Gerakan Subuh Agung Yang Menggetarkan Israel

Oleh : Ali Farkhan Tsani, Redaktur Senior Kantor Berita MINA

Kampanye masif shalat Subuh berjamaah tiap Jumat pagi bertema “Subuh Agung” (al-Fajr al-‘Adzim) telah menjadi tren perlawanan baru Palestina menghadapi pendudukan Israel.

Sebuah pilihan Arab dan dunia Islam terkini dalam mendukung Masjid Al-Aqsa yang diberkati dan Yerusalem yang diduduki Israel.

Respon luar biasa warga Palestina dari kaum Muslimin, tua dan muda, laki-laki dan perempuan, dari berbagai kalangan, adalah bukti kegagalan pendudukan Israel dalam menjaga jalan-jalan Palestina, terutama menuju Yerusalem dan Masjid Al-Aqsa.

Puluhan ribu jamaah shalat Subuh Jumat pagi, dalam beberapa pekan terakhir membludak di masjid-masjid bukan hanya di Masjidil Aqsa, Masjid Ibrahimi, di Tepi Barat, serta masjid-masjid di Jalur Gaza. Namun juga di masjid-masjid utama di Yordania, Turki dan Malaysia, untuk mendukung Yerusalem dan Al-Aqsa.

Sebuah gerakan massal menekan pendudukan Israel yang  beresonansi luas di Palestina khususnya serta dunia Arab dan Islam umumnya.

Interaksi hebat umat Islam yang meluas itu tak lain adalah perasaan senasib-sepenanggungan umat Islam terhadap nasib saudaranya di tanah jajahan. Lebih khusus lagi mengingat Masjid Al-Aqsa berada dalam bahaya di tengah upaya pendudukan dan pemukim Yahudi ekstrem yang terus berusaha untuk menghancurkannya dan membangun klaim sinagog di reruntuhannya nanti.

Bagi orang-orang beriman, tentu ini menunjukkan bahwa umat Islam menganggap setiap penargetan Masjidil Al-Aqsa, masjid ketiga terpenting di dunia Islam, setelah Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid An-Nabawi di Madinah, adalah penargetan keimanan kaum Muslimin seluruhnya.

Kampanye Subuh Agung mengiringi pengumuman sepihak rancangan perdamaian Deal of Century (Kesepakatan Abad Ini) versi Presiden AS Donald Trump bersama PM Israel Benyamin Netanyahu.

Ketakutan Israel

Seperti diinformasikan Kantor Berita MINA, berdasarkan laporan Al-Quds Online, puluhan ribu kaum Muslimin memadati Masjidil Aqsa di Kota Tua Yerusalem, Masjid Ibrahimi di Hebron, dan masjid-masid lainnya di Tepi Barat dan Jalur Gaza, pada shalat subuh Jumat (14/2/2020).

Jamaah berpartisipasi luas dan menegaskan pembelaannya terhadap Masjidil Al-Aqsa melawan pendudukan Israel di pemukiman dan tempat-tempat suci.

Otoritas Israel mengerahkan pasukan mereka di Yerusalem dan membatasi jamaah untuk memasuki kawasan masjid.

Warga setelah shalat Subuh berjamaah langsung berbaur di tengah masyarakat, ramai sekali, sehingga tampak seperti festival nasional atau suasana Idul Fitri.

Dewan Masjid aktif mendistribusikan makanan ringan dan minuman hangat untuk jamaah, dalam cuaca dingin.

Gelombang manusia juga berkumpul di Masjid Agung Nablus, dan jamaah meneriakan berkali-kali kalimat takbir “Allahuakbar”.

Inisiatif warga juga terlihat di restoran-restoran yang mengumumkan sarapan pagi secara gratis dan minuman panas. Sementara para pemuda bertanggung jawab mengatur kerumunan dan mengatur kendaraan untuk menghindari kemacetan.

Warga juga menyumbang untuk menyediakan transportasi bagi jamaah ke dan dari masjid bagi mereka yang tidak memiliki transportasi.

Para imam masjid pada kuliah Subuhnya menyampaikan pidato yang mendesak umat Islam untuk melakukan upaya mempertahankan Masjidil Aqsa dan Yerusalem, dan untuk mencari akses ke masjid dalam menghadapi pendudukan dan pemukimnya.

Sementara itu, pasukan keamanan Israel yang terpaksa begadang sejak dinihari hingga pagi hari, kewalahan menghadapu gelombang manusia yang silih berganti melewati jalan-jalan di Yerusalem.

Satu jalan dijaga, warga memasuki jalan lainnya. Akses menuju Al-Aqsa dibatasi. Jamaah menuju Masjid Ibrahimi, yang dipagar dua bagian, satu bagian untuk shalat kaum Muslimin. Satu bagian lagi diklaim sebagai ritual Yahudi ekstrem.

Kampanye efektif  Subuh Agung menunjukkan kesadaran dan kekuatan negara-negara Arab dan Islam.

Menurut pengamat Timur Tengah, Dr. Salah Hamida, gerakan massal Subuh berjamaah tiap Jumat pagi telah mengkhawatirkan pasukan pendudukan.

Hal ini tampak dari kebingungan pasukan keamanan menghadapi gelombang puluhan ribu manusia yang merengsek ke masjid-masjid utama di Palestina. Tak peduli pukulan dan tendangan, popor bedil, semprotan gas air mata, hingga tembakan senjata berpeluru karet.

Semua tindakan represif itu tidak menyurutkan langkah kaki dan tidak mengerdilkan nyali warga untuk menuju shalat Subuh berjamaah bersama imam shalat mereka. Bahkan ada rasa nikmat kebahagiaan manakala dapat bersinggungan kontak fisik secara langsung dengan pasukan Israel.

Jika ada darah yang mengucur, maka itu akan menjadi saksi perjuangan mereka. Jika ada yang terguling,  jatuh tersungkur, itu terasa seperti sedang bermain-main saja. Tetap tersenyum dan malah tertawa.

Bahkan jika ada pemuda ataupun anak-anak yang syahid menemui ajalnya, warga lainnya berteriak “Allahu Akbar…!,” membahana menyambut sang syuhada.

“Ini gila, cari mati… !” Begitu kira-kira pasukan penjajahan Israel bergumam.

Dalam analisis pengamat Palestina, Dr. Sari Orabi, menganggap kampanye Subuh Agung  sebagai bentuk perjuangan Palestina terkini yang terus meluas.

Ini bagai “pemulihan nilai-nilai spiritual, moral dan kesatuan sosial, yang mutlak diperlukan untuk meningkatkan kesatuan masyarakat dalam tantangan ekonomi dan politik yang menimpanya,” ujarnya.

Orabi menilai, kampanye Subuh Agung berkontribusi untuk mengembalikan nilai-nilai perjuangan, dan memulihkan peran masjid dalam mengumpulkan orang-orang sebagai langkah untuk menggagalkan rencana pendudukan Israel.

Perluasan Kampanye

Perluasan kampanye kreatif ke negara-negara Arab, seperti ke Negara tetangga Yordania, menunjukkan bahwa orang-orang Arab masih terkait dengan Masjidil Aqsa dan Yerusalem.

Sungguh gerakan itu telah sanggup menekan tanpa senjata ke pasukan Israel. Bagi penduduk Yahudi Israel sendiri menganggap derap kaki puluhan ribu jamaah shalat Subuh itu telah menjadi sumber ketidaknyamanan hidup mereka.

Gerakan serupa akan semakin meluas resonansinya manakala juga dilakukan oleh seluruh komunitas di dunia Arab, Islam dan negeri-negeri berpenduduk Muslim termasuk Indonesia.

Bukan hanya karena solidaritas terhadap perjuangan Al-Aqsa dan Palestina.

Namun karena memang Subuh berjamaah di masjid marupakan kewajiban utama umat Islam, terutama kaum laki-lakinya, bukan hanya pada hari Jumat. Namun pada seluruh harinya, mengawali aktivitas dan perjuangan dengan shalat Subuh berjamaah di masjid-masjid Allah, di manapun berada.

Secara psikologis, gerakan ini akan semakin menohok ke jantung ketakutan Israel. Sebab para pimpinan mereka sudah lama memiliki mitos, bahwa “Kita tidak akan takut terhadap orang Islam kecuali jika mereka mampu menunaikan shalat Subuh bersama di masjid sebagaimana banyaknya mereka menunaikan shalat Jumat.” Allahu Akbar ! (A/RS2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)