Gerakan Literasi SMP Negeri 267 Jakarta

Jakarta, MINA – Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 267 Jakarta menyelenggarakan Gerakan Literasi Sekolah pada Selasa (3/12) dengan acara utama Seminar Gerakan Literasi bertajuk “Cross Cultural Understanding of Iran-Indonesia (Pemahaman Lintas Budaya Iran-Indonesia).”

Seminar tersebut menghadirkan pembicara Wakil Duta Besar (Dubes) Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mr. Mahdi Rougnah dan Ms. Nia S. Amira (Konsultan Media dan Manajemen Kajian Negara-Negara Islam khususnya negara bekas Uni Soviet).

Acara dihadiri 200-an siswa dan puluhan guru, serta tamu undangan dari mitra sekolah, semarak gerakan literasi menyadarkan akan pentingnya membangun kebiasaan membaca dan menulis di kalangan siswa SMP.

Sebelum diadakan seminar, para siswa SMPN 267 Jakarta menampilkan budaya dan keterampilan mereka di hadapan para tamu dan peserta Gerakan Literasi Sekolah.

Kepala Sekolah SMPN 267 Jakarta Wahyudin, MPd., mengatakan, keberadaan gerakan literasi di lingkungan sekolah diharapkan dapat memudahkan siswa dalam mencari referensi atau rujukan sumber ilmu yang sedang dipelajarinya, dengan demikian siswa dapat mengembangkan wacana serta wawasannya lebih luas lagi.

“Gerakan literasi merupakan gudangnya ilmu dan informasi bacaan, baik yang berkaitan dengan dunia pendidikan maupun pengetahuan umum sehingga kami mendorong peningkatan fasilitas baik sarana dan prasarananya,” kata Wahyudin.

Dia mengatakan, Gerakan Literasi tersebut membuat siswa untuk aktif dalam kegiatan membaca dan menulis. “Siswa bahkan ada yang sudah menyusun buku dan dicetak, serta dipasarkan,” ujarnya.

Pada kesempatan itu Wakil Dubes Republik Islam Iran untuk Indonesia Mr. Mahdi Rougnah menyampaikan sangat mengapreasiasi atas penyambutannya serta pertunjukan dan kreativitas yang dilakukan siswa SMPN 267 Jakarta.

Mr. Rougnah saat menjadi pembicara seminar menjelaskan, Iran sebagai salah satu negara tertua dengan kebudayaan dan peradabannya yang telah berkembang sejak 7000 tahun lalu.

“Sejarah sudah membuktikan bahwa manusia telah mendapat manfaat dari budaya satu dengan budaya lainnya, begitu juuga budaya dan peradaban suatu bangsa tidak akan mencapai suatu keberhasilan dan kesuksesan jika tidak melakukan kerjasama dan hubungan yang erat dengan bangsa lainnya,” ujarnya.

Dia juga menjelaskan, mengenai pendidikan di Iran mepunyai jenjang pendidikan pra sekolah 1 tahun, pendidikan dasar 5 tahun, pendidikan menengah dasar 3 tahun, pendidikan menengah atas 3 tahun.

(Foto: Rana/MINA)

Pendidikan menengah atas terbagi atas jurusan akademik, Jurusan teknik dan pendidikan kejuruan, Jurusan kardanesh. Pendidikan di Iran dipegang oleh Kementerian Pendidikan dan Pelatihan.

“Pendidikan Dasar Pendidikan dasar dimulai pada anak berumur enam tahun dan berlangsung selama lima tahun dan kemudian diikuti dengan bimbingan atau orientasi selama tiga tahun. Pendidikan orientasi dimaksudkan bagi anak-anak yang bercita-cita untuk melanjutkan pendidikannya di masa depan atau mencari pekerjaan,” jelasnya.

Nia S Amira, seorang penulis, penyair, dan juga seorang jurnalis menyampaikan pesan kepada siswa bahwa melek literasi itu penting. Pada kesmepatan itu, dia meyampaikan referensi mengenai Tahun Baru Iran yang dikenal dengan Novruz.

Dia menjelaskan, Novruz merupakan festival Persia kuno yang bertepatan dengan hari pertama musim semi.

“Novruz juga dikenal sebagai tahun baru di Iran yang jatuh setiap tanggal 21 Maret berdasarkan kalender Persia, dan telah menjadi tradisi turun-temurun sejak 3 ribu tahun lalu,” jelas Amira saat menyampaikan materinya pada Seminar Gerakan Literasi.

Dia mengatakan, kawasan negara-negara Persia yang memberlakukan perhitungan kalender Persia ini antara lain Afganistan, Azerbaijan, Iran, Kazakstan, Pakistan, Turki, dan Uzbekistan.

Kegiatan perayaan itu sangat kental dengan budaya negara-negara tersebut. Seni dan makanan khas negara-negara tadi menjadi atraksi utama di ajang tersebut.

Pada tahun 2009, Novruz menyandang Warisan Budaya Tak Benda dari UNESCO karena perayaan ini merupakan salah satu festival tertua milik bangsa Persia. Selebrasinya telah dilakukan turun-temurun selama 3.000 tahun. Maka, setiap 21 Maret, Novruz dirayakan di berbagai negara karena sudah menjadi Hari Internasional.

Beberapa ilmuwan bahkan menuturkan, Novruz sudah berusia 7.000 tahun. Bukan hanya negara-negara Asia Tengah namun juga Eropa Timur, Timur Tengah, dan Asia Selatan.

Salah seorang peserta siswa SMPN 267 Jakarta Hafiz mengatakan, dengan diadakannya gerakan literasi ini dirinya mendapatkan banyak wawasan dan pemahaman tentang budaya dan pendidikan di negara Iran.

“Saya merasakan termotivasi untuk banyak-banyak mendalami

Sementara Kepala Seksi Pendidikan Dasar (DIKDAS) dan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK) Suku Dinas (Sudin) Pendidikan Wilayah I Kota Administratif Jakarta Selatan, Iskandar, juga sangat mengapresiasi kegiatan literasi di lingkungan sekolah SMPN 267 Jakarta.

Program literasi di lingkungan Dinas Pendidikan Provinsi DKI ini merupakan inisiatif dari pengawas Suku Dinas (Sudin) Pendidikan Wilayah I Kota Administratif Jakarta Selatan, Dr. Ester Ekarista Sinambela, M.Pd., yang difasilitasi oleh Nia S. Amira dengan tujuan untuk memberi wawasan internasional kepada sekolah-sekolah menengah yang ada di lingkungan pengawasan Dr Ester Sinambela.

Gerakan Literasi Sekolah ini merupakan upaya menyeluruh yang melibatkan semua warga sekolah baik guru, peserta didik, orang tua/wali murid, dan masyarakat, sebagai bagian dari ekosistem pendidikan sehingga membutuhkan dukungan kolaboratif berbagai elemen.(L/R01/P2)

 

Mi’raj News Agency (MINA)