Gebrakan Diplomasi Ekonomi Indonesia di Kawasan Pasifik

Oleh Sajadi, Wartawan MINA

Selama beberapa tahun terakhir, Pasifik telah menjadi kawasan yang sangat penting dan strategis. Kawasan tersebut merupakan salah satu rute perdagangan terpenting yang menghubungkan Asia dan Amerika.

Oleh karena itu, kawasan tersebut membawa keuntungan bagi negara-negara besar untuk memperluas pengaruhnya.

Beberapa inisiatif Pasifik telah diluncurkan oleh Pemerintah Indonesia dan semuanya bertujuan untuk meningkatkan perkembangan kawasan dan kesejahteraan masyarakatnya.

Tantowi Yahya, Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk Selandia Baru merangkap Samoa dan Tonga mengatakan, meski dalam kondisi pandemi Covid-19, Pemerintah Indonesia akan melakukan gebrakan diplomasi ekonomi dengan penyelenggaraan 2nd Pacific Exposition (PE 2) secara virtual pada tanggal 27-30 Oktober 2021 dengan tema “It’s Pacific Time”

Pacific Exposition merupakan pameran dagang, investasi dan pariwisata yang secara komprehensif mempertemukan pelaku bisnis dari seluruh negara di kawasan Pasifik termasuk Indonesia, Australia dan Selandia Baru

Latar Belakang Pelaksanaan 2nd Pacific Exposition

2nd Pacific Exposition merupakan lanjutan dari 1st Pacific Exposition (PE1) pada 2019.

Keberhasilan PE1 dari aspek riil (ekonomi) adalah mendatangkan lebih dari 5000 pengunjung dan menghadirkan 600 tamu terdiri dari 3 Kepala Negara, 6 Menteri Luar Negeri, 14 Menteri Teknis, Pimpinan dan anggota Parlemen.

PE1 juga menghasilkan komitmen transaksi ekspor Indonesia sebesar USD 70,3 juta (1 Triliun Rupiah) di bidang hospitality, ikan tuna segar & Beku, kopi, koprah,cengkeh, pala, rumput laut, produk rotan, kerajinan tangan, ban mobil, pencetakan alat transaksi pembayaran, serta MICE.

Selain mendatangkan manfaat ekonomi, PE1 juga meningkatkan awareness masyarakat Pasifik bahwa Indonesia adalah bagian dari Pasifik

Berangkat dari kesuksesan penyelenggaraan yang pertama,Pacific Exposition yang kedua, diharapkan seluruh negara dan wilayah di Kawasan Pasifik turut berpartisipasi.

Eksposisi kedua itu akan menghadapi tantangan unik karena dunia masih berjuang melawan pandemi Covid-19 dan dampak ekonominya.

Disamping itu, faktor-faktor yang menjadi pertimbangan pelaksanaan PE1 antara lain: semakin kokohnya identitas Kepasifikan Indonesia, upaya untuk membuka akses Indonesia bagian timur ke Pasifik dan keinginan negara-negara Pasifik terhadap Pacific Exposition sebagai upaya pemulihan ekonomi di kawasan.

“It’s Pacific Time”

Tema tersebut mencerminkan optimisme sebagai kawasan yang berhasil mengatasi pandemi. Serta bisa dikatakan siap untuk memulai pemulihan ekonominya lebih awal dan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi.

Mengingat fakta bahwa perbatasan masih ditutup, Pacific Exposition akan memiliki tiga program virtual.

Format virtual akan memungkinkan lebih banyak fleksibilitas dan akses yang lebih mudah bagi lebih banyak pengunjung dan pihak yang berkepentingan.

Program virtual tersebut antara lain: exhibition, pameran produk dan komoditas, Business matching dan forum bisnis.

Market Size Pasifik & Nilai Perdagangan Indonesia-Pasifik

Pasar Pasifik adalah pasar suatu lucrative market yang harus kita kapitalisasi. Secara keseluruhan apabila ditambahkan Selandia Baru dan Australia, maka market size Pasifik sekitar USD 2,5 triliun.

Menurut data Kementerian Perdagangan RI, sepanjang tahun 2020 total nilai perdagangan Indonesia dengan negara – negara di Pasifik adalah sebesar USD 9,025 miliar, dengan nilai ekspor sebesar USD 3,43 miliar dan nilai impor sebesar USD 5,58 miliar.

Dengan adanya gap ekspor-impor yang masih cukup besar tersebut, masih terbuka peluang cukup besar untuk meningkatkan ekspor Indonesia ke negara-negara Pasifik agar neraca perdagangan lebih seimbang.

Dari data World Integrated Trade Solution, mayoritas produk ekspor Indonesia ke negara-negara Pasifik non Australia dan Selandia Baru, antara lain, adalah: consumer goods, intermediate goods, food products, dan machinery/electronic. (A/RE1/RS3)

Mi’raj News Agency (MINA)