GELOMBANG PANAS BUNUH LEBIH 100 WARGA PAKISTAN

Tim medis membawa jenazah yang meninggal karena tingginya suhu gelombang panas di Karachi, Sabtu 19 Juni 2015. (Foto: AFP)
Tim medis membawa jenazah yang meninggal karena tingginya suhu gelombang panas di Karachi, Sabtu 19 Juni 2015. (Foto: AFP)

Karachi, 5 Ramadhan 1436/22 Juni 2015 (MINA) – Sebuah gelombang panas di Karachi dan kabupaten lain di provinsi Sindh selatan, Pakistan, telah menewaskan sedikitnya 122 orang.

“Sejak Sabtu (19/9), 114 orang tewas di Karachi dan delapan orang lain (meninggal) di tiga distrik di Sindh,” kata Sekretaris Kesehatan provinsi Saeed Mangnejo kepada kantor berita AFP.

Dia mengatakan, pemerintah provinsi telah memberlakukan keadaan darurat di semua rumah sakit, membatalkan cuti bagi dokter dan staf medis lainnya dan meningkatkan stok obat-obatan, Al Jazeera yang dikutip Mi’raj Islamic News Agency (MINA).

Kota terbesar di Pakistan, Karachi, mengalami suhu setinggi 45 derajat Celsius pada Sabtu, mendekati suhu tertinggi dalam sejarah negara itu, yaitu 47 derajat Celsius pada Juni 1979.

Baca Juga:  Kelompok HAM: China Hapus Istilah Agama dan Budaya Uighur

Dr Seemin Jamali, Kepala Departemen Darurat di Rumah Sakit Jinnah milik pemerintah mengatakan, lebih 100 orang telah meninggal di rumah sakit.

“Mereka semua meninggal karena stroke panas,” katanya.

Jamali mengatakan, sejumlah besar yang meninggal adalah orang tua.

Para pejabat mengatakan, semua kematian telah terjadi sejak Sabtu malam.

Departemen Meteorologi Pakistan mengatakan, suhu kemungkinan akan mereda dalam beberapa hari mendatang, tetapi dokter telah menyarankan menghindari sinar matahari dan mengenakan pakaian katun ringan.

Kondisi suhu tinggi menjadi lebih buruk oleh seringnya pemadaman listrik, memicu protes di beberapa bagian Karachi, sebuah kota luas dengan 20 juta penduduk.

Pemadaman listrik pada gilirannya melumpuhkan sistem penyediaan air di Karachi, menghambat pemompaan jutaan galon air untuk konsumen.

Baca Juga:  Kelompok HAM: China Hapus Istilah Agama dan Budaya Uighur

Perdana Menteri Nawaz Sharif telah memperingatkan perusahaan pasokan listrik bahwa ia tidak akan mentolerir pemadaman listrik selama bulan puasa Ramadhan, seorang pejabat di kantor Perdana Menteri mengatakan.

Universitas Karachi dalam sebuah pernyataan mengatakan, mereka telah menunda ujian setidaknya satu bulan lamanya karena cuaca ekstrim. (T/P001/R02)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Wartawan: Rudi Hendrik

Editor: Bahron Ansori

Comments: 0