Gaza Masih Bisa Diselamatkan

Seorang pemuda Gaza duduk di atas reruntuhan bangunan rumahnya yang hancur akibat perang 2014. (Foto: Foreign Policy)

Sebuah laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berjudul “Gaza – 10 Tahun Kemudian” dirilis pada hari Selasa, 11 Juli 2017.

Laporan itu menyebutkan bahwa kondisi kehidupan di Jalur Gaza, Palestina, terus memburuk dalam 10 tahun sejak wilayah tersebut diblokade oleh Israel. Terjadi penurunan yang terus-menerus terhadap pendapatan, kesehatan, pendidikan dan listrik.

GDP riil per kapita di Gaza juga menurun, sementara penyediaan layanan kesehatan yang mendesak kian buruk.

Laporan tersebut juga menemukan bahwa sumber air Gaza diprediksi akan habis pada tahun 2020, kecuali jika ada tindakan segera yang dilakukan.

Meski demikian, Gaza terus mengikuti lintasan pembangunannya, bahkan dalam banyak kasus, lebih cepat dari perkiraan.

Menurut Robert Piper, Koordinator Bantuan Kemanusiaan dan Pembangunan PBB, dengan energi listrik dua jam sehari, diperparah 60 persen tingkat pengangguran kaum muda, ambang batas kemampuan Gaza seharusnya sudah lama berakhir. Namun, Gaza membuktikan hingga saat ini kehidupan itu masih berlanjut dengan segala keburukannya.

Bantuan kemanusiaan yang terus-menerus mengalir ke Gaza menjadi faktor utama yang memperlambat penurunan ekstrem Gaza, tapi arah ke bawah tetap jelas.

“Saya melihat luar biasanya proses yang mencekik, tidak manusiawi dan tidak adil terhadap dua juta warga sipil di Gaza yang benar-benar tidak menimbulkan ancaman bagi siapa pun,” kata Piper.

Namun, Piper mengatakan bahwa masih ada kemungkinan untuk menghindari krisis kemanusiaan di Gaza, yaitu hanya jika masyarakat internasional bertindak cepat.

Pertama-tama, orang-orang Gaza harus sedikit lebih diprioritaskan, jika tidak, tempatkan nasib 2 juta orang itu berada di puncak agenda masyarakat dunia.

“Kami 100 persen optimis bahwa hal itu bisa dilakukan jika ada kemauan dari pihak aktor kunci untuk mewujudkannya,” kata Piper.

Tanpa listrik, warga Gaza membuat api untuk menghangatkan tubuh dari suhu dingin. (Foto: Infopal.it)

Sementara itu, Robert Vallent, juru bicara Program Pembangunan PBB di Gaza, mengatakan bahwa penduduk Gaza tidak boleh diasingkan ke dalam sebuah kasus kemanusiaan.

Rakyat Gaza memang tidak dalam kondisi kelaparan, tapi mereka berada dalam situasi kritis. Tidak cukup masyarakat internasional hanya mendorong blokade agar dilonggarkan, tapi harus diangkat total.

Vallent mengusulkan, orang-orang Gaza butuh investasi modal untuk mempertahankan diri dengan cara yang bermartabat. Itu artinya, perlu ada rencana dan strategi jangka panjang untuk memastikan ekonomi dan kelembagaan rehabilitasi ekonomi Gaza.

Pada tahun 2007, gerakan Palestina Hamas menguasai Jalur Gaza setelah mengalahkan fraksi saingannya, Fatah.

Segera setelah itu, Israel bergerak mengisolasi Hamas dengan membatasi arus barang dan orang-orang yang masuk dan keluar dari Gaza, membatasi akses ke laut dan bekerja sama dengan Mesir untuk memberlakukan blokade lengkap.

Daerah kantong pantai itu adalah rumah bagi sekitar dua juta orang Palestina yang memiliki usia rata-rata 18 tahun.

Israel telah meluncurkan tiga serangan besar di Gaza sejak 2008, membunuh ribuan orang Palestina.

Kerusakan parah pada infrastruktur Gaza yang sudah lemah telah berkontribusi besar terhadap krisis kemanusiaan saat ini.

Salah satu langkah nyata yang dunia internasional lakukan adalah seperti apa yang ditunjukkan oleh pemerintah Qatar.

Duta Besar Qatar untuk Gaza Mohammad Al-Emadi berjanji terus mendukung daerah kantong pantai Palestina yang terkepung itu, terlepas dari tuntutan negara-negara Teluk agar pemerintah Doha tidak mendukung Hamas.

Selama lima tahun terakhir, Qatar telah menjanjikan uang rekonstruksi senilai 1,4 miliar dolar AS yang telah dikirim untuk rumah sakit dan perbaikan jalan menuju proyek perumahan.

Al-Emadi juga merupakan Kepala Komite Qatar untuk Rekonstruksi Gaza.

Dengan cara yang berbeda, Turki pun menunjukkan loyalitasnya membantu tetap menjaga agar rakyat Gaza bisa terus hidup di dalam blokade itu.

Melalui kesepakatan rekonsiliasi Turki-Israel pada 27 Juni 2016, Israel memberi akses kepada Turki untuk membantu Jalur Gaza. Turki bisa mendapat izin dari Israel untuk membangun proyek-proyek infrastruktur di Gaza seperti rumah sakit, pembangkit listrik dan pabrik desalinasi (penyulingan air laut).

Dengan kesepakatan itu juga, Israel berkomitmen untuk mengizinkan Turki mentransfer bantuan kemanusiaan tak terbatas dan peralatan-peralatan ke Gaza selama itu melewati pelabuhan Ashdod milik Israel.

Selain bantuan internasional yang harus tetap mengalir, faktor lain yang bisa menyelamatkan Jalur Gaza dan rakyatnya adalah faktor keajaiban yang datang dari Tuhan. (RI-1/RS3)

Sumber: Al Jazeera dan lainnya

 

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)