Jakarta, 11 Rajab 1435/10 Mei 2014 (MINA) – Kementerian Agama terus menggemakan Gerakan “Masyarakat Mahgrib Mengaji” atau yang kemudian disebut dengan GEMMAR sejak setahun terakhir ini.
‘Sejak dulu, masyarakat kita sudah terbiasa memanfaatkan waktu antara Magrib dan Isya untuk belajar Al-Quran dan lainnya. Sayang, tradisi ini kian meredup, tergantikan oleh kemajuan teknologi informasi, baik online maupun elektronik, kata Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar ketika ditemui di ruang kerjanya, Jakarta, Jumat (9/5) siang.
“Jadi magrib mengaji itu sebenarnya untuk menghidupkan tradisi luhur bangsa Indonesia. Bagi umat Islam Indonesia, antara magrib dan isya adalah religious time, waktu-waktu khusus untuk beragama yang baik, “ujar Nasaruddin Umar.
Namun sekarang ini, Justru banyak anak-anak tergoda oleh program televisi. Mereka menjadi lebih banyak menonton, hingga akhirnya tidak ada waktu lagi untuk belajar mengaji,”
Baca Juga: Pengadilan Brasil Terbitkan Surat Penangkapan Seorang Tentara Israel atas Kejahatan Perang di Gaza
“Dulu, itu sudah menjadi tradisi masyarakat Indonesia, mengaji antara Magrib dan Isya,” tambahnya.
Kementerian Agama ingin menghidupkan kembali masjid dan mushalla di Indonesia dengan kegiatan mengaji sehingga kembali dipadati anak-anak. “Tentu bukan hanya mengaji, tapi juga bagaimana mengajar anak-anak berwudhu dan praktek sholat,” jelas Nasaruddin Umar.
Wamenag berharap, GEMMAR bisa menjadi kegiatan pembinaan moralitas anak, karena pembinaan karakter paling ideal dilakukan di sore hari hingga malam hari.
“Saya berharap ke depan, kegiatan mahgrib mengaji bisa hidup kembali. Tujuannya antara lain untuk menanamkan rasa keagamaan dan religiosity dalam jiwa anak-anak sehingga saat remaja dan dewasa, mereka bisa menjadi manusia yang dapat mengontrol diri dan lingkungannya karena benih-benih keagamaan masuk di dalam batinnya,” harapnya.
Baca Juga: Tim SAR dan UAR Berhasil Evakuasi Jenazah Korban Longsor Sukabumi
Ditambahkan Rektor Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran ini, program mengaji bukan berarti hanya mengaji saja, tapi ada praktik salat jamaah Magrib dan Isya bersama orang tua dan guru.
Dengan demikian akan terbentuk rasa kebersamaan. Magrib mengaji juga menjadi sarana bersosialisasi. “Magrib mengaji akan mengkondisikan anak-anak berinteraksi dengan lingkungannya di masjid adan mushalla,” jelas Nasaruddin Umar. (L/P012/EO2)
Mi’raj Islamic News Agency (MINA)
Baca Juga: BKSAP DPR Gelar Kegiatan Solidaritas Parlemen untuk Palestina