Great Return March, Anak Muda Palestina Tidak Akan Lupa

Protes Jumat 30 Maret 2018 di dekat perbatasan Gaza Israel. (Foto: Ahmed Alnaoq/The New Arab)

Setelah pembantaian berdarah Great Return March di Gaza yang menewaskan 19 orang Palestina, melukai lebih dari 1.500 orang, pada 30/3 lalu, pertanyaan yang sekarang menggantung di udara adalah “Apa sekarang?”

Akankah para pengunjuk rasa mengemasi tenda-tenda mereka dan mundur ke tempat penampungan kecil rumah mereka? Atau apakah mereka akan bertahan dalam rencana mereka untuk berdemonstrasi di sepanjang perbatasan dengan Israel sampai 15 Mei?

Tanggal 15 Mei adalah ulang tahun Nakbah, hari ketika banyak keluarga warga Gaza dipaksa pergi dari tanah airnya oleh militer pendudukan, untuk membuat jalan bagi pembentukan “Israel”.

Massa yang diperkirakan sekitar 60.000 pada Jumat 30 Maret 2018, tidak lagi ada di sana.

Hari Jumat, secara tradisional adalah hari protes bagi warga Palestina, karena mereka harus berjuang untuk mencari nafkah selama sepekan. Tetapi jika keluarga dan individu yang tinggal di tenda-tenda protes untuk “mempertahankan garis” mewakili, maka Great Return March masih jauh dari selesai.

“Kebijakan Israel untuk menghancurkan identitas kami diringkas dalam sebuah pernyataan dari David Ben-Gurion, Perdana Menteri Israel yang pertama: ‘Yang tua akan mati dan yang muda akan lupa.’ Tetapi kami di sini untuk mengatakan bahwa yang lama mungkin telah meninggal, tetapi yang muda tidak melupakan,” kata Mohammed Madi, seorang pengacara yang bertahan di salah satu tenda dekat perbatasan dengan Israel.

Di sebelah Timur lingkungan Al-Shujeya, para pengunjuk rasa – meskipun jumlahnya jauh lebih sedikit daripada hari-hari peluncuran – berkumpul di antara perbatasan berpagar dan barisan rumah pertama di Jalur Gaza.
Antara pedagang kacang dan demonstran

Sekitar 500 meter (sepertiga mil) ke arah dalam Gaza, terlihat para pedagang yang bekerja dengan gerobak penuh kacang dan permen, termasuk mobil van menjajakan buah dan jus kepada orang yang lewat di lokasi demonstrasi.

Sementara di tengah-tengah mereka, ambulans dan perawat mencoba menyelamatkan nyawa para pria muda yang ditembak oleh penembak jitu Israel.

Tidak terlalu jauh di depan sana, ke arah pagar perbatasan, massa pengunjuk rasa mengangkat bendera Palestina. Mereka meneriakkan kebebasan dan hak mereka untuk kembali ke tanah air mereka. Hidup dan tawa bercampur dengan rasa sakit dan air mata.

Di hari kedua Great Return March. Seluruh keluarga Palestina berbaris beberapa ratus meter dari pagar perbatasan. Di deretan tenda, masing-masing diberi label dengan nama sebuah kota dari Palestina bersejarah, yang sekarang menjadi Israel.

 

Mengingatkan anak Palestina

Keluarga Mohamed Madi bertahan di tenda dekat perbatasan Gaza-Israel. (Foto: Ahmed Alnaoq/The New Arab)

Salah satu tenda dihiasi bendera Palestina dan Aljazair. Tenda itu milik keluarga Mohammed Madi.

“Saya seorang warga negara ganda, dengan dua paspor Palestina dan Aljazair. Saya mengangkat bendera Aljazair sebagai simbol kebebasan, karena itu adalah negara sejuta syuhada, dalam perjuangan untuk mengakhiri penjajahan Perancis. Tetapi saya memilih untuk tinggal di tanah air asli saya dan berjuang untuk itu, karena Palestina membutuhkan pembela hak asasi manusia yang sejati. Ini adalah masalah kebenaran bahwa semua orang yang tertindas akan dibebaskan satu hari nanti,” ujar Madi (47).

Bersama dengan istri dan ketiga anaknya, Madi mendirikan tenda keluarganya dua hari sebelum demonstrasi dimulai. Selama demonstrasi, ia membuka tenda bagi para pengunjung, mendorong mereka untuk terus memprotes.

Bagi Madi, keberhasilan Great Return March tidak akan diukur dalam hal berapa banyak yang cedera, atau apakah komunitas internasional benar-benar mencoba memaksa Israel untuk mengizinkan orang Palestina kembali setelah 70 tahun. Hanya sedikit orang Palestina yang memiliki ilusi tentang hal itu.

Sebaliknya, katanya, pawai ini dimaksudkan untuk menjaga nyala perlawanan di antara para pemuda yang tumbuh dewasa tanpa mengetahui apa pun, kecuali blokade dan pendudukan. Tidak heran jika Madi, yang keluarganya awalnya tinggal di Bait Jerja, sekarang Israel, turut membawa serta putrinya yang berusia enam tahun ke medan protes.

“Siapa pun yang melihat wajah-wajah massa di sini, akan melihat bahwa bahkan anak-anak muda kita tidak akan pernah melupakan tanah air mereka,” kata Madi yang telah dipenjara oleh Israel empat kali selama dua tahun kumulatif. Dia berencana untuk tetap berdemonstrasi setiap hari hingga 15 Mei 2018.

Yusra berusia 35 tahun pun bercerita. Dia berasal dari Bait Dras, dekat Ashdod (sekarang Israel).

“Orang tua saya memberi tahu saya setiap hari tentang rumah kami di Bait Dras. Kami memiliki sekitar 50 pertanian di sana, semua ditanam dengan buah,” katanya seraya bernostalgia.

“Beberapa orang berpikir kami telah melupakan tanah kami. Kami tidak pernah dan tidak akan. Saya berpartisipasi dalam pawai ini, dan saya akan tetap berpartisipasi sampai hari terakhir. Saya merasa lebih terhubung dengan tanah jika saya semakin dekat ke pagar perbatasan,” tambahnya.

Yusra tidak ingin berbagi nama belakangnya, karena kekhawatiran bahwa Israel dapat menghentikannya dari bepergian. Namun ia mengatakan kepada The New Arab bahwa dia datang ke protes tersebut bersama putranya yang berusia 13 tahun untuk mengingatkan dia tentang haknya untuk pulang.

“Ibu menulis sebuah buku tentang kota aslinya. Dia menggambarkan semua yang ada di sana. Semakin saya membacanya, semakin saya terikat dengan tanah kami dan semakin saya bertekad untuk berdemonstrasi di sini,” kata putra Yusra. Dua kakak laki-lakinya adalah yang paling dekat dengan pagar perbatasan.

Meskipun pasukan Israel menggunakan segala cara yang mungkin untuk membubarkan para demonstran, mulai dari bom gas air mata hingga amunisi hidup dan drone, tidak satu pun dari mereka yang diwawancarai mengatakan, mereka akan tinggal di rumah. Bahkan, banyak, seperti Yusra, ada di sana bersama anak-anak mereka.

“Saya datang bersama keluarga saya sendiri, tidak ada yang memaksa saya,” kata Amna Abdel Al, berusia sembilan tahun. Ketika kakaknya bertanya apakah dia takut, dia segera menjawab bahwa dia tidak takut.

“Saya datang ke sini karena saya ingin melindungi tanah kami,” katanya dengan nada menantang. (AT/RI-1/P1)

Sumber: tulisan Ahmed Alnaouq di The New Arab. Ia adalah manajer proyek “We Are Not Numbers” di Gaza, Palestina.

Mi’raj News Agency (MINA)