Gelombang Dahsyat “Ghazwah Fathul Aqsa”

Oleh : Nur Ikhwan Abadi, Sekjen Aqsa Working Group (AWG)

Setiap kali ke wilayah-wilayah untuk berbagi cerita tentang pengalaman di Gaza, saya banyak bertemu dengan ikhwan dan akhwat yang bersemangat untuk bisa beramal saleh di Gaza.

Akhi (Saudaraku), doakan saya bisa amal saleh di Gaza,” ujar seorang ikhwan. Saya tanya, “Mau apa di Gaza?” Sambil menangis sesenggukan dia katakan, “Saya ingin syahid akhi, saya banyak dosa, mungkin dengan syahid dosa-dosa saya akan diampuni oleh Allah.”

Beda lagi seorang akhwat yang masih kuliah di salah satu perguruan tinggi di Bogor. “Saya ingin ke Gaza, walaupun tugas saya hanya memasak, saya siap ke Gaza,” ujarnya penuh semangat. Ketika ditanya, “Kenapa ingin ke Gaza?” Dia menjawab, “Saya ingin membantu saudara-saudara di sana. Saat di padang Mahsyar dan ketika Allah tanya saya, apa yang sudah saya lakukan untuk Al-Aqsa, saya bisa menjawabnya.”

Bahkan ada seorang ayah yang rela mewakafkan anak muslimahnya untuk berangkat beramal saleh di Rumah Sakit Indonesia di Gaza. Merinding saya mendengarnya, ketika sang ayah mengumumkan hal ini di depan sebuah forum di Bandung. Yang lebih mengagumkan lagi, sang anak dengan rela dan ikhlas menyambut seruan ayahnya. Allahuakbar. Ini tidak main-main, seorang ayah rela melepas anaknya untuk berangkat jihad yang mungkin saja nyawa anak tersebut bisa melayang, karena peperangan bisa terjadi setiap saat di Gaza. Ketika peperangan terjadi maka, tidak ada daerah di Jalur Gaza yang aman dari serangan Israel.

Tiga cerita tadi adalah sedikit cerita yang menggambarkan betapa dahsyatnya pengaruh Al-Aqsha terhadap semangat jihad kaum Muslimin. Masih banyak lagi ikhwan dan akhwat yang siap berangkat untuk beramal saleh di Palestina.

Dahsyatnya pengaruh perjuangan Pembebasan Masjid Al-Aqsha terhadap pemantapan akidah kaum Muslimin. Inilah panggilan akidah, akidah yang begitu kuat bisa meluluhkan segala kepentingan keduniaan. Orang yang rela berkorban, jiwa dan hartanya untuk kepentingan Islam dan Muslimin, itulah Muslim sejati.

Menumbuhkan semangat jihad dalam diri memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, butuh proses dan perlu diperjuangkan. Karena kesenangan dunia yang begitu menggoda dapat meluluhlantakkan semangat jihad kita. Allah sendiri telah memperingatkan kepada kita bahwa delapan hal di dunia ini yang menjadi penghalang jihad. Dalam Al-Quran Surat At-Taubah ayat 24 Allah berfirman yang terjemahnya:

“Katakanlah: ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai lebih daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”

Dalam ayat tersebut Allah menjelaskan delapan hal penghalang jihad, di antaranya: bapak atau orangtua, anak, saudara, istri atau pasangan, keluarga, harta, perniagaan dan tempat tinggal.

Siapa yang tidak senang dengan ayah, anak, istri saudara, dan harta benda? Allah lah yang memberikan rasa senang kepada delapan hal tersebut sehingga kita selalu ingin dekat dengannya. Pada dasarnya  menyenangi kedelapan hal itu adalah boleh dan sah-sah saja, akan tetapi Allah mengingatkan jangan sampai kedelapan hal tersebut lebih menyenangkan daripada Allah, Rasul dan jihad fi sabilillah.

Karena ketika urusan dunia ini lebih menyenangkan dari urusan Allah, Rasul dan jihad, maka Allah memberikan sebuah peringatan keras. Pada lanjutan ayat tersebut Allah mengancam dengan kata “tunggulah”, yang artinya menunggu keputusan Allah. Jika keputusan Allah datang maka kedelapan hal tersebut sama sekali tidak ada gunanya. Allah juga tidak akan memberi petunjuk, dan akan mencabut hidayah dalam dirinya, serta akan dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang fasik.

Ikhwani fillah, ladang jihad kita sudah terbuka, jangan disia-siakan kesempatan ini, Ghazwah Fathul Aqsa yang dikumandangkan sejak 1427 H/2006 M lalu bergerak cepat laksana bola salju yang terus membesar tanpa terbendung. Seruan yang awalnya dikumandangkan di Cileungsi, Bogor dengan jaraknya puluhan ribu km dari Masjid Al-Aqsha dan empat tahun setelahnya gelombang itu digulirkan, kini kita telah menjejakkan kaki 80 km dari masjid suci ketiga Muslimin itu.

Untuk itu mari, seruan jihad sudah dikumandangkan, ladang jihad sudah terbuka lebar, kita sambut seruan ini dengan ikhlas dan semangat tinggi menggapai syahid. Niatkan syahid, karena sesungguhnya orang yang berniat syahid kemudian dia berusaha keras untuk menggapainya, maka Allah akan mengabulkan permohonan syahidnya.

Barangsiapa yang memohon syahadah (mati syahid) dengan jujur, maka dia akan diberikan (pahala) syahadah meskipun dia tidak mati di medan perang. (HR. Muslim) . Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar, Al-Aqsha haqquna. (KD/P2/RI-1)

Mi’raj News Agency (MINA)