GeNose Alat Pendeteksi Covid-19 Karya Anak Bangsa Akurat, Cepat, dan Murah

(Foto: Istimewa)

Jakarta, MINA – Alat pendeteksi Covid-19 melalui hembusan nafas, GeNose terus gencar diperkenalkan ke masyarakat.

Harga alat buatan anak bangsa tersebut lebih murah dibandingkan alat testing lainnya.

“Kini GeNose menjadi alat skrining Covid-19 yang paling simpel, akurat, cepat, dan murah,” kata Project Leader GeNose dari SAN-CITRA, dr. Mohammad Isnaini M.Kes, di sela-sela kegiatan donor darah karyawan PT Heburinas Nusantara (PT HBN) di Jakarta, Selasa (13/3).

Kegiatan donor darah ini merupakan bakti sosial karyawan PT HBN, pimpinan Dewi Smaragdina SE. M.Sc, untuk menyumbang darah bagi masyarakat yang membutuhkan.

Lebih lanjut Isnaini mengatakan, tes GeNose sangat dibutuhkan untuk memutus rantai penyebaran Covid-19, karena GeNose mampu mendeteksi lebih awal, yaitu hari kedua, penularan virus Covid-19 kepada seseorang.

GeNose C19 adalah alat yang meniru cara kerja hidung manusia dengan memanfaatkan sistem penginderaan (larik sensor gas) dan kecerdasan buatan (Artificial intelligence) dalam membedakan pola senyawa yang dideteksi.

Keunggulan produk GeNose C19 dibandingkan dengan rapid test dan swab test/PCR yaitu cepat diketahui hasilnya, hanya memerlukan waktu selama kurang lebih tiga menit, tidak perlu reagen serta bahan kimia lainnya, dapat terhubung ke cloud system (IoT) sehingga dapat diakses secara online, dan murah biaya tesnya.

Petugas medis sedang menjalankan alat pendeteksi Covid-19 GeNose.(Foto:Istimewa)

Dibanding dengan tes Covid-19 lainnya, deteksi GeNose C19 memiliki tingkat akurasi sebesar 93-95% dengan tingkat sensitivitas 89-92%, spesifisitas 95-96%, dengan positive predictive value (PPV) 87-88% dan negative predictive value (NPV) 97%.

Nilai sensitifitas, spesifisitas, PPV dan NPV diperoleh melalui uji klinis/diagnostik tiga tahap yang melibatkan subyek dari rawat inap (tahap 1), rawat jalan (tahap 2; pasien terduga COVID-19 dan kontak erat), dan skrining bebas (tahap 3: pasien tanpa gejala) dengan dibandingkan langsung terhadap pemeriksaan tes swab berbasis RT-PCR.

“Tes ini dengan sensitivitas 96%, spesivitas 93%, dan dengan harga yang sangat terjangkau,” ujarnya.

Isnaini menambahkan, kegiatan masyarakat di perkantoran, hotel, sekolah, pesantren, kantor pemerintahan pusat dan daerah, akan dapat aktif lagi 100%, dengan terlebih dahulu melalukan skrining Genose.

“Dengan melakukan skrining lebih dari 83%, maka pencegahan wabah covid dapat dilakukan dengan lebih cepat,” imbuhnya.

Oleh karena itu Dewi Smaragdina, SE, MSc, sebagai Direktur Utama PT. HBN tidak ragu menggunakan tes GeNose di kantornya, karena memang alat ini telah mendapat ijin edar dari Kemenkes RI.

Melihat kebutuhannya yang sangat tinggi oleh semua lapisan masyarakat, tes GeNose bisa jadi akan menjadi gaya hidup masyarakat, sehingga bepergian ke manapun tidak akan ragu, karena tes GeNose ada di mana-mana.

Identifikasi virus Covid-19 menggunakan GeNose C19 juga cukup mudah. GeNose C19 mendeteksi corona dengan cara mendeteksi Volatile Organic Compound (VOC). VOC ini dideteksi melalui hembusan napas.

Jadi, masyarakat yang akan diperiksa, akan diminta mengembuskan napas ke tabung khusus. Sensor di dalam tabung ini lah yang akan mendeteksi VOC.

Hasilnya, dalam waktu sekitar dua menit GeNose C19 bisa mendeteksi apakah orang yang diperiksa positif Covid-19 atau tidak.

“Begitu praktis, hanya dengan meniup kantung kantung udara, kita dapat mengetahui, potensi masyarakat terjangkit Covid-19 atau tidak,” pungkasnya.

Alat pendeteksi Covid-19 GeNose C19 juga mulai digunakan di layanan publik dan lembaga pemerintah.

Saat ini GeNose sudah digunakan di 23 stasiun kereta api, bertambah dari sebelumnya yang hanya 14 stasiun kereta jarak jauh.

Soal tarif, GeNose C19 paling murah dibanding alat tes corona yang lain. Pada masa pre-launching biaya tes menggunakan GeNose C19 hanya Rp20.000.

Mulai hari ini, Sabtu, 20 Maret 2021 biaya pengujian corona menggunakan GeNose C19 di seluruh stasiun kereta api menjadi Rp30.000.

Karya Anak Bangsa

GeNose ini dulunya sebenarnya bernama e-nose atau hidung elektronik yang ditemukan sejak tahun 2010 oleh dua ilmuwan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Pada mulanya, alat ini digunakan untuk mendeteksi orang yang terkena penyakit TBC. Pada waktu itu, pasien TBC baru mengetahui terkena TBC ketika kondisinya sudah parah dan berbahaya.

Alat ini hadir untuk mengantisipasi dari awal sehingga TBC tidak parah. Berhubung pada tahun 2020 ada Covid-19, maka kemudian alat ini dimanfaatkan untuk mendeteksi adanya Covid-19.

GeNose telah menjalani uji klinis di 10 rumah sakit di Indonesia dan sudah memperoleh izin edar dari Kemenkes.

Seiring semakin meningkatnya permintaan alat GeNose C19 di masyarakat, pemerintah meminta UGM untuk meningkatkan fasilitas produksi dan kualitas dari GeNose C19.

Diharapkan UGM mampu meningkatkan produksi hingga 10-15 ribu per bulan pada Juni-Juli mendatang.

Hingga saat ini UGM terus mengupayakan percepatan produksi GeNose C19, percepatan ini tidak terlepas dari dukungan pemerintah yang mendorong hilirisasi dan promosi hasil riset anak bangsa secara masif.

Sebelumnya GeNose sudah mendistribusikan 3 ribu unit GeNose per bulan ke berbagai daerah di Indonesia.

Alat yang digunakan untuk skrining Covid-19 ini akan ditempatkan di fasilitas pelayanan kesehatan, instansi pemerintahan, institusi pendidikan, perusahaan, serta beberapa fasilitas umum lainnya.(L/R1/P1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)