Gerakan Makan dari Terdekat (Locavore) dan Berbagi Makanan Lebih (BeraMaL)

Jakarta, MINA – Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Majelis Ulama Indonesia (Lembaga PLH & SDA MUI) tengah menggencarkan sosialisasi gerakan Makan dari Terdekat (Locavore) dan Berbagi Makanan Lebih (BeraMaL).

Ketua Lembaga PLH & SDA MUI, Dr. Ir. H. Hayu S. Prabowo menjelaskan kedua gerakan tersebut memiliki dampak signifikan pada pengurangan sampah makanan untuk perbaikan lingkungan hidup dan perubahan iklim guna kelangsungan kehidupan manusia masa depan.

“Gerakan Locavore dan BeraMal ini merupakan bagian dari program masjid ramah lingkungan atau ecoMasjid oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Dewan Masjid Indonesia (DMI),” jelas Hayu kepada MINA saat kegiatan¬† sosialisasi Locavore di Kantor Lembaga PLH & SDA MUI Jakarta, Rabu (25/9).

Acara bertajuk “Locavore: Ikhtiar Kurangi Sampah Makanan” dengan konsep pertemuan Makan siang tentang makanan lokal dan pengurangan limbah makanan dihadiri mahasiswa universitas Islam Jakarta.

Gerakan Makan dari Terdekat (Locavore) merujuk pada istilah jaman now untuk mereka yang mengonsumsi  bahan-bahan lokal. Locavore telah menjadi gerakan dunia. Istilah ini mengikuti istilah Carnivore adalah pemakan daging; herbivore adalah pemakan tumbuhan; omnivore adalah pemakan segala.

“Dalam sebuah hadits dapat dimengerti lebih luas bahwa kita perlu memakan dari apa yang tersedia di sekitar kita. Karena perilaku ini akan meningkatkan Ketahanan Pangan masyarakat dengan memangkas jalur distribusi pangan.

Dia mengatakan, dengan menghindari makanan impor dan memakan makanan lokal akan mengurangi dampak buruk sampah dari kerusakan pangan, packing dan re-packing serta dan penggunaan energi untuk penyimpanan dan berbagai moda transportasi untuk distribusi.

“Locavore juga dapat memperkuat ekonomi lokal. Pengeluaran uang Anda dengan petani lokal akan langsung menggiatkan ekonomi lokal karena petani tersebut belanja persediaan dari usaha lokal lainnya,” ujar Hayu.

Sementara BeraMaL merupakan sebuah gerakan sosial berbasis masjid dengan tujuan mengurangi pemborosan makanan sekaligus mengurangi sampah dan memberikan bantuan makanan kepada orang-orang yang membutuhkan.

“Ini juga dapat mempererat hubungan sosial kemasyarakatan dan pemberdayaan masyarakat,” ujarnya.

Menurut laporan the Economist bahwa Indonesia membuang makanan 300 kg/tahun/orang (peringkat kedua dunia) sementara 19 juta penduduknya kelaparan. Ironisnya, menurut laporan Global Hunger Index (Indeks Kelaparan Global) 2018, Indonesia menderita tingkat kelaparan serius dengan skor 21,9 yang merupakan peringkat ke 73 dari 119 negara.

Gerakan BeraMal ini diinisiasi sebagaimana dalam hadits bahwa setiap butir makanan membawa berkah dan kita tidak boleh menyia-nyiakan makanan karena perbuatan mubazir adalah perbuatan setan.

“Dengan membuang makanan maka kita membuang segala keberkahan yang diberikan Allah kepada kita,” imbuh Hayu.

Gerakan BeraMal sudah digelar pertama kalinya di Masjid Burj Al-Bakrie Jakarta dengan mengumpulkan makanan berlebih dari donatur sekitar masjid dan disalurkan kepada kepada orang-orang yang membutuhkan di sekitar masjid. Gerakan ini sudah digelar sejak satu bulan lalu setiap hari Jumat.

Hayu mengharapkan kegiatan Locavore dan BeraMal ini dapat dilaksanakan di masjid-masjid seluruh Indonesia. Masjid menjadi pusat gerakan kemanusiaan, khususnya dalam menghadapi dampak kerusakan lingkungan hidup dan perubahan iklim.(L/R01/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)