Geliat Wisata Halal di Taiwan

Oleh: Rana Setiawan,  Jurnalis Kantor Berita MINA

Pemerintah Taiwan tengah gencar mempromosikan wisata halal . Negeri Formosa yang berarti pulau terindah itu, bukan  negara Muslim,  tapi Taiwan sedang terus berupaya memberikan lingkungan ramah bagi wisatawan Muslim dengan mengakomodir kebutuhan mereka.

Divisi Luar Negeri Biro Pariwisata di bawah Kementerian Transportasi dan Komunikasi (MOTC) Taiwan, Alice Ko, menjelaskan, seiring dengan pelaksanaan Kebijakan Menuju Asia Selatan Baru dari pemerintah pusat, saat ini sudah tersedia lebih dari 181 restoran dengan sertifikat halal di negara itu.

“Bahkan hotel berbintang lima sudah ada yang melakukan sertifikasi halal,” kata Alice saat memaparkan materi dalam acara “2018 Taiwan Muslim Youth Exchange Camp for Southeast Asian Countries” di Gedung Kementerian Luar Negeri di Taipei, Jumat (25/7/2018).

Pada hotel berbintang yang sudah menerapkan ramah Muslim, di antaranya disediakan arah kiblat dan jadwal solat di setiap kamar bagi pengunjung muslim. Saat di restoran hotel juga diberi tanda bagi menu yang boleh dimakan pengunjung Muslim.

Untuk meningkatkan kenyamanan selama berwisata, berbagai atraksi dan kawasan wisata di seluruh Taiwan, juga telah dilengkapi dengan fasilitas ruang ibadah dan toilet bagi wisatawan Muslim di oyek=obyek wisata.

“Ada tempat ibadah (musala) di 13 tempat wisata di seluruh Taiwan, seperti di taman wisata pantai nasional di Yilan, utara Taiwan dan taman wisata Alishan,” jelasnya.

Selain itu, Alice Ko mengatakan, musala juga sudah tersedia di berbagai fasilitas umum, seperti di Bandara Internasional Taoyuan dan beberapa stasiun kereta, diantaranya di Stasiun Kereta Api Taipei, Stasiun Kereta Api Kaoshiung, Stasiun Kereta Api Huailen, dan Stasiun Kereta Cepat Taiwan Taichung.

Jalan tol pun tak luput dari pembangunan fasilitas ibadah wisatawan Muslim, yaitu di rest area jalan tol Qingshui yang juga terkenal indah pemandangannya.

Taiwan juga memiliki tujuh masjid besar yang tersebar dari utara sampai selatan, dan terletak di wilayah metropolitan. Salah satu masjid tertua dan terbesar ialah Masjid Raya Taipei, yang juga kerap menjadi destinasi wisata. Lalu ada Masjid Kebudayaan Taipei di Xinhai Road, Taipei.

Masjid Longgang di Longdong Road, Distrik Zhongli, Taoyuan. Masjid At-Taqwa di Zili first street, Distrik Dyuan, Taoyuan. Masjid Taichung di Dadun S. Road, Taichung. Masjid Tainan di Zhonghua E. road, Tainan. Lalu Masjid Kaoshiung di Jianjun road, Distrik Lingya, Kaoshiung.

Kantor promosi wisata ramah Muslim Taiwan telah didirikan di Singapura, Kuala lumpur, dan Bangkok, untuk bertanggung jawabdalam hal branding, promosi dan pemasaran wisata halal di negara itu. “Kami juga akan mendirikan kantor di Indonesia. Saat ini, jadi fokus kami karena Indonesia menjadi negara terbesar penduduk Muslim dunia,” ujar Alice Ko.

Pemerintah Tapei juga tengah menyiapkan para pemandu tur wisata Ramah Muslim  melalui proses sertifikasi.

Taiwan tidak memiliki daratan yang luas, namun mempunyai aset wisata yang melimpah. Taiwan dengan luas 36.ooo kilometer persegi memiliki lebih dari 1.500 km garis pantai yang menakjubkan, habitat bagi lebih dari 10 persen spesies laut di dunia, terdapat 25.126 spesies hewan dan 5.728 jenis tumbuhan, serta pemandangan budaya Asia yang paling khas dan unik.

Taiwan tak hanya memiliki kemegahan mengagumkan Taipei 101, keindahan Danau Sun Moon dan romantisme Sungai Cinta. Negara ini juga menawarkan berbagai jenis taman nasional dan pertanian rekreatif untuk para keluarga, pusat belanja untuk produk butik bertaraf internasioal, serta pusat belanja produk berteknologi tinggi.

Dari semua yang terbaik tersebut, Taiwan menawarkan keramahtamahan, dengan keterbukaan pada keagamaan dan kebudayaan pada masyarakatnya.

Taiwan  yang berpenduduk kurang lebih 23 juta jiwa masyarakatnya sangat menerima dengan kehadiran pendatang dan turis khususnya dari negara-negara yang berpenduduk muslim seperti Indonesia dan Malaysia.

Pemerintah Taipei tengah gencar memberikan ketersediaan produk dan restoran halal di Taiwan bagi pekerja asal Indonesia yang saat ini jumlahnya mencapai 260.000 orang dan kantin-kantin di universitas negara itu yang saat ini jumlah pelajar Indonesia di Taiwan sudah menembus angka 7.000 siswa.

Menurut Global Muslim Travel Index (GMTI) 2018, Taiwan menjadi negara yang menduduki rangking kelima dari negara non-muslim dunia yang mampu melayani pelancong Muslim menyediakan beragam fasilitas, seperti tempat ibadah, makanan dan lainnya.

Pemerintah Taipei juga secara aktif mengadakan penyuluhan dan kunjungan lapangan bagi para pengelola bisnis pariwisata untuk mendorong mereka mengajukan sertifikat halal.

Sertifikasi Halal

Dalam hal proses sertifikasi halal, pemerintah bekerjasama dengan ormas Islam setempat dan lembaga sertifikasi halal dunia.

Berdasarkan data yang didapatkan MINA, ada empat lembaga sertifikasi halal di Taiwan, yakni Perhimpunan Muslim Tiongkok (Chinese Muslim Association/CMA), Taipei Grand Mosque, Islamic Association of Taiwan, dan Kaohsiung Mosque.

Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) juga telah membuka kantor representatif bekerjasama dengan Sincung Halal for Taiwan di Taipei sejak Oktober tahun lalu, dalam rangka menerapkan standar sertifikasi produk halal pada dunia internasional.

Sementara pakar halal dari Perhimpunan Muslim Tiongkok, Majid Tsai, menjelaskan, ketika berwisata, restoran atau rumah makan yang dikunjungi oleh wisatawan Muslim harus memiliki sertifikat “Halal” berlogo (حلال).

Sertifikat halal yang dikeluarkan ormas Islam pertama dan tertua di Taiwan Perhimpunan Muslim Tiongkok terbagi menjadi tiga jenis, yaitu sertifikat untuk rumah makan yang dikelola oleh pengusaha Muslim yakni “Muslim Restaurant”, rumah makan yang dikelola pengusaha non-Muslim yakni “Muslim Friendly Restaurant”, serta rumah makan yang dapat menyediakan masakan halal yakni “Halal Kitchen”. Selain itu ada dua jenis sertifikasi khusus bagi wisata halal, yaitu pariwisata Ramah Muslim “Muslim Friendly Tourism” dan Pemandu Wisata Ramah Muslim “Muslim Friendly Tour Guide”.

Menurutnya, untuk menarik wisatawan Muslim diperlukan pemahaman tentang agama dan budaya Muslim, kemudian mengajukan sertifikat halal, dalam proses pengolahan dan memasak tidak menggunakan daging babi dan alkohol, tidak menggunakan bumbu masak yang memiliki bahan dasar alkohol, dan menyediakan ruang dapur khusus dengan tata kelola yang baik dan efektif.

Majid Tsai mengatakan fihaknya tengah meluncurkan aplikasi yang memudahkan wisatawan untuk mengetahui lokasi restoran halal, hotel yang ramah Muslim, masjid, musala, hingga tempat berbelanja yang tersebar di seluruh Taiwan.

“Bagi wisatawan Muslim yang ingin mengunjungi Taiwan bisa mengunduh aplikasi Halal.tw untuk memudahkan para wisatawan Muslim,” kata Majid kepada MINA.

Seorang warga muslim Taiwan yang menjadi pengusaha pemilik restoran halal dengan menu khas ala negeri Thailand yakni H. Yunus Ma menyatakan mudahnya memperoleh sertifikasi halal.

Pemilik Restoran Halal Yunus yang telah didirikan sejak 20 tahun lalu itu mengatakan, dalam prosesnya dapat memakan waktu hanya dua pekan untuk dapat mendapatkan sertifikasi halal setelah berkas lengkap dan auditor memberikan penilaian.

Penulis pun berkesempatan merasakan bagaimana geliatnya pariwisata halal di Taiwan, tergabung bersama 40 tokoh pemuda Islam dari 4 negara ASEAN (Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) mengikuti 2018 Taiwan Muslim Youth Exchange Camp for Southeast Asian Countries pada 22-28 Juli 2018, dengan mengunjungi daerah-daerah komunitas Muslim terbesar di sana, seperti Kota Taipei dan Kaohsiung.

Setelah melihat sendiri, tentunya tidak bisa dipungkiri Taiwan bisa menjadi negara nonMuslim yang terdepan dalam pelayanan wisata halal saat ini.(A/R01/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)