan inilah yang akan abadi hingga di akhirat kelak di dalam surga Allah Subhanahu Wa Ta’ala, insya-Allah.

Perhatikan firman Allah dalam Ali-‘Imran ayat 103 (…فاصبحتم بنعمته اخوانا) , maka jadilah kalian beraudara dan dalam surat Al-Hujurat ayat 10 (….انما المؤمنون اخوة فاصلحوا بين اخويكم….). Sesungguhnya hanya orang yang beriman itulah bersaudara, maka perbaikilah persaudaraan di antara kalian.

Perhatikan pula sabda Rasulullaah Shallallaahu ‘Alaihi Wa sallama: -تلزم جماعة المسلمين وامامهم=Tetaplah engkau pada Jamaa’ah Muslimin dan Imamnya –من اراد بحبوحة الجنة فليلزم الجماعة = Siapa yg hendak bertempat tinggal didalam surga ,màka menetaplah pada Al-Jamaa’ah.

Kehidupan Berjama’ah

Gambaran hidup berjama’ah itu adalah bagaikan shalat berjama’ah, ada imam dan makmum. Semua jama’ah mentha’ati imam selama imam dalam keadaan benar dan tidak melakukan kesalahan. Akan tetapi jika imam ada kesalahan, harus diingatkan, bukan ditinggalkan. Dan perlu diingat bahwa shalat berjama’ah, jama’ahnya selalu terpimpin, yaitu dipimpin oleh seorang imam.

Gambaran lain, bagi kehidupan berjama’ah itu adalah bagaikan masyarakat lebah madu. Lebah memiliki senjata tapi tidak pernah menyerang musuh, kecuali dia diserang lebih dahulu. Lebah juga tidak pernah merusak lingkungan dan tidak pernah membuat onar. Namun lebah madu hanya fokus pada membangun solidaritas sesamanya, mengumpulkan madu yang sangat bermanfa’at untuk dirinya dan makhluk lain termasuk manusia. Dan yang terpenting masyarakat tawon lebah hidupnya selalu terpimpin.

Allah menyebutnya di dalam ayat:

وَأَوْحَىٰ رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ.ثُمَّ كُلِي مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا ۚ يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Artinya: “Dan Rabbmu mengilhamkan kepada lebah: ‘Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia.’ (QS. 16:68) Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Rabbmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Rabb) bagi orang-orang yang memikirkan. (Q.S. An-Nahl [16]: 68-69).

Pohon tempat lebah tinggal pun jika berbuah akan menjadi aman. Siapapun boleh mengambil madu dan buah pohon yang di tempatinya, asalkan dengan cara yang baik, dengan tidak mengganggu kenyamanan mereka, mereka tak akan menyerang. Itulah indahnya kebersamaan.

Perumpamaan lain bagi bersatunya kaum Muslimin dalam satu kesatuan (Al-Jama’ah) adalah bagaikan penumpang sebuah kapal. Dia tha’at kepada semua peraturan kapal, kecuali yang menyalahi Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Di antaranya harus tertib dan disiplin, menjaga kebersihan dan keselamatan serta ke amanan bersama, tidak boleh mengganggu kenyamanan sesama penumpang, dan selalu berbuat baik bagi sesama dan kepentingan bersama. Ia juga suka mendahulukan atau mengutamakan kepentingan orang lain dalam banyak hal, suka berbagi dan memberi. Dan yang terpenting di antaranya adalah baik para penumpang kapal, atau siapapun yang ada di dalam kapal, mereka selalu hidupnya terpimpim, yaitu oleh seorang nakhoda.

Penutup

Kedudukan orang beriman dalam ukhuwwah digambarkan dalam sebuah hadits, adalah setara dengan para Nabi dan Rasul di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Mudah-mudahan kita seperti itu nanti di sisi Allah. Aamiin Allahumma aamiin. (P004/P4)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)