Gencatan Senjata Hamas-Israel Akhiri Kebuntuan Politik Netanyahu

Perang Hamas-Israel yang berlangsung 11 hari berakhir dengan kesepakatan gencatan senjata tanpa syarat yang berhasil dimediasi oleh Mesir.

Oleh:Rifa Berliana Arifin, Kepala Redaksi Arab MINA

Perang Hamas-Israel yang berlangsung 11 hari berakhir dengan kesepakatan gencatan senjata tanpa syarat yang berhasil dimediasi oleh Mesir.

Meski belum genap sehari dari kesepakatan itu, Israel kembali membuat ulah menembakan gas air mata di plataran Masjid Al-Aqsa.

Sebetulnya, gencatan senjata Israel-Hamas kali ini bukanlah pertama kali terjadi, dan sepertinya tidak ada menjadi yang terakhir.

Kalau dilihat eskalasi perang sebelumnya ditemukan bahwa sejak tahun 2006 hampir setiap saban tahun terjadi saling balas serangan antara Israel dan Gaza, selanjutnya gencatan senjata dan kembali lagi serangan, semacam ada siklusnya tersendiri.

Puncak siklusnya adalah di tahun 2006 di mana terjadi perpecahan di tubuh Palestina (Fatah-Hamas) yang membuat pemerintahan Palestina terbelah dua, Gaza di bawah kendali Hamas dan Tepi Barat di bawah kendali Fatah.

Hamas memiliki prinsip berbeda dengan Fatah, Hamas menolak konsep solusi dua negara, ia melihat Israel tidak memiliki hak apapun di Tanah Palestina, jadi cita-citanya adalah bagaimana membuat Israel “Tamat” karena eksistensinya di Tanah Palestina adalah ancaman.

Di tahun 2006 juga Israel berperang melawan Hizbullah di Libanon, ketakutannya makin menjadi jika Iran berhasil menggunakan Hizbullah untuk mengancam Israel di utara dan Hamas di selatan.

Akhirnya Israel melakukan agresi dan serangan bertubi-tubi atas Gaza, beberapa operasi Israel terhadap Gaza diantaranya; Operation Summer Rains pada Juni 2006, Operation Autumn Clouds pada Oktober 2006), Operation Hot Winter pada Februari 2008, Operation Cast Lead pada Desember 2008, hingga Operation Protective Edge yang berlangsung dua bulan pada Juli-Agustus 2014.

Operation Protective Edge 2014 adalah agresi yang paling berat dan sadis, lebih dari 2000 korban syahid di Gaza akibat insiden ini.

Perang tersebut berhenti dengan gencatan senjata yang diupayakan oleh Mesir, Mesir memiliki hubungan diplomatik dengan Palestina – Israel, sehingga bisa menjadi mediator. Konflik itu mereda berkat Mesir.

Seorang pakar filsafat militer dunia barat Carl von Clausewitz mengatakan, “War is the continuation of politics” yang berarti perang adalah keberlangsungan dari politik, maka jika kita ingin memahami mengapa Israel-Palestina kembali memanas, perlu sekali kita paham dinamika politik di Israel terlebih di Palestina sendiri.

Masalah Netanyahu

Benjamin Netanyahu sedang berupaya menghalang terbentuknya pemerintahan baru Israel yang berpotensi bahaya karena bisa jadi yang Israel yang baru (tanpa dia) merubah dasar kebijakan terhadap Palestina.

Partai-partai sayap kiri Israel yang tadinya menjadi oposisi Netanyahu mendukung terwujudnya solusi dua negara, padahal Likud sendiri menentang solusi itu, Likud di bawah Netanyahu menganggap seantero Palestina adalah milik mereka, tidak ada kompromi dengan Palestina.

Maka strategi Netanyahu adalah membuat konflik bertujuan untuk memperlihatkan pada internal Israel bahwa sekarang bukan waktu yang tepat untuk berdamai dengan Palestina. Hamas masih menjadi ancaman berbahaya dan hanya dia yang bisa menangani Hamas.

Momen ini menjadi peluang emas bagi Netanyahu untuk menggempur Hamas dan memborbardir infrastrukturnya, ia mengerti kali ini Iran dan Hizbullah akan absen karena kesibukan keduanya menanggapi Amerika Serikat tentang perundingan nuklir.

Tapi bagi Hamas, konfik kali ini adalah peluang untuk memperlihatkan kredibilitasnya sebagai pejuang kebebasan Palestina. Terlebih kekecewaan Hamas pada Fatah karena menunda pemilu raya Palestina yang seharusnya diselenggarakan pada bulan Mei ini.

So, Hamas selangkah maju dengan pendekatan proaktifnya dibandingkan Fatah yang pasif. Dan untuk pertama kalinya kita lihat opini umum internasional berpihak pada Palestina, negara-negara yang menormalisasi hubungan diplomatiknya dengan Israel mengecam agresi yang dilakukan negara bintang david tersebut ke wilayah Gaza. Ini merupakan momentum bagi Hamas untuk menguatkan imej.

Dalam teori perang, begitu kita sudah mencapai tujuan kita, kita harus berhenti secepat mungkin, jika tidak semakin banyak hambatan, semakin sedikit hasil dan akhirnya menjadi “backfire” yakni bumerang bagi kita sendiri.

Hamas kali ini hanya ingin memberikan peringatan keras pada Israel, karena politiknya dalam menjarah Sheikh Jarrah dan menganggu warga Palestina di Masjid Al-Aqsa tidak kunjung berhenti. Hamas lebih dulu mencapai tujuannya. Kalau kita lihat tanggal 12 Mei lalu, Pejabat senior Hamas sudah memberikan isyarat pada Rusia bahwa mereka bersedia untuk gencatan senjata.

Tapi saat itu, Netanyahu belum sampai dengan tujuannya. Ia masih ingin melarutkan konflik, dan benar konflik antara Yahudi dan Arab Israel pecah. Proses pembentuukan pemerintah baru Israel gagal karena agresi Netanyahu terhadap Gaza, dan lagi, Netanyahu menyeret Amerika Serikat untuk memberikan dukungan moral bagi Israel. Meski Joe Biden awalnya bersikap gengsi.

Saat ini warga Israel puas dengan tindakan Netanyahu meski beresiko tinggi tapi kerusakan dan skandal korupsi Netanyahu belum membuka mata warga Israel untuk membenci Netanyahu.

Masalahnya, jika Netanyahu tidak dilengserkan, ia bisa membuat pemilu raya Israel kelima untuk menyelesaikan kebuntuan politiknya dan mengekalkan kekuasaannya.

Apabila itu terjadi, maka sebenarnya kita harus siap dengan konflik-konflik yang ia akan buat seterusnya di masa yang akan datang. (A/RA-1/P2)

Miraj News Agency (MINA)